Ahlak

Prof.  Dr. M. Quraish Shihab, MA.

Anggota Dewan Penasehat ICMI Pusat

 Kita tidak boleh memisahkan antara ibadah dan ahlak. Memang demikianlah adanya ajaran Islam. Bahkan kalau kita mau lebih rinci lagi, kita bisa berkata sebagaimana sabda Rasulullah; Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan ahlak.

 Ahlak dalam pandangan Islam berbeda dengan etika dan moral. Ahlak bentuk jamak dari huluq; kondisi kejiwaan yang menjadikan seseorang mampu melakukan aktifitas dengan mudah  bahkan spontan. Ada ahlak kepada Allah, itulah ibadah. Ada ahlak sesama manusia, itulah etika atau moral. Ada ahlak kepada lingkungan, binatang, tumbuh-tumbuhan, dsb. Itu semua termasuk kesatuan ajaran Islam.

Ketika Malaikat Jibril datang mengajarkan agama melalui pertanyaan-pertanyaanya kepada nabi Muhammad. Beliau pertamakali menanyakan apa itu iman. Maka dijelaskanlah 6 rukun iman. Apa itu Islam? Dijelaskanlah 5 rukun Islam. Kemudian apa itu ihsan? Dijelaskanlah ihsan itu beribadah seakan engkau melihat Tuhan dan kalau tidak maka engkau menanamkan dalam jiwamu bahwa Tuhan melihatmu. Itu ahlak kepada Allah. Sedang ahlak kepada manusia adalah melihat sosok orang lain sebagai sosok anda. Dengan demikian misalnya, kalau ada orang yang lapar, maka seorang yang memiliki makanan melihat orang yang lapar itu adalah dirinya.  Dengan demikian dia memberikan kepada yang lapar itu makanan yang tadinya ditujukan untuk dirinya.

Sekali lagi saya ingin menegaskan, iman dalam hati itulah yang dinamai Akidah. Syariah adalah pengamalan sehari-hari.  Sedang Ahlak adalah yang menghiasi hidup seorang muslim. Ketiganya menyatu dalam diri seorang muslim. Kalau lebih merinci lagi, kita berbeda dengan binatang. Binatang diarahkan nalurinya untuk makan dan minum tanpa mengolahnya dan ditentukan waktu-waktu naluri seksualnya. Kita manusia makan tapi diarahkan bukan saja oleh akal tapi selera dan rasa. Rasa itulah ahlak.

Memang bisa jadi dari segi Syariah dibenarkan seorang memaki orang yang memakinya. Tapi dari segi ahlak itu tidak dibenarkan. Dari segi ahlak dikatakan; maafkanlah. Ucapkanlah kepada seorang yang memakinya; kalau makian Anda benar saya bermohon Tuhan mengampuniku. Kalau makian Anda salah, saya bermohon semoga Tuhan mengampunimu. Jadi ahlak memberi lebih banyak dari apa yang mesti Anda beri, dan menuntut lebih sedikit dari apa yang mesti Anda tuntut.Ahlak itu lebih tinggi kedudukannya dari adil karena adil menuntut semua hak anda dan memberi semua kewajiban Anda.

Suara Karya/ Hedi Suryono

Islam Padukan Akal dan Rasa

Islam melihat manusia –manusia bukan hanya pada sosok jasmaninya tapi melihat manusia diciptakan dari debu tanah yang menghasilkan jasmani juga diciptakan dari roh ilahi yang menghasilkan akal dan rasa. Itu harus berpadu. Saya teringat pernah mendengar Pak Habibie berbicara tentang nilai tambah. Saya beri contoh; gitar terbuat dari kayu, besi dan senar. Kalau mau memberikannya nilai tambah, bahan-bahan dari gitar ini diolah dengan akal Anda sehingga dia menjadi gitar. Tapi itu belum cukup. Anda harus menggunakan rasa ketika memetiknya sehingga menghasilkan nada yang dapat mengharukan dan menggembiraan.

Dalam konteks kesatuan ini, Al Quran mengatakan, kalau Anda melihat gunung-gunung tentu melihat dengan mata dan kepala, Anda akan melihat di sebagian gunung itu ada garis-garis putih, garis hitam pekat dan garis kemerah-merahan. Kalau hanya berhenti di sana tidak cukup. Karena itu baru kerja mata. Anda harus menggunakan akal untuk menganalisis mengapa warnaya putih, merah dan kehitam-hitaman. Di situ akan ditemukan itu adalah tanda-tanda tentang tambang-tambang yang ada di gunung itu. Tapi tidak boleh berhenti di sana. Harus lahir rasa kagum yang menjadikan Anda paling tidak berucap “Maha Suci Allah”.

Kalau kita bicara dalam konteks 100 hari kepergian Ibu Ainun. Orang  boleh jadi berkata, rasanya baru kemarinRasanya masih terngiang-ngiang suaranya. Sikap orang Timur memang seringkali sangat menonjolkan rasa berbeda dengan orang Barat. Sampai kita biasa berkata, saya rasa begini,.. Kalau orang Barat berkata, I think so, … (Saya pikir begitu). Kita berbeda dengan orang Barat. Tapi maaf Pak Habibie, sebelum Ibu Ainun wafat, banyak orang menduga Bapak sangat mengandalkan rasio. Tapi setelah mereka melihat  Bapak menangis, orang berkata Pak Habibie bukan hanya orang Barat tapi beliau adalah perpaduan dari Timur dan Barat. Islam memang mengajarkan agar seseorang memadukan antara jasmani dan rohani serta rasa dan akal.

Konon Dzulqarnain berusaha mempertemukan antara Barat dan Timur. Dia berjalan sampai ke Amazon (Barat) dan dia berjalan juga ke Timur, oleh sementara pakar di Mesir dikatakan sampai ke Halmahera. Dalam konteks mempersatukan antara Timur dengan Barat. Tapi tidak berhasil. Neo Platonisme juga berusaha memadukan antara TImur dan Barat. Kemudian Islam datang mempersatukan antara Timur dan Barat. Antara pemikiran Timur yang sering hanya mengandalkan rasa dengan pemikiran Barat yang seringkali hanya mengandalkan rasio.

Orang Barat jika melihat bunga  mawar, dia akan lihat mawar itu warnanya merah tapi tidak luput dari penglihatannya duri-durinya untuk kemudian dianalisis satu persatu. Orang Timur dan orang-orang sufi tidak melihat durinya, tapi dia merasakan keindahannya. Keduanya kurang. Ini harus terpadu. Itulah ajaran Islam.

Karena itu Islam mengajarkan; cobalah pertemukan rasio dengan rasio, itulah musyawarah. Pertemukanlah rasa dengan rasa, itulah cinta. Ketika saya berhadapan dengan satu cermin di depan saya, saya hanya melihat satu sosok. Tapi kalau saya meletakkan cermin di belakang saya, bukan satu sosok yang saya lihat tapi banyak. Ketika saya merasakan cinta, segalanya saya lihat indah tapi ketika saya memperrtemukan cinta saya dengan cinta yang lain, apapun terlihat, karena cinta itu adalah dialog antara dua insan dan lebih. Ini yang diajarkan Islam.

Harus Dikendalikan

Tapi Islam menggarisbawahi, harus ada pengendalian. Rasa  dan akal harus dikendalikan. Ada batas-batas di mana akal tidak dapat melampauinya. Jangan melewati itu. Jangan bertanya bagaimana Tuhan. Jangan bertanya bagaimana keadaan atau jangan gunakan akal untuk mencari jawaban tentang metafisika. Karena akal harus dikendalikan.

Rasa juga begitu, harus dikendalikan., karena itu Rasulullah bersabda;  cintailah kekasihmu secara wajar saja, siapa tahu suatu ketika ia menjadi seterumu. dan bencilah seterumu secara wajar juga, siapa tahu suatu saat ia menjadi kekasihmu”. Kalau kita memperturutkan rasa, penjara akan tertutup. Tapi harus dikendalikan. Akal sekaligus rasa harus diterapkan. Sehingga waktu menjatuhkan hukuman tidak berlebihan  dan dalam saat yang sama, rasa tidak menjadikan seseorang mengabaikan hukuman yang mesti dijatuhkan kepada seseorang. Itu perpaduan antara rasa dan akal.

Perpaduan ini kemudian melahirkan aktifitas terhadap benda-benda. Kalau saya memegang gelas tanpa akal, saya akan lemparkan. Kalau saya mempunyai baju tanpa rasa cinta kepada baju, saya akan memakai seenaknya. Pakailah baju tapi gunakan akal  dan rasa ketika memakainya. Makin peka perasaan, makin tinggi ahlak. Makin tidak peka perasaan, makin buruk ahlak. Itu sebabnya kita di Indonesia sering berkata kepada orang-orang yang tidak bermoral: dia tidak punya perasaan.

 Dari Tausiyah Ramadan saat Berbuka Puasa  dan Tarawih ICMI di Kediaman Prof Dr. -Ing BJ. HABIBIE & Memperingati 100 hari Wafat Ibu Hasri Ainun Habibie (28/ 08/ 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s