Tiap Amal Tergantung Niat

Prof. Dr. KH. Miftah Faridl

Dewan Pakar ICMI Pusat, anggota bidang Agama, Budaya

dan Pengembangan Karakter Bangsa

 

Bahasan tentang niat dibahas dalam ushul fikih. Kalau dalam fikih kita sering mendengar niat sebagai rukun pertama dari ibadah kita. Rukun pertama shalat shaum adalah niat. Ada niat dalam kajian hukum fikih. niat sering menentukan prinsip-prinsip ijtihad,. Yaitu motivasi sesuatu menentukan status hukum, bisa wajib sampai haram tergantung niat. Sesuatu urusan yang status hukum tidak diatur Al Qur an dan sunah, hukumnya bisa berkembang.

Niat’ Menentukan Hukum

 Ada seorang sahabat yang menanyakan kepada Nabi tentang urusan dunia. (bukan urusan ibadah ma’ dhoh atau ritual) Nabi menyatakan; kalau ingin tahu hukumnya, tanya saja hati kecilmu. Sesuatu yang tidak diatur Al Qur an dan sunah, banyak ditentukan faktor niat. Atas dasar prinsip ini pula beberapa immatul mazhaib menjadikan salahsatu metode ijtihad tentang istihsan dan mashalih mursalah..Mana yang maslahat Itu faktor niat. Tentu hal-hal yang tidak dilarang agama. Kalau sesuatu yang sudah dilarang agama, tidak berubah karena niat karena Islam tidak mengenal tujuan menghalalkan cara. Jadi kalau haram tetap haram. Ada yang disebut mudarat, seperti ayat tentang haramnya babi, bangkai dan yang dipotong bukan atas nama Allah. Tapi kalau mudarat terpaksa maka hukum berubah dari haram menjadi boleh. Rasulullah bersabda; Kalau aku perntahkan kalian melakukan sesuatu, lakukan semampu kamu, kalau sudah tidak mampu, bukan tanggungjawab kamu. Tapi mudarat karena dalam situasi tertentu/ terpaksa tidak boleh selamanya.

Harap Hanya Ridha Allah

Niat dalam arti motivasi beramal; bukan menyangkut keabsahan tapi berpahala atau tidak. Ada orang yang mengharap pujian manusia (riya). Rasulullah mengatakan; Ada sesuatu yang paling aku takutkan di antara sekian yang aku takuti. Yaitu musyrik kecil. Musrik samar-samar. Apa itu musyrik samar-samar? Nabi menjawab; riya. Al Qur ‘an banyak menyebutkan amal sadaqah seseorang menjadi hilang pahalanya akibat riya, diiringi caci maki dan diceritakan kembali. Kedua, ada yang melaksanakan sesuatu karena target dunia. Dia rajin shalat malam karena ingin mendapatkan sesuatu. Biasanya ibadah yang seperti ini berakhir karena target sudah tercapai. Ada lagi orang yang melaksanakan ibadah, targetnya tidak dunia tapi akhirat. Ia ingin surga takut neraka.

Rabiah al Adawiyah menyatakan ingin ‘membakar’ surga dan neraka karena gemas melihat orang banyak ibadahnya tidak pada Allah Swt tapi kepada mahlukNYA; menyembah menginginkan surga bukan ridha Allah. Dia mengatakan; Tuhan seandainya saya menyembah karena saya mengharap mendapatkan surga ya haramkan surga itu untukku. Kalau saya menyembahMU karena takut masuk neraka. Masukkan saya ke dalam neraka. Saya menyembahMU karena cinta.

 Rasa Malu 

Amalan-amalan manusia ada yang nampaknya ukhrawi tapi sebetulnya duniawi, ada yang kelihatannya duniawi tapi sebetulnya akhirat. Contohnya, mungkin orang menyampaikan nasehat-nasehat dakwah sarat dengan Al Qur an. Tapi sebetulnya tidak dapat akhirat karena tidak ikhlas.  Tapi ada orang yang kelihatannya duniawi. Dia mungkin membangun jembatan atau menanam pohon, tapi niatnya ikhlas. Kelihatannya duniawi tapi sebetulnya ukhrawi. Bagaimana kita menempatkan semua langkah kita adalah dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT?  Titik berangkatnya sukarela ,dasarnya iman dan prosesnya harus sesuai ajaran dan titik tujunya mardhatillah.

Ada satu kisah tentang seorang budak yang menolak diberi uang banyak oleh Umar bin Khattab karena akan mengambil seekor kambing majikannya. Dia lepaskan uang itu dan budak itu memukul sang Khalifah mengatakan; Malu kepada Allah! Malu kepada Allah!  Apa jawaban Umar? Saya bahagia. Saya rebahkan badan saya. Saya sujud. Ya Allah saya bahagia. Rakyat saya miskin tapi jujur. Rakyat saya bodoh tapi jujur. Rakyat saya tidak tahu perkembangan tapi saya bahagia. Dia jujur tidak mau mengambil hak orang lain. Karena malu kepadaMU. Pertanyaan Umar; adakah Tuhan di akhir jaman hamba-hambaMU yang memiliki kejujuran seperti ini? Yang tidak mau mengambil hak orang lain ketika peluang terbuka karena malu kepadaMU. Jawabannya harus ada dimulai dari ICMI!

Tausiyah Sitarling di Kediaman Ir. Hatta Rajasa (01/ 09/ 10)


 

 


 

 


*) dari transkrip tausiyah menjelang berbukapuasa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s