Kebahagiaan Hidup

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Dewan Pakar ICMI Pusat, Ketua Bidang Agama, Budaya dan Pengembangan Karakter Bangsa,

Seorang ekonom dari LSI, London School of Economic, Richard Layard melakukan riset ekonomi pendekatan kualitatif  bekerjasama dengan psikolog. Apakah tingkat kesejahteraan kemakmuran ekonomi seseorang warga dan bangsa juga punya korelasi posisitf dengan tingkat kebahagiaanya? Kesimpulannya, tidak selalu seorang makin kaya makin bahagia. Tidak selalu orang makin tinggi pangkatnya makin bahagia. Ini diteliti sebelum peristiwa 9/11.

Tujuh Faktor Pengaruh Kebahagiaan

Riset tersebut mengungkapkan, ada 7 faktor yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang (the big 7 factors effecting happines). Pertama, orang akan bahagia ditentukan family relationship. Sekaya ,sepintar dan setinggi apapun jabatan seseorang, kebahagiaanya dipengaruhi bagaimana kehidupan hubungan keluarganya. Kalau dalam Islam, keluarga sakinah mawadah warahmah ini menentukan. Al Qur‘an juga mengatakan, kalau kita ingin terhindar dari api neraka di dunia dan akhirat, binalah keluarga sakinah mawadah warahmah. Siapapun yang punya good family life, alhamdulillah kita syukuri. Karena dari situlah akan melahirkan generasi penerus. Waktu, pikiran dan tenaga paling banyak kita curahkan untuk kehidupan keluarga. Dalam Islam, perjanjian pernikahan disebut perjanjian yang kokoh (mitsaqon gholido). Hanya duakali disebut. Yang pertama,  perjanjian agung/ dahsyat antara Allah dengan para Nabi untuk menerima amanat membimbing umatnya dan satu lagi digunakan untuk perjanjian pernikahan. Makanya rumahtangga dalam Islam itu transaksi dunia dan akhirat.

Kedua, meski satu keluarga saling mencintai, tapi tidak cukup bahagia kalau tidak ada financial situation. Walau saling mencintai tapi ekonominya tidak mapan repot juga. Walau suaminya pintar nyanyi kalau istrinya lapar tidak cukup dinyanyikan. Meski keluarganya pintar ngaji tapi kalau ekonominya tidak cukup, juga tidak bisa diatasi hanya dengan ngaji. Memang uang bukan segala-galanya, tapi kalau tidak ada uang, orang repot segalanya. Alhamdulillah saya berdoa dan yakin kita semua insya Allah ekonominya telah cukup. Persoalannya, mau bersyukur atau tidak.

Ketiga, works (pekerjaan). Orang akan bahagia jika keluarganya baik dan ekonominya cukup. Tapi juga orang itu harus punya pekerjaan yang jelas dan tetap. Orang kalau tidak bekerja, harga dirinya turun. Orang akan bangga ketika ditanya; kerja di mana, Jawabnya jelas.  Uang penting tapi diikuti kerja. Walau banyak uang tapi dia kurang bahagia kalau bukan dari keringat sendiri. Memang orang tua membantu tapi pada akhirnya kita akan bahagia ketika hidup dari karya sendiri. Dan kalau Anda pernah merasakan jadi pengangguran, Anda merasa betul, lama sekali waktu berjalan. Jam itu rasanya berhenti. Kalau Anda capek bekerja, cepat hilang letihnya. Tapi kalau capek menganggur, itu lama sekali. Sekarang kita 5 hari bekerja dan 2 hari libur. Andai disurvei anda pilih mana Kerja 5 hari dan libur 2 hari atau sebaliknya Ternyata orang pilih kerja 5 hari. Sebab andai pilih 5 hari libur, pertanyaannya untuk apa 5 hari? Karena lewat kerja  seseorang mengaktualkan dirinya. Islam pun menganjurkan seperti itu; kerja, kerja, kerja. Hanya saja kerja yang bagus adalah work where you are playing. Di mana engkau bekerja itu ibarat orang bermain.

Coba pemain bola ditanya, anda bekerja, bermain, mencari duit atau menghibur?  Saya bekerja, saya bermain. Saya menghibur orang dan dapat uang. Tapi kalau kita bekerja, begitu masuk ruang kerja tersiksa. Muncul yang namanya alienasi. Seakan masuk ruang tahanan. Makanya kerja yang baik adalah kerja dengan hati, working with heart and patient. Bekerja dengan hati dan antusiasme. Kalau dalam Islam, didasari niat ibadah dan melayani. Jadi kalau kita kerja tidak ada spirit ibadah dan melayani maka kerja itu bisa menyiksa. Contoh, kalau kita masuk jalan tol ada petugas memberi tiket. Coba bayangkan sehari berapa kali tangannya diulurkan. Kalau ditanya kamu mengapa sih tangannya begitu terus? Saya membagi karcis dan uang biar saya dapat gaji. Untuk apa? Ya untuk makan. Setelah itu?  Biar saya tidurnya nyenyak. Kemudian? Biar sehat. Setelah itu? Biar bisa bekerja (menjulurkan tangan) lagi. Itu yang namanya teralienasi. Jadi bekerja dan hidup berubah bagai mesin. Makanya kalau kita ke jalan tol cobalah kita sedekah, sekalikali kasih bunga, senyuman, kue atau ditanya apa kabar. Pasti senang. Bayangkan kalau yang kerja itu anak Anda atau Anda sendiri. Bagaiman rasanya?

Sekadar tips. Ada seorang teman yang mengamalkan ihsan; berbuat lebih dari yang sekadar diminta. Ketika dia masuk jalan tol, dia membayar, kemudian dia tengok ke belakang. Dia minta supaya uang kembalinya dibayarkan mobil di belakangnya. Kemudian ditanya? Siapa mobil di belakang itu?  Terserah siapa saja. Pokoknya orang di sebelah saya tolong dibayarkan dari uang saya. Yang belakangnya bingung; lho saya kok dibayari oleh di depan? Dia mikir apa sebabnya. Rupanya maksud teman saya, ia ingin mengajari orang. Saya membayari orang di belakangnya meski tidak kenal semoga teman saya di belakangnya membayar dibelakangnya lagi. Kalau masing-masing pribadi seperti itu, luar biasa hidup ini dan Rasulllah mengajarkan seperti itu.

Keempat, community and friends. Seseorang akan bahagia ketika dia mempunyai komunitas dan teman yang baik. Termasuk kita di ICMI, dsb. Dalam Islam makanya ada doa; Ya Allah masukkan aku dalam komunitas/ teman-teman yang saleh. Ketika di rumah, aslinya kita sebagai anggota keluarga kelihatan semua. Makanya kita menentukan sumber kebahagiaan. Kita tidak bisa pura-pura di keluarga. Tapi kadang kita juga butuh refreshing bertemu yang lain. Lalu di kantor kita terikat dengan hierarki struktur. Maka itu kita juga butuh teman, bicara dengan tema dan situasi yang lain. Karena itu juga kita sering mengadakan reuni SMP, SMU, Perguruan tinggi, dsb. Saya punya cerita. Ada sebuah keluarga yang ekonominya sudah mapan. Keluarga happy tapi suatu saat dia sadar dan terpukul sekali karena tidak punya saudara. Ketika anaknya meninggal, tetangga-tetangganya tidak ada yang takziyah. Dia baru tahu selama ini hidupnya egois sekali. Ketika diundang kerjabakti dia mengirimkan pembantu, saudara, supir dan uangnya. Rupanya bertetangga itu yang dibutuhkan kebersamaan.

Personal Values

Kelima, health (Kesehatan). Mengapa kesehatan di urutan kelima, mungkin penelitian ini dilakukan untuk orang-orang yang sehat. Keenam, Personal Freedom. Ternyata seseorang itu apapun pangkat dan berapapun kekayaannya membutuhkan harga diri kaitan dengan personal freedom. Ini ternyata esensial. Dan saya ingat doa yang diajarkan Rasulullah; Ya Allah aku mohon perlindungan kepadamu dari terbelit utang. Bayangakan kalau orang itu banyak urusan dengan KPK, debt collector, dsb. Makanya kebahagiaan salahsatunya ada kemerdekaan. Al Qur’an mengatakan; Alladzi at amahum minjui wa amanahum min khauf; rasa aman atas political security and economical security. Kita bersyukur, bahagia kita merdeka semuanya.

Dalam dunia leadership management diungkapakn, anak buah itu perlu didengarkan, butuh berekspresi, dsb. Demokrasi itu salahsatunya memberi luas untuk personal freedom; freedom of speech. Kebebasan ini anugerah Allah yang sangat mulia. Makanya para Founding Fathers rela mengorbankan semuanya untuk mendapatkan kemerdekaan. Itu salahsatu syarat kebahagiaan individu dan bangsa. Kalau family, financial, work, community and friends dan health itu kongkret. Tapi freedom ini abstrak. Makin tinggi peradaban seseorang tuntutan kebahagiaannya makin tinggi yaitu freedom.

Ketujuh, ini pun abstrak; Personal values. Jadi niat dan tujuan berumahtangga tergantung personal value kedua belahpihak. Apakah sekadar transaksional, administratif, duniawi, ataukah ibadah. Ketika seseorang bekerja mencari uang dengan cara apa, untuk apa, halal atau haram, berapa banyak yang dia himpun dan berderma, inilah personal values. Apakah yang dibanggakan itu kepintarannya, atau berapa banyak dari kepintarannya membantu orang, lagi-lagi ini personal values.

Kita bahagia dan bangga Republik ini dibangun Founding Fathers yang terdiri dari orang-orang ber-values mulia sekali. Mereka happy ketika bisa mewakafkan diri, ilmu dan umurnya, untuk kebaikan yang lebih luas yaitu bangsa dan negara. Kita iri dan pantas mengenang nilai-nilai seperti Itu. Mereka bahagia ketika memberi dan berbagi. Tapi sayang, sebagian politisi kita berbahagia ketika mengambil dan menerima. Terjadi distorsi dari happiness yang dulu dimiliki para Pendiri Bangsa ini. Inilah yang harus kita hidupkan kembali. Yaitu value etos berbagi dan memberi.

Dulu banyak tokoh founding fathers yang punya pribadi seperti ini. Nilai-nilai ini yang kita rindukan ada bersemayam  pada kawan-kawan yang sekarang ini bergabung dalam politik maupun birokrasi. Kalau saya bicara Nabi Muhammad terlalu tinggi, makannya saya menyebut tokoh sejarah saja. Orang semacam Gandhi, yang badannya kecil kurus dan berpakaian sederhana, tapi kalau bicara menggetarkan lawan dan rakyat. Luar biasa dampaknya sampai hari ini. Jadi ketika dia bicara menggerakkan orang lain. Karena dia bicara dari hati, dan hati yang suci bersih itu terhubung dengan alam semesta sehingga menggetarkan. Banyak tokoh-tokoh sejarah seperti itu. Karena mereka hidup dengan satu value yang dipegang. Mereka berbahagia ketika memberi bukan menerima.

Dari tausiyah Ramadan di kediaman Wakil Ketua Dewan Pakar, Bapak Ir. Fadel Muhammad (22/ 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s