Pemimpin Yang Adil

Bahtiar Nasir

Dewan Pakar ICMI Pusat Bidang Peningkatan Kualitas dan Integritas Kader

Satu hari Rasulullah Saw mengeluarkan sebuah karung berisi gandum. Ketika dibuka di hadapan para sahabat, gandum itu besar-besar seperti biji kurma. Sahabat kemudian bertanya; ya Rasulullah bagaimana mungkin biji gandum bisa sebesar ini? Rasulullah Saw bersabda; ini gandum diproduksi ketika pemimpin satu negeri itu menegakkan keadilan.

Rasulullah  Teladan Terbaik

 Allah berfirman, Al Qur’an ini kuturunkan dengan haq. Tidak ada kepentingan partai apapun dalam klausul UU ini. Selain tidak ada sogokan, tidak ada kepalsuan turunnya konstitusi dari Allah ke Muhammad Saw dan ketika disampaikan kepada umatnya. Wahai Muhammad, engkau bukannlah tokoh jadi-jadian dengan semua fotomu di pinggir jalan. engkau adalah sungguh-sungguh utusan Allah Swt. Engkau bukan tokoh jadi-jadian seperti di sebuah Republik, kalau punya uang Rp 4 trilyun  bisa jadi presiden. Engkau adalah seorang teladan yang diturunkan ke muka bumi untuk menjadi pembawa berita gembira

 “Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Saba’ : 28)

Sesungguhnya Kami telah mengutus engkau (Muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan engkau tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang penghuni-penghuni neraka”. (Al Baqarah : 119)

Bebas Dari Syubhat dan Syahwat

Sampai di sini saya ingin mengingatkan diri sendiri, bahwa Republik ini membutuhkan pemimpin yang cerdas, pemimpin yang bebas dari 2 hal; syubhat dan syahwat. Ibnu Qayyim al Jauziyah berkata; Ada dua hal yang menjadikan seseorang pemimpin dalam beragama. Dua hal itu juga mengakibatkan sesuatu yang sangat berbahaya bagi pemimpinnya dalam beragama. Belakangan ini pancasila sedang ditafsirkanulang dan salahsatu tokoh muda cendekiawan berkata; agama tidak bisa lagi menjadi media pemersatu bangsa. Pertanyaan saya: dengan teks apa dia menafsirkan pancasila kalau bukan dengan teks-teks agama?

Disebutkan dalam Al Qur’an; para penyair dan filsuf itu pengikutnya memang kebanyakan orang-orang lalai bukan realistis. Mereka tinggal di lembah tapi teorinya tinggi membumbung di awan. Hanya ada di alam kata bukan di dunia nyata. Indonesia ini milik Allah atau ibu pertiwi? Lalu dengan teks apa kita menafsirkan pancasila, sementara konten pancasila secara metodologi mencontek Al Quranul Karim. Semua UU harus merujuk pada UU 1945 yang merujuk kepada pembukaan UUD. Al Quranul Karim terdiri dari 114 surat, 113 surat menginduk kepada Al Fatihah, Pendiri bangsa ini sadar betul dan telah menyusun yang terbaik untuk negeri. tapi sayang pemimpin-pemimpin sekaramg terlibat syubhat pemikiran.

Apa yang disebut dengan syubhat? Kalau pikiran lebih didahulukan ketimbang syara. Semua yang diputuskannya selalu salah. Contoh; Ada banyak cara orang ingin terhormat di negeri ini. Ada yang berebut kekuasaan dan ingin kaya. Dia pikir begitu caranya jadi orang terhormat. Itu cara pandang syahwat. Dia hinakan dirinya dengan menduduki kursi haram supaya duduk di tempat terhormat. Tambah cela jadinya. ketika keinginan didahulukan ketimbang syara’; aturan Allah Azza wa Jalla. Indonesia kenapa bisa merdeka? Mohon beri tahu saya. Tahun 1945 berapa jumlah cendekiawannya? Apakah banyak cendekiawan  pada  masa itu? Berapa persen orang pintar di Indonesia saat itu? Sekarang kenapa kita banyak sekali tidak berdaulat dari beberapa sisi?

Saya berharap ke depan tentunya lahir pemimpin-pemimpin muda Tapi memang dibutuhkan kekuatan berpegang teguh pada janji Allah dan tidak terlalu berpegang pada rasio dan kalkulasi politik  dan ekonomi. Indonesia harus  melahirkan seorang pemimpin muda yang punya integritas dan terbebas dari syubhat pemikiran. dahulukan syara’ meski pemikirannya kadang bertentangan.

Kedua, jangan bergaya hidup syahwat. Ketika akal kalah dengan hawa nafsu. ketika akal tunduk di hadapan hawa nafsu. sebesar apapun jenderal itu dan berapa banyak bintang dan penghargaannya, Indonesia tidak pernah bisa merdeka. Ketika Musa As membebaskan Bani Israil dari rezim Fir’aun, apakah beliau punya partai? Tidak. Bandingkan cara pandang syahwat dan cara pandang aqidah. Kalau ukuran menang adalah jumlah konstituen, uang, senjata dan tentara, di atas kertas mestinya Fir’aun menang melawan Musa.

Jadi Indonesia butuh pemimpin-peimpin yang punya integritas, tawakalnya kepada Allah swt.  Seoranmg pemimpin termuda Amerika berusia 43 tahun berkata; jangan pernah bernegosiasi dengan rasa takut  dan jangan pernah takut bernegosiasi. Karena sering orang pengecut tidak akan berani mengambil satu keputusan beresiko tinggi. Republik ini butuh orang yang mengatakan; kebenaran hanya datang dari Tuhanmu dan setelah itu jangan ragu dan jangan jadi peragu. Kalau kita punya pemimpin yang berintegritas,  insya  Allah Indonesia bisa bebas dan semoga lahir pemimpin yang seperti itu dari ICMI.

Dari tausiyah di kediaman Anggota Dewan kehormatan ICMI, Bapak Adi Sasono (24/8/11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s