Hidup

Jangan pernah menduga bahwa  dakwah atau uraian keagamaan harus pakai ayat atau hadis. Apa yang tadi dikemukakan Pak Habibie paling tidak sebagian di antaranya ditemukan dalam uraian ulama-ulama. Bahkan boleh jadi ada yang lebih dari itu. Sekadar contoh, tentang ‘Ada dan tidak ada’. Seperti dikatakan Imam Ghazali demikian juga filosof-filosof Barat, itu hanya bisa dipahami oleh orang yang memadukan akal dan hatinya. Karena akal tidak bisa menghimpun dua hal yang bertentangan dalam saat yang sama. Tapi hati dan iman bisa menghimpun dua hal yang bertentangan dalam saat yang sama.

 

Rasa, Gerak dan Pengetahuan

Ketika kita berkata Allah itu yang pertama, kita juga berkata bahwa Allah adalah yang terakhir (Wal awwal wal akhir). Kita juga mendengar tadi bahwa ada hidup. Ada pertemuan sebelum wujud kita di dunia ini. Ulama-ulama Al Qur’an menggarisbawahi beberapa ayat yang menggambarkan kita semua pernah hidup dalam satu alam, yang boleh jadi sebagian besar di antara manusia sudah melupakan alam itu. Tapi kita pernah ada di sana. Itu sebabnya ada ayat-ayat Al Qur’an yang menggunakan laallakum tadzakkaruun. Supaya kamu mengingat. Apa yang diingat? Yang pernah kita alami di masa lalu.

Ada juga ayat-ayat yang menyatakan kita pernah berada di perahu Nabi Nuh. Jadi berarti pernah kita berada di satu alam, entah dimensinya bagaimana, tapi kita sudah lupakan. Kalau Plato berkata itu alam ide. Tapi kita umat Islam, umat Al Quran berkata: memang itu ada satu alam. Kalau orang merenungkan tentang usianya. Maka sebenarnya kita mengalami lima usia. Pertama, alam sebelum kita tercipta di sini. Kedua, alam duniawi yang dimulai dengan pertemuan sperma dan ovum. Ketiga, alam barzah. Keempat, alam masyar. Kelima, alam sorga dan neraka.

Al Qur’an menggarisbawahi, hidup itu adalah rasa, gerak dan pengetahuan. Makin berkualitas rasanya (kepekaannya), makin banyak pengetahuannya. Makin bebas geraknya makin berkualitas hidupnya. Orang-orang kafir pun yang tidak percaya pada alam yang lalu, setelah mengalami alam kubur itu, berkata;  “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (QS. Ghafir : 11)

Jadi sebenarnya, kalau ilmuwan dengan ulama bertemu itu luarbiasa. Al Qur’an mempunyai empat cara untuk menggugah manusia menjadi baik. Pertama, dan ini yang paling sulit, adalah mempelajari alam raya. Perhatikanlah alam raya. Perhatikanlah bagaimana Tuhan memulai. Bagaimana permulaan penciptaan. Pelajari itu. Kita boleh berkata atas nama ilmu. Tapi ingat, ilmu itu relatif. Hakekat ilmiah adalah kesepakatan para pakar dalam bidangnya pada waktu tertentu. Kalau waktu lain mereka tidak sepakat. Itu sudah bukan hakekat ilmiah lagi. Kita boleh berkata atas nama ilmu, bahwa permulaan penciptaan alam raya ini adalah seperti di ayat mengatakan: tadinya dia satu gumpalan kemudian dipisahkan Tuhan.

dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Anbiya: 30)

Tapi bagaimana cara Allah memisahkannya? Salahsatu jawaban ilmuwan melalui big bang. Tapi bisa saja jawaban lain. Namun kalau kita sudah sepakat bahwa dia tadinya satu gumpalan lantas dipecahkan Tuhan. Agamawan berkata; alangkah anehnya, tabrakan, pecahan yang begitu beraneka ragam besar dan bentuknya bisa begitu serasi  berputar tidak tabrakan? Kalau bohlam ini pecah kita tidak bisa atur pecahannya. Kita tidak bisa atur bagaimana dia tidak bertabrakan lagi. Itu kata filosof muslim. Tapi yang scientist tinjauannya lain lagi; kita hanya berkata bahwa ini membuktikan bahwa ada Pengatur. Dan bahwa Pengatur itu harus satu. Tidak boleh dua. Ilmuwanlah yang paling membutuhkan keyakinan tentang keesaan Tuhan. Karena siapa yang bisa menjamin kalau Tuhan ada dua? Siapa yang bisa menjamin sekarang air mencari tempat yang rendah karena tuhan A menghendakinya, besok tuhan B menghendaki air mencari tempat yang tinggi. Ilmuwan yang membutuhkan kepastian, dan itu hanya dapat diperoleh dengan keyakinan tentang keesaan Tuhan.

Prof. Dr. Quraish Shihab (Dewan Kehormatan ICMI Pusat)

Tausiyah Ramadan di kediaman ketua Dewan kehormatan, Bapak Prof. Dr. -Ing BJ Habibie (15/8/11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s