Memadukan Zakat dan Pajak

Drs. Masdar F. Mas’udi

Dewan Pakar ICMI Pusat Anggota bidang Agama, Budaya dan Pengembangan karakter

Zakat hadir merujuk satu institusi sosial dan kenegaraan yang sangat menentukan dan merupakan darah yang menghidupi negara: pajak. Dalam sejarah, pajak sebagai sumber utama paling dominan keuangan negara. Selama pajak dan zakat masih dipisah, persoalan kemiskinan dan pemerataan tak akan pernah bisa diselesaikan.

Pajak sebagai Zakat

Islam menawarkan konsep pajak sebagai zakat, bukan sebagai upeti maupun jizyah. Pada masa pajak diartikan upeti, yang menikmati uang negara adalah penguasanya. Islam memperbaiki konsep feodalistik, bahwa bumi milik Allah, kalau membayar upeti atau royalti atas rejeki yang manusia terima seharusnya ditujukan kepada Allah. Pada masa pajak diartikan jizyah, yang menikmati uang negara adalah penguasa dan pengusahanya. Islam menawarkan konsep keadilan yaitu pajak sebagai zakat. Ini revolusi pemaknaan yang diberikan Islam kepada negara. Dalam konteks pajak sebagai zakat, negara harus melayani rakyat. Pengertian rakyat di sini adalah yang termasuk 8 asnaf (golongan penerima zakat).

Ketika seseorang membayar pajak sebagai zakat, ada makna spiritualitas dan transendensi. Transendensi ini bisa diakses  siapapun terutama yang beriman, bukan umat Islam saja. Jadi ada iman dalam pembayaran pajak sebagai zakat. Kaum agama lain juga bisa memaknai pajak dalam kerangka iman kalau bisa mentransendensikan makna pajak tadi. Bila konsep zakat ditransedensikan berarti para pengelola pajak harus bertanggung jawab kepada dua otoritas sekaligus: pemerintah dan agama. Bila pajak dimaknai sebagai zakat, pengelola zakat (pemerintah) mengemban dua pertanggungjawaban sekaligus: social and political accountability dan spiritual accountability. Pemerintah tidak bisa main-main lagi dengan uang negara yang berasal dari pajak  Bila penyelewengan uang negara terjadi, mungkin dia bisa lolos dari lembaga peradilan atau akuntan publik. Tapi tidak bisa lolos dari pengadilan Tuhan karena uang negara tadi menjadi hak rakyat.Ini penting untuk melakukan pembongkaran makna uang negara. Uang negara yang didapat dari pajak yang diartikan sebagai zakat merupakan titipan Allah yang harus ditunaikan kepada yang berhak.

Termasuk sasaran zakat yang berupa delapan asnaf dalam al-Qur’an itu juga harus direinterpretasi. Dari delapan asnaf tersebut, yang betul-betul punya hak sebagai mustahiq zakat, bila diurut dari yang paling kecil adalah fakir, miskin, gharim, dan ibnu sabil. Ibnu sabil dalam pengertian sekarang: pengungsi itu sendiri. Di Indonesia ada tiga juta rakyat yang menjadi pengungsi di tanah airnya sendiri. Sementara di sisi lain, pejabatnya seenaknya sendiri menggunakan uang rakyat.

Sebenarnya proses mengIslamkan sudah kita lakukan. Bagaimana tinggal menginternalisir saja. kalau dalam konteks pajak, muaranya pada anggaran belanja negara. Acuan belanja negara itulah sasaran untuk delapan asnaf zakat. Asnaf delapan sebagai acuan public spending. Lima per delapan adalah mustadafin. Pemberdayaan masyarakat menengah ke bawah yang harus menjadi prioritas dan biaya rutin pemerintah. Amilin berhak mendapatkan bagian tapi bukan sebagai pemilik tapi public servant. Fisabilillah kalau fisik contohnya; jembatan, jalan, dsb. kalau non fisik; untuk pertahanan, penegakkan hukum, dsb.

Kalau itu dilakukan, maka kita membayar pajak menjadi ibadah. sehingga Indonesia menjadi negara muslim secara hakiki bukan label semata. Karena negara Islam memang negara keadilan. Kebijakan negara yang terpenting mengacu kepada kemaslahatan publik. Jadi kalau ini kita pakai, bukan hanya menyelesaikan problem dualisme antara agama dan negara tapi dengan cara yang sederhana dan visi jelas, bernegara adalah membangun keadilan dan kesejahteraan bersama. Bayar pajak itu tindakan bernegara  yang paling berdampak. Tapi kita selama ini membiarkannya tanpa ruh dan spirit. Islam sudah mengajarkannya. Kalau ini bisa kita bangun bersama dan mulai dari indonesia, kita boleh menjadi pemimpin dunia Islam.

Tausiyah Sitarling di Kediaman Muhammad Nuh (02/ 09/ 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s