Islam dan Lingkungan Hidup

Azyumardi Azra

Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMi Pusat

 Kita memang patut bersyukur. Kalau tidak, maka kita termasuk kufur nikmat. Indonesia adalah sebuah negeri yang mendapat rahmat Allah yang luar biasa. Tidak ada negeri yang sehijau dan sekaya Indonesia sumber daya alamnya. Kalu kita terbang naik haji atau umroh, begitu lepas dari ujung  pulau Sumatera, masih ada hutan, sampai ke Jeddah hutannya hampir tidak ada. Kalaupun ada hutan di Arafah sekarang itu berkat Diknas Pertamanan DKI yang dulu menanam di sana.

 

Paradigma Tauhidi

Kalau kita bandingkan dengan hutan di Korea Selatan, hijaunya paling saat musim semi sampai musim gugur. Setelah masuk musim dingin hutannya tinggal kayu-kayu meranggas kecuali pinus. Di Skandinavia dan Frankfurt. Hutannya hijau hanya selama 8-9 bulan. Kalau di Indonesia hutan hijau sepanjang tahun. Bahkan kalau tongkat kayu kita lempar jadi tanaman, begitu kata sebuah lagu. Itu baru dari sudut sumber daya alam. Belum lagi dari Sumber Daya Manusia (SDM). Jadi luar biasa potensi kita. Makanya kita harus banyak bersyukur dan berterimakasih kepada Allah atas negara dan bangsa ini.

Alhamdulillah ICMI bisa berdiri paling depan dalam hal ini. sekarang persoalannya kalau bicara konservasi hutan. Tidak ada agama lain kecuali Islam yang paling lengkap dalam ajaran mengenai lingkungan hidup. Karena dalam proses Islam di lingkungan hidup itu beranjak dari paradigma tauhidi; menyatu. Manusia menyatu dengan lingkungannya. Tauhid bukan hanya artinya mengesakan Allah tapi juga komprehensif. Kita tidak bisa hidup sendiri. Kita punya kaitan dengan tumbuh-tumbuhan, hewan, mahluk ciptaan Allah yang mati (tanah, batubara), dsb. Hubungannya harmonis. Begitu kita tidak bersifat tauhidi, maka rusak semua.

Pangeran Charles dalam kunjungannya ke Indonesia menyatakan kekagumannya kepada konsep Islam mengenai  enviromental protection. Bahwa kita tidak bisa mencabut rumput atau pohon semaunya. Bahkan jangankan menebang, buang air besar saja di pohon tidak boleh karena mungkin di situ ada makhluk hidup. Hanya pangeran Charles juga bilang kenapa ya justru lingkungan hidup di dunia muslim paling rusak, kotor, dan hutannya ditebang sembarangan? Saya bilang; sebabnya bukan hanya pendidikan, mungkin ada fator kemiskinan. Atau mungkin juga kita belum mengejawantahkan keimanan kita dalam perilaku aktual sehari-hari. Kita mungkin hanya berislam dan beriman ketika di masjid dan ketika bulan puasa. Tapi begitu kita sampai keluar tidak berperilaku seperti umat muslim lagi. Tupai-tupai di Manhatan Ne York, bebas berkeliaran tidak ada yang menganggu. Pun kita perlu burung untuk memakan hama di pohon. Tiap binatang ada fungsinya masing-masing untuk menjaga keseimbangan. Jadi ada mekanisme alam mengapa kita tidak boleh membunu sembarangan.

Adalah tugas kita ke depan termasuk setelah bulan puasa ini kita diharapkan menjadi orang yang bertakwa. Orang yang terpelihara di dunia  cara berpikir, perilaku, dsb. Itu tidak berhenti hanya di masa Ramadan tapi tidak kurang penting di masa pasca Ramadan dan Idul Fitri. Bagaimana merealisasikan nilai-nilai ibadah puasa. Antara lain; disiplin waktu, amanah, jujur, dsb. Apakah nilai-nilai tersebut bisa kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Aktualkan Nilai-Nilai Islami

Disiplin, misalnya di jalan raya kita jangan main serobot. Kita lihat sehari-hari memang begitu. Kalau kita tanya mungkin hampir bisa dipastikan yang menyerobot itu sebagian besar orang Islam. Karena  88,sekian persen penduduk orang Islam. Jadi yang buang sampah dari mobil Mercy, BMW, dsb saya lihat sebagian besar orang Islam. Jadi bisa bilang begitu sebab orang Islam sekarang sudah banyak yang kaya. Kelas menengah sudah bisa membeli ini dan itu karena pekerjaannya yang sudah mapan. Mobilnya bagus tapi buang sampah ke jalan. Padahal dia tahu kebersihan itu bagian dari iman.

Jadi keislaman kita jangan berhenti di masjid waktu shalat atau di waktu bulan puasa. Tapi begitu kita keluar dari ruangan ini, nanti di jalan raya jadi disiplin. Di kantor pun disiplin, amanah, jujur, dsb. Kalau itu bisa kita lakukan, insya Allah Indonesia betul-betul akan menjadi negara besar. Karena potensi yang dimiliki. Saya yakin orang Indonesia pintar-pintar. Saya pernah ke Parlemen eropa, Juni lalu memberikan ceramah, ada anggota parlemen Eropa bertanya; Kok Indonesia makin tidak toleran, dengan adanya kasus Cikeusik, dsb.

Saya jawab, coba Anda letakkan peta Indonesia d atas peta Eropa, dari Merauke sampai Sabang itu sama dengan dari Istambul sampai London. Ada berapa negara? Kalau antara Merauke sampai Sabang, paling hanya ada enam negara; Indoensia, Timor Leste, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura dan Malaysia. Tapi coba lihat dari Istambul sampai London ada berapa negara? Puluhan. Bahakan ada beberapa negara yang muncul karena sikap intoleran. Munculnya Bosnia Herzegiovina, Montenegro, dan Kosovo, karena sikap intoleran bahkan ethnic cleansing/ religious cleansing. Mana yang tidak lebih toleran.

Jadi jangan sembarangan Anda menuduh Indonesia tidak toleran. Memang kadang orang orang Barat atau Eropa sukanya mau menggurui, merasa paling hebat sendiri, tidak mau berkaca dengan dirinya. Mau mengajari kita soal HAM, dsb tapi kelakukan mereka sendiri seperti itu. Tapi kalau kita sampaikan dengan aegumen persuasif yang masuk akal mereka terima juga.

Maka tugas kita ke depan menjaga hutan dan lingkungan, bukan hanya tugas menteri kehutanan. Yang merusak hutan itu HPH-HPH bukan rakyat miskin. Sering juga orang mengatakan karena kemiskinan. Orang miskin menebang pohon untuk kayu bakar, dijual, dsb. kalau itu benar maka tugas kita lebih berat lagi. Karena ada problem sturktural yang  menindas, membuat rakyat miskin tidak pernah bisa keluar dari kemiskinannya. Kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat.

Bahkan lembaga-lembaga Islam juga tidak pro rakyat. Bank syariah misalnya tidak mau memberikan modal kepada mbok-mbok bakul. Dan yang dikembalikan juag lebih besar . meskipun tidak disebut interest. Ini tugas kita untuk mengoreksi. Unsur taawun (tolong menolong). Ini persoalan struktural yang belum mewujudkan cita-cita untuk membebaskan kaum miskin yang sebagian besar muslim sekitar 40 jutaan orang. karena dia mau melayani pinjaman yang hanya Rp 50 juta. Bahkan masih meminta colateral sama seperti bank-bank konvensional.

Itulah persoalan-persoalan struktural yang harus diselesaikan baik oleh pemerintah  tentu saja dan kita semua. Lembaga-lembaga Islam yang harus memang diperbaiki arahanya sehingga  kemudain bisa lebih fungsional dalam mengangkat harkat rakyat miskin

Tausiyah Ramadan di kediaman  Wakil ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, Bapak  Ir. Zulkifli Hasan (6/8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s