Insan Kamil

Prof. Dr. Nasarudin Umar

Dewan Penasehat ICMI Pusat

 Apa yang dimasud insan kamil? Dalam bahasa Al Qur’an, manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluk biologis disebut Al Basyar. Kapasitas manusia sebagai makhluk sosial disebut An Nas. Kapasitas manusia sebagai makhluk biologis utama disebut Bani Adam. Al Qur’an menyebutkan insan itu kapasitas manusia separuh unsur gaib dan unsur syahadah. Karena itu manusia secara wujud disebut insan kamil. Karena separuh wujudnya masuk kategori alam syahadah dan separuh lagi gaib.

Hand Made-nya Allah

Syahadah ada dua macam. Syahadah artinya nyata. Ada alam nyata mutlak, seperti mineral, tanah, dsb. Kita berasal dari tanah. Ada lagi yang di atasnya sedikit, yaitu tumbuh-tumbuhan, hewan, dsb. Juga ada unsur gaibnya karena kita ada roh. Bahkan dalam Al Qur’an disebutkan, roh manusia adalah hand-made (buah tangan) Allah Swt: Aku ciptakan manusia melalui buahtanganku. Apa maksudnya? Manusia disebut insan kamil karena dia menghimpun seluruh jenis-jenis makhluk yang ada; unsur tanah, unsur tumbuh-tumbuhan (dari kecil tumbuh menjadi besar), unsur hewan dan unsur gaib (roh).

Makanya manusia disebut micro cosmos, karena ia miniatur alam raya. Alam raya bersimpul pada manusia. Itulah sebabnya manusia disebut khalifah. Karena yang mampu merepresentasikan Allah dalam satu hal hanya manusia. Tidak mungkin makhluk-makhluk lainnya. Hanya manusia yang bersifat fluktuatif (turun-naik martabatnya). Bisa naik sampai puncak sidratul muntaha (ahsani takwim). Tapi bisa juga sampai anjlok ke bawah (asfala safilin). Malaikat tidak mungkin turun menjadi manusia. Binatang pun tidak mungkin naik menjadi manusia.

Keunikan berikutnya, manusia diciptakan berdasarkan apa maunya Penciptanya. Perwujudan manusia untuk mengaktualisasikan seluruh asma dan sifat Allah Swt.  Allah disebut Yang Disembah karena ada penyembahnya. Allah disebut Rabb karena adalah hambanya, Allah disebut Ilahun karena ada makhluknya. Allah disebut Al Khaliq karena ada yang diciptakan. Tidak mungkin menjadi  Maha Pemberi (Al Wahab) tanpa ada yang diberi. Tidak mungkin Allah disebut Ar Rahman Ar Rahim tanpa ada yang dikasihi dan disayangi. Maka untuk mewujudkan kesempurnaan Allah, diciptakanlah manusia.

Satu contoh lagi, mengenai ‘dosa’. Salahsatu sifat Allah dalam Asma ul Husna adalah Maha Pengampun. Allah Maha Pemaaf, Allah Maha Penerima Taubat. Apakah bisa disebut Allah itu Al Ghafur kalau tidak ada yang berdosa? Malaikat tidak mungkin  bisa mengejewantahkan sifat Al Ghafur-nya Allah, karena malaikat tidak pernah berdosa. Sama juga dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Apakah sifat Maha Penerima Taubat (At tawwab) bisa terwujud tanpa ada manusia? Makannya Jalalludin Rumi mengatakan: ‘Seandainya manusia seperti malaikat semua,  pasti Tuhan akan menciptakan jenis manusia lain yang pendosa’. Tanpa pendosa tidak sempurna sifat dan Asma Allah Swt. Sampai di sini bisa kita pahami, dosa bagi manusia adalah manusiawi. Bulan suci Ramadan dipersiapkan khusus untuk manusia sebagai bulan pengampunan agar manusia bisa kembali seperti asal usul penciptanya yaitu: bersih.

Potensi dan Aktual

Manusia tidak mungkin bisa mencapai puncak tertinggi tanpa menjalani institusi pertobatan. Insan kamil ada dua macam: potensi dan aktual. Nabi Muhammad Saw sampai ke puncak karena Insan Kamil bukan hanya dari segi potensi juga aktual. Kalau ingin seperti Rasulullah Saw, kita tidak hanya jadi insan kamil secara potensial tapi juga aktual. Jadi tidak ada yang namanya ‘binatang berzina’. Hanya manusia yang bisa disebut berzina. Karena manusia punya dua hukum (hukum alam dan syariah) untuk dipersiapkan sebagai Khalifatul ard. Makhluk alam yang lain hanya punya satu hukum (hukum kauniyah).

Makanya manusia yang paling terakhir diciptakan. Begitu Allah akan menciptakan manusia, ada interupsi dari malaikat. Kenapa Engkau akan menciptakan manusia? bukankah manusia nanti akan melahirkan pertumpahan darah dan merusak lingkungan alam. Dijawab Allah; Aku lebih tahu daripada kalian. JawabanItu pertanda Allah menegur malaikat. Selama 40 hari lamanya malaikat berputar/ tawaf minta ampun sambil menangis mengelilingi Arsy. Hari ke 41 baru dibuatkan miniatur Arsy yang disebut Baitul Makmur. Di situ diciptakan manusia; Adam dan Hawa. Begitu Adam melakukan pelanggaran di surga dan dibuang ke bumi, yang paling pertama diminta Adam bukan pakaian atau makanan dan minuman, tapi rumah pertobatan seperti yang pernah dilakukan malaikat. Maka itu diperintahkan malaikat untuk membangun rumah pertobatan/ ibadah.

Ka’bah itu adalah bangunan pertama di muka bumi ini sebagai minatur Baitul Makmur. Di situ Adam dan Hawa berputar seperti yang dilakukan para malaikat. Maka itu Ka’bah sekarang ini pusat gravitasi spiritual yang tidak pernah berhenti dikitari manusia termasuk pada waktu Nabi Nuh tenggelam. Dalam riwayat disebutkan Nabi Nuh berputar memakai perahu di atas Ka’bah. Saat tsunaminya reda dan muncul Ka’bah, kemudian beliau bertawaf. Jadi Ka’bah merupakan pusat gravitasi spiritual. Secara spiritual bisa dibahasakan daya sedot Ka’bah luar biasa. Ibarat turbin berputar dan lahirnya listrik. Spiritual pun harus punya gravitasi. Maka itu, kata Rasulullah, shalat Ied di depan Ka’bah adalah seratusribu lebih utama daripada shalat di manapun.

Bulan suci Ramadan adalah bulan untuk melakukan revisi terhadap perjalanan hidup kita. Kita tahu unsur kita ada mineralnya. Contoh kecil diberikan Allah, sama-sama mineral: ada batu mulia dan batu kasar. Timbangannya sama besar. Batu yang dipakai melempar mangga tidak ada harganya. Tapi batu yang seberat itu bisa sangat mahal. Ini pertanda untuk menjadi batu mulia harus digosok dan dipecah, dibakar, dibanting dsb untuk menjadi logam mulia meninggalkan logam biasa. Untuk menjadi manusia paripurna (insan kamil) harus ditempa melalui puasa. Karena itu bulan puasa disebut bulan Ramadan/ menghanguskan; membakar seluruh dosa masa lampau. Ramadan adalah proses meng-upgrade diri kita dari  hanya insan kamil secara potensi menjadi insan kamil aktual. Sekaligus dengan demikian sempurnalah kita sebagi makluk kekasih Allah, kalau sudah menjalankan puasa dan betul-betul berhasil sebagai la allakum tattaqun. Semoga kita hari demi hari meng-upgrade diri menjadi insan kamil, manusia paripurna dan sangat dinantikan bangsa dan agama kita

Tausiyah Sitarling di Kediaman Bapak Drs. Priyo Budi Santoso (8/8/11)

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s