Peran Cendekiawan

Prof. KH. Said Agil Siraj ~ (Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI Pusat )

Allah berfirman: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya [ke medan perang]. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS 9:122)

Dakwah Wali Songo

Liyanfiru artinya jangan semua aktivitasnya ke luar dari rumah (mobile); jadi anggota DPR, politisi, pejabat, dsb. Harus ada tapi jangan semua. Jadi harus ada ‘sekelompok mukmin yang duduk tenang. Tidak usah ikut hiruk-pikuk politik. Duduk tenang. Untuk apa? Membangun, mengembangkan, mendalami dan memperluas pemahaman agama agar dipahami secara kontekstual dan bisa memberikan solusi problem masyarakat yang sangat majemuk ini. Butuh sekelompok orang yang tidak  berpolitik. Tidak berpengaruh situasi apapun, khusus hanya memahami agama.

Yang kita harapkan, ICMI bersama NU di sini peranannya, serius tekun membangun fahman sohihan. Jadi sangat rawan kalau agama dipegang atau ditangani oleh orang-orang yang bukan ahlinya. Apalagi kalau sampai bicara Fiqhul Ahkam (hukum). Itu sangat berbahaya. Kalau hanya dakwah tidak apa. Karena itu,  di mana-mana terjadi pemahaman agama yang membahayakan agama itu sendiri.

Tentang .memberi pemahaman agama ini, kita bagi tiga, ada Fiqhud Dakwah (metode dakwah, marketing) harus dengan luwes, fleksibel dan toleran seperti para Wali Songo. Ada orang Jawa melakukan sesajen  nasi sekepal diletakkan di pojok. Kyai Wali tanya; Apa itu?  Untuk Mengusir roh jahat. Kata Wali; kamu kan kaya, potong kambing satu, dong. Jangan hanya nasi sekepal di pojok. Dia menuruti. Potong kambing dijadikan 50 piring gulai. Ditanya: ini taruh di pojok mana, kiyai? Bukan taruh di pojok, panggil fakir miskin, yatim piatu dan mustadafin, makan bersama. Doa minta selamet namanya selametan bukan sesajen.

Orang  Islam yang tadinya Hindu melihat sapi disembelih masih sakit rasanya. Sapi disucikan betul. Sunan Kudus; Sunan Jafar Sadiq ibn Utsman al Hamdani melarang masyarakat Kudus korban dengan sapi diganti kerbau. Padahal di Al Qur’an korban itu sapi selain unta dan kambing. Sunan Kudus dengan ijtihadnya demi manhajiddakwah yang efektif, tidak kurban pakai sapi. Di Al Qur’an dan hadis tidak ada. Memang di Arab tidak ada kerbau.

Cara-cara dakwah ini yang perlu kita kembangkan, disesuaikan jaman sekarang. para Wali Songo telah memberi contoh yang luar biasa. Orang Jawa paling malas cuci kaki. Coba  sekarang masuk masjid ada tulisan lepas sandal dan sepatu. Batas suci. Dulu Wali Songo tidak begitu, bikin air di depan pintu masuk  masjid mau tidak mau nyemplung air kakinya. Dengan sendirinya masuk ke air.

Itu cara dakwah dulu seperti itu sehingga para Wali Songo mampu mendakwahkan Islam dengan bilisanil hal dengan perilaku-perilaku yang baik, menjadi contoh tanpa ada peperangan atau darah. Contoh, Raja Terakhir Majapahit Brawijaya V dari istrinya, Dewi Retno (Ratu Champa), punya anak laki-laki bernama Jin Bun, yang  disingkirkan dari istana ke Surabaya dan berjumpa Sunan Ampel, Jin Bun masuk Islam ganti nama menjadi Abdul Fattah dan belajar Islam selama 5 tahun. Ringkas cerita, Abdul Fatah berhasil mendirikan kerajaaan Islam pertama di Jawa, Demak Bintoro. Kaget juga bapaknya, yang kemudian sms ke anaknya yang satu; Sriwijaya alias Aryadillah Arya Damar, dari Kukang (sekarang Palembang) yang mengaku ternyata sudah lama masuk Islam dan berganti nama menjadi Fatahillah.

Lama kelamaan orang Jawa berbondong bondong meninggalkan Majapahit ikut Demak supaya mendapat label santri: bersih, berbudi pekerti luhur dan berahlak. Ringkas cerita orang Jawa ramai masuk Islam ikut menjadi warga Demak. Yang tidak masuk Islam tidak tahan di Jawa dan Palembang pindah ke Bali tapi tidak dikejar dan dipersilahkan pindah.  Brawijaya V pun terpaksa masuk Islam. Dengan masuk Islamnya Brawijaya V selesailah riwayat Imperium Majapahit, tanpa peperangan, bom dan kekerasan. Hanya karena malu kalau terang-terangan tunduk sama anaknya, Brawijaya V mengucilkan  diri di atas Gunung Lawu karang Anyar, mati dan dikubur di sana.

Demikianlah  bagaimana para Walisongo berhasil mendakwahkan Islam. Bahwa para Wali Songo ada kekurangan itu manusiawi. Tapi harus kita akui bagaimanapun mereka berjasa besar mengislamkan masyarakat Jwa dan sekitarnya.  Itu namanya fiqhud dakwah. Jadi kita tidak usah mengatakn Wali Songo belum selesai, gagal, singkretsime, dsb. Kita teruskan saja dakwah ini sebaik-baiknya.

Kemudian Fiqhul Ahkam. Setelah dakwah barulah hukum (Haram, halal, wajib, makruh). Ddilanjutkan Fiqhul Hikmah (wisdom). Perlu disampaikan juga kepada masyarakat. Kalau tidak, kita masyarakat keras kalau hanya halal haram. Fatwa terus isinya nanti.

Tingkatan-Tingkatan Hati

Fiqhul hikmah sangat penting. Adanya pada hati. Hati manusia ada 5 grade; pertama namanya Basyirah (penglihatan batin). The eyes of heart. Dalam Al Qur’an dikatakan;Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah ‘Tiap manusia punya bashirah untuk membedakan mana baik dan buruk. (al Qiyaamah 14).

kalau sudah tahu membedakan, akan estafet pada bagian hati yang kedua yaitu Dhamir (moral). Fungsinya hanya mengucapkan salahsatu dari dua kata. Kalau kamu sudah tahu itu benar dan baik, lakukan. Kalau kamu tahu itu melanggar hukum, tinggalkan. Moral itu ada 3 tingkat. Ada moral Istima’ (lingkungan). Kalau di depan keluarga, anak buah dan muridnya pakai kopiah baju koko duduk di depan sendiri. Jadi suami yang romantis, ayah yg bijak. Tapi kalau dia ke Monaco, Monte Carlo atau Bangkok, wallahu’alam. Ini orang punya moral tapi sayang melihat lingkungan.

Moral tingkat kedua adalah moral legal formal. Jalan jika ada SK, gaji jelas. SPJ, dan bonus kerja. Masih baik orang ini punya moral. Dari pada Yang tidak bekerja, padahal SK diterima dan gaji dikantongi. Sedang moral tingkat ketiga, mau di mana saja, kapan saja , resmi atau tidak, kalau menurut agama itu perintah baik, lakukan. Tanya pada hatimu sendiri. Kalau benar, kita lakukan dengan tenang dan ringan.

Bila perlu orang tahu semua. Begitu  berjumpa lagi; ingat ya kita umroh ketemu di Mekah |Oh iya waktu itu umrah dua tahun lalu. Waduh senang banget ceritanya. Tapi kalau kesalahan atau penyimpangan jangan ada orang tahu. Istri pun jangan tahu. Diceritakan; kita dua tahun lalu ketemu di Monaco, ya | Huss, ojo ngomong-ngomong. Seperti salah satu hadis Nabi mengatakan, “al itsmu ma haka fi nafsika wa karihta an yath-thali’a ‘alaihin naas”. ‘Dosa adalah sesuatu yang menimbulkan kekeruhan dan kekacauan di hatimu, dan kamu tak suka orang lain melihatmu melakukannya’. Tapi kalau soal kebaikan, silakan orang tahu semua.. Masuk koran pun senang. Diceritakan berulang-ulang.

Grade yang ketiga namanya Fuad  (Hakim). Semua kita punya Fuad. Hakim, jaksa dan polisi pun harus punya Fuad. maa kadzabal fuadu maa ra-aa”  (QS. An-Najm: 11). ‘Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya’. Fuad: hakim yang tidak bisa bohong. Bukan tidak mau bohong memang tidak bisa/ mungkin bohong. Demi Allah, saya tidak tahu menahu (Fuad bilang: tahu, tahu, tahu). Demi Allah, saya kebagian sedikit ( Fuad bilang: banyak, banyak, banyak). Bukan saya yang memulai, demi Allah ( Fuad: saya, saya sudah rencanakan).

Maka alhamdulillah kalau kita masih punya Fuad yang selalu menegur. Meski kita sering tidak menurut. Selama masih terdengar saja. Tapi lama-lama akan bosan karena sering tidak dituruti. Kalau lama Fuad-nya tidak bicara, ‘Hakim’ akan pensiun dari diri. Nanti kita melakukan apa saja tidak ada yang menegur. Suara Fuad akan keras lagi kalau sudah di rumah sakit. Baru setelah infusnya delapan dan oksigennya enam belas, kita berdoa: ‘Ya Allah, saya  banyak salah dan dosa. Banyak kesempatan untuk menyelesaikan hak-hak yang saya zalimi. Minta maaf saya ingin membereskan’. Jadi, Fuad bersuara lagi kalau kita menjelang ajal.

Tapi di situ tidak ada gunanya. Yauma la yanfa’u ladzina kafaru imanuhum wala hum yunzorun. Percuma penyesalan, tidak ada artinya bertobat. Jadi kalau mau memperbaiki kita sendiri. Sekaranglah saatnya. Selagi sehat, jadi wakil Ketua DPR. Jadi ketua Komisi III, dll. Saya sendiri mumpung jadi ketua NU, sekarang jadi baik. Jangan nanti menunggu infusnya 8 oksigen nya 16.  Maka kalau kita mau mendengarkan fuad, sekarang jangan  tunggu besok.

Keempat, hati adalah Asrar. Kekuatan misteri. Kekuatan sirr yang ada dalam hati. Sebenarnya semua manusia punya, hanya ada yang difungsikan dan ada yang tidak. Ada yang berusaha dan tidak. Sulit diterangkan tapi fakta banyak. Banyak ulama dan pemimpin tanpa banyak bicara, masyarakat menuruti. Mereka berwibawa. Tanpa banyak perintah semua sudah ikut .

Terakhir, kekuatan hati namanya Latifah. Kiyai jaman dulu sulit memberi makna Latifah. ‘Sesuatu yang halus’. Sekarang mudah: ‘Software’. Dalam hati kita ada software yang kalau jernih, berfungsi dan sehat, bisa mengakses sampai Lauh Mahfudz. Itu namanya Fiqhul Hikmah.

Seterusnya, kalau sudah paham agama, akan menjadi cendekiawan yang cerdas untuk memberi sumbangsih pendidikan, pencerahan, bimbingan dan arahan  kepada umat. Ini tugas ICMI. Umat dan bangsa yang sedang sakit ini perlu bimbingan dari sekelompok yang jauh dari politik.

Mari kita bangun dan didik umat agar kuat pemahaman Islamnya tapi punya komitmen tinggi mempertahankan persatuan bangsa. Yaitu ukhuwah Islamiyah berdasarkan teologi dan ukhuwah wathaniyah berdasarkan budaya. Ada dua; co-eksistensi dan pro-eksistensi. Multikulturalisme yang co-eksistensi (masalah akidah); saya muslim, kamu kristen, beda dong. Tapi kalau soal proeksistensi (masalah kebangsaan), Kamu, Saya dan Engkau sama. Jadilah kita kesatuan alami bangsa Indonesia. Tetap menghadapi era globalisasi dengan kemajuan luar biasa bernilai, ilmu pengetahuan, teknolgi, dsb.  Tapi awas jangan kehilangan yang lebih mahal yaitu agama, budaya, ahlak moral dan karakter.

Tausiyah di Kediaman Presidium ICMI, Drs. Priyo Budi Santoso (30/7/12).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s