Setelah Idul Fitri, Apa Lagi?

Dr. Ary Ginanjar Agustian

Dewan Pakar ICMI Pusat, Wakil Ketua Bidang Agama, Budaya dan Pengembangan Karakter Bangsa

Nabi Muhammad Saw sudah meninggal dunia, saat itu Abu Bakar Asshidiq bertanya kepada Aisyah. Tolong katakan kepada saya apa yang dilakukan nabi Muhammad yang belum aku lakukan? Aisyah berkata; engkau sudah lakukan semuanya kecuali satu saja. Engkau memberi makan pengemis Yahudi buta yang ada di pasar sana. Lalu Abu Bakar Asshiddiq datang membawa sepotong roti. Ketika bertemu orang tua tersebut, ia kaget karena orang tua itu didapati sedang memaki-maki dan berkata: ”Muhammad gila, Muhammad pembohong dan penipu, Jangan dengarkan dia.” Abu bakar hampir menangis dan marah. Tapi karena ingat Rasulullah, ia duduk dan disuapi rotinya sambil laki-laki itu memaki Nabi Muhammad Saw.  

Kekuatan Fitrah

Ketika disuapi, Yahudi buta itu berkata; kamu bukan yang biasa menyuapiku.|Bagaimana kamu tahu? | Kalau dia menyuapi makanan ke mulutku langsung dengan tangannya lembut. Kamu kasar menyuapiku.  Mendegar itu Abu Bakar Ashiddiq menangis. Dia membayangkan Nabi Muhammad yang begitu mulia. Kemudian Yahudi buta tu bertanya. Kenapa engkau menangis? |Ketauhilah wahai orang tua. Bahwa yang telah menyuapi makan untuk dirimu dialah yang bernama Muhammad Saw.

Maka sertamerta laki-laki buta itu mengatakan; ajak aku untuk memeluk agama Islam. Inilah yang disebut the power of fitrah; Pertama, dia bisa memaafkan orang yang menyakiti. Kelak akan dirayakan dengan halal bihalal setelah Idul Fitri. Kedua, ia bisa menyambungkan tali silaturahim kepada orang yang memutuskan.

Ketiga, ia mampu memberi kepada orang yang kikir. Bayangkan kalau kita memiliki kemampuan ini. Inilah yang pada akhirnya setelah Idul Fitri; beras dibagikan, zakat diberikan dan bersalam-salaman.

Pertanyaan berikutnya Mau dibawa kemana fitrah yang hebat ini? Fitrah yang hebat ini bisa dibawa untuk kelompoknya. Fitrah ini pun bisa membuat orang terkenal dan hebat. Karena itu Allah tidak berhenti mendidik manusia. Hari raya yang kita terima adalah sebuah rangkaian pendidikan yang panjang dari Allah.

Setelah idul fitri kita akan merayakan dan fitrah itu laksana cahaya yang indah. Mau dibawa ke mana cahaya itu? Fitrah itu akan dibawa ke Idul Adha. Artinya, potensi kekuatan fitrah itu tidak dipakai untuk dirinya, golongan atau kelompoknya, tapi untuk Idul Adha.

Tiga Rangkaian Membangun Peradaban

Idul fitri adalah starting point keberangkatan Indonesia menuju peradaban baru Indonesia di masa akan datang. Arti Idul Fitri baru 33%. Saat Idul Adha tambah lagi 33%, yaitu ketika semua kepentingan ‘disembelih’. Tidak ada kepentingan untuk dirinya dan kelompoknya. Bahkan Nabi Ibrahim As harus menyembelih putranya sendiri. Maka di tahap kedua kita harus membawa cahaya idul fitri menuju idul adha dengan ucapan la ilaha ilallah.

Setelah itu kita punya dua kekuatan. secara spiritual manusia akan memiliki SQ yang tinggi di idul fitri. Secara emosional dia telah melalui idul adha. Barulah masuk ke tahapan berikutnya: hijrah. Di situlah tamaddun (peradaban) dibangun. Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Di situlah politik dikembangkan hingga dalam 22 tahun terjadi peradaban yang besar mengalahkan Persia dan Romawi. Hingga Nabi Muhammad menjadi orang nomor satu, menurut Michael Heart, yang mampu menciptakan perubahan.

Tiga rangkaian untuk membangun peradaban; Pertama, dapatkan kekuatan fitrah ketika idul fitri. Inilah yang dinamakan jatidiri bangsa. Inilah yang kelak dalam ilmu wawasan kebangsaan oleh Earnest Renant disebut nasionalisme. Ia mengatakan; nasionalisme adalah ikatan spiritualitas  sebuah bangsa. Di situlah rasa keadilan, persatuan dan kebersamaan. Itulah asma ul husna. Tapi yang terjadi saat ini kita kehilangan spiritualitas kita. Kita kehilangan nilai-nilai moral. Kemudian tidak bisa masuk ke tahapan

Kedua, Idul Adha. Ketika kejujuran, keadilan dan kebenaran, semua tidak untuk golongan tapi hanya untuk Allah Swt. Ketiga,  hijrah ke kota Madinah. Niscaya peradaban Indonesia akan bangkitdan sejahtera.

Yang terjadi adalah kita langsung hijrah tapi melupakan dua hari raya. Kita langsung membangun politik. ekonomi, teknologi, dsb. Tapi kita lupa Idul Fitri dalam jiwa rakyat Indonesia. Kita belum mendeklarasikan apa fitrah bangsa Indonesia. Fitrahnya adalah pancasila  Ketuhanan yang Maha Esa. Rakyat Indoensia bisa bersatu apabila dia bertuhan. Ketika kita tinggalkan jatidiri Indonesia, yang terjadi adalah kerusakan di sana-sini.

Inilah perayaan idul fitri hubungannya dalam pembangunan bangsa  Maka jangan merasa selesai setelah Idul fitri. Baru semester satu, karena ada tiga semester untuk membangun peradaban. Konsep ini sama dengan konsep nabi Ibrahim As ketika berdoa; tunjukkan mana tuntunannya. Tuntunan haji selama ini ritualisme. Padahal tuntunan haji (wukuf, tawaf, sa’i) adalah tuntunan membangun peradaban.

Ketika bangsa Indonesia mengenal jatidirinya yang dilandaskan 5 dasar pancasila. Wukuf adalah Arafah; paham tentang siapa dirinya dan tahu mau ke mana dirinya. Dan berangkatlah kamu dari tempat engakau berangkat, wukuf di padang Arafah. Setelah wukuf, barulah tawaf. Di situ persatuan Indonesia, di mana tidak ada kepentingan lain semuanya bertawaf. Saat itu semua menggunakan baju warna putih tanpa jahit. Semuanya melepaskan topinya. Semua sama di mata hukum dan bertawaf mengelilingi Ka’bah. Saat itulah tejadi sila ketiga; persatuan Indonesia. Dimensi ketiga barulah dimensi kerjakeras yaitu sa’i. Shafa-Marwah syiar Allah. Barulah Siti Hajar berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Kembali lagi dari bukit Marwah ke bukti Shafa. Terus tujuhkali. Hingga ketujuhkali tak dapat menemukan air. Barulah air zamzam keluar.

Tiga urutan itu menjadi urutan wajib haji. Kalau terbalik maka kita bayar dam. Kalau kita haji tamatu langsung datang ke Mekkah, kita harus membayar satu ekor kambing. Karena kita langsung loncat, maka Indonesia harus bayar dam. Itulah krisis, gempa bumi, dsb.

Mudah-mudahan dam-nya sudah lunas dan kita akan melihat Indonesia baru ke depan. Mudah-mudahan semuanya sudah selesai. Jadi sisanya tinggal sa’i; air zamzam. Karena apabila kita salah bukan zamzam yang keluar tapi segenap lumpur, dsb.

Inilah urutan yang diajarkan Nabi Ibrahim dan diikuti Nabi Muhammad Saw. Hingga Nabi Muhammad membangun peradaban. Pertama, era gua Hira; Indonesia kenal jatidiri. Indonesia yang paham jatidirinya; pancasila. Kedua, era Mekkah di mana era tauhid, manusia tidak punya kepentingan lain karena telah menyembelih ”Ismail”-nya. Ketiga, era Madinah; di mana kejayaan lahir.

Saya yakin sekali, 700 tahun ketiga itu bangkit sebuah peradaban baru. Kalau setiap 100 tahun biasanya per negara. Tapi kalau per 700 tahun biasanya sebelahan dunia. Mudah-mudahan 700 tahun ketiga ini di Indonesia. Tentu saja kita harus optimis dan tidak perlu menyalahkan siapapun. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Tidak mungkin Pemerintah mampu menyelesaikan masalahnya kecuali semua rakyat yang mampu bangkit.

Itulah yang dibangun Nabi Muhammad Saw. Meski setelah Nabi Muhamad  turun, Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Bani Umayah, Abasiyah, dsb, terus maju karena pondasinya tetap ada: Idul fitri dan Idul Adha. Bangunannya adalah hijrah. Pondasinya adalah gua Hira dan Mekkah. Bangunannya adalah Madinah. Pondasinya nilai-nilai spiritualitas jatidiri bangsa. Aplikasinya ekonomi. Jangan terbalik lagi karena sudah cukup dam dibayar indonesia. Tausiyah Sitarling di Kediaman Bapak Ir. M. Hatta Rajasa (16/8/11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s