Ramadan, Bulan Meng-Upgrade Diri

Prof Dr. Nasaruddin Umar ~ (Dewan Penasehat ICMI Pusat ) 

Dalam kitab Riyadus Shalihin Syekh An Nawawi ada sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan Abdullah bin Umar, termasuk sahabat yang sangat pintar. Ada 4 sahabat namanya Abdullah; Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Umar.  Dalam sejarah politik andai Umar tidak melarang anaknya menjadi khalifah maka yang paling tepat menggantikannya adalah Abdulah bin Umar.  Sungguh sangat cerdas dan sangat berpengalaman. Tapi cukup satu Umar yang menjadi khalifah, barangkali pikir Umar.

Kisah 3 Pemuda

Abdullah bin Umar meriwayatkan sebuah cerita. Tapi ini hadis Mutafaqqun Alaih. artinya, riwayat Bukhari – Muslim dan seluruh perawi hadis lain meriwayatkannya.  Tentang 3 pemuda yang berjalan karena hujan maka ketiganya berteduh  di sebuah gua.  Tiba-tiba terjadi guntur bahkan longsor dan batu besar menutupi gua, yang membuat ketiganya terperangkap di dalamnya. Dalam posisi seperti ini, ketiga anak manusia itu tidak boleh berputus asa. Hanya tenaga manusia tidak mungkin bisa mencongkel batu sebesar rumah itu. Pun tidak ada alat berat. Dan dilihat dari mata dan kepala sendiri, tidak mungkin ada kehidupan di dalam gua itu.

Maka teringatlah oleh seorang yang paling senior di antara ketiga pemuda itu. ‘Siapa di antara kita memiliki keistimewaan amal?’ Saling tunjuk, tidak ada. ‘Kalau begitu saya memulai dengan seadanya’. Duduklah ia di depan pintu gua kemudian berdoa; ‘Ya Allah inilah hambamu yang tidak punya apa-apa. Tidak pernah punya amal yang bisa dihitung. Maka pada kesempatan ini saya hanya ingin mengingat satu hal. Ketika pekerjaan saya sebagai pencari kayu bakar, tiap hari saya sangat mencintai ibu saya. Tiap hari saya membawakan air susu segar. Tapi suatu ketika saya terlambat pulang dengan susu segar yang saya bawa. Ibu saya tertidur. Saya tunggu sampai ibu bangun sementara pada saat bersamaan anak saya merengek minta  susu. Tidak nak, ini punya ibu kita yang sedang sakit. Saya berdiri semalaman,  menjelang senja baru ibu terbangun saya kasih minum’.  ‘Ya Allah kalau ini ada harganya di matamu mohon batu besar ini digeser dengan kekuatan seadanya’. Didorongnya batu besar itu dan bergeser sedikit. Oksigen bisa masuk, hanya belum bisa lewat kepala keluar dari kurungan batu itu.

Kemudian yang Kedua maju; ‘Ya Allah hambamu ini juga sederhana tidak punya amal istimewa. Tapi mengingat, pernah satu waktu ketika saya jatuh cinta terhadap sepupu saya dan saya meminta sesuatu terhadapnya, tapi dia menolak. Suatu ketika ibunya sakit keras perlu obat dan biaya, dia menawarkan dirinya kepada saya. Dalam posisi ada kesempatan, niat dan kebutuhan, keamanan tidak ada masalah. Pada saat itu saya sudah hampir melakukan perbuatan yang terlarang. Maka sepupu saya ini mengatakan; ‘Apakah engkau akan merusak cincin yang bukan milikmu?’ Saat itu pemuda ini lari terbirit-birit dan beristighfar. ‘Ya Allah hampir saya terjebak oleh iblis. Ampuni saya. kalau ini adalah suatu hal yang khusus bagimu ya Allah, mohon saya bertawasul dengan ini. Tolong bukakan pintu goa yang mengurung kami’. Maka didorongnya batu itu bergeser sedikit sudah agak longgar tapi belum bisa keluar kepala.

Lalu  yang ketiga maju. ‘Ya Allah,  hamba juga seperti kedua teman yang lain, tidak punya amal kebajikan istimewa. Tapi suatu ketika saya masih memimpin sebuah perusahaan. Ada karyawati saya waktu itu tidak mendapatkan gajinya satu bulan. Gajinya saya produktifkan. Saya belikan sepasang kambing. Ternyata kambing itu beranakpinak. Saya berikan lagi sepasang unta juga beranak-pinak. Sehingga memenuhi padang rumput di sebelah utara sana. Pada saat itu datanglah si perempuan mantan karyawati itu minta gajinya satu bulan. Saya tunjukkan bahwa seluruh unta dan kibas yang makan di padang rumput itu adalah kepunyaan kamu. Ambil semuanya’.  Tidak mungkin masa banyak begitu? Tanya dia. Diceritakan semuanya. Lalu perempuan ini mengambil seluruh kambing dan unta tersebut tanpa menyisakan satu ekor pun untuk yang jaga. Dijualnya semuanya. ‘Ya Allah kalau ini adalah satu poin buat Engkau, kami mohon pintu goa ini dibukakan’. Maka didorong batu gua yang menghalangi untuk keluar itu, menggelinding turun batu besar itu dan  keluarlah mereka.

Spiritual Saving

Pesan apa yang bisa kita peroleh dari kiprah hadis sahih tersebu? Ternyata kita lihat bahwa  kekerabatan, silaturahim antara keluarga terurtama ibu, pada waktu itu sangatlah penting. selama kita  sangat santun dan mencintai ibu ternyata bisa menjadi semacam tolak bala. Banyak tokoh sukses mengungkapkan rahasianya sehingga dia sukses karena terlalu mencintai ibunya. dan banyak tokoh kita termasuk Pak Habibie yang kita cintai, betapa respeknya  beliau terhadap  ibu Ainun Habibie, merupakan pelajaran yang sangat monumental buat kita semua para juniornya.

Jadi kekerabatan ini sangat penting, manakala dalam suatu masyarakat krisis persoalan seperti ini, logilkanya kalau kecintaan terhadap ibu menjadi simbol tolak bala, kalau terjadi kebalikannya tak mustahil yang terjadi adalah berbagai masalah dalam kehidupan masyarakat kita. Kedua,  etika kesusilaan. Bagaimana seorang pemuda mampu mengatakan tidak terhadap hal-hal yang memang sudah sangat dicari-cari itu. Tapi kalau sebaliknya yang terjadi, di mana-mana penyimpangan seksual merajalela, tentu kita akan melihat kebalikan dari penolakan bala tersebut. Ketiga, etika bisnis. Kalau pengusaha sejujur dengan apa yang disampaikan oleh pemuda yang ketiga itu, maka kemaslahatan masyarakat akan terpelihara sampai maslahat pribadi dan keluarga. Tapi sebaliknya, kalau ini tidak lagi menjadi concern kita semua, kita berani dan rela membangun istana di atas puing-puing kehancuran orang lain sambil tertawa dan seolah tidak ada masalah, maka bukan kemaslahatan yang akan muncul tapi kemudaratan buat kita semua.

Ini adalah hadis simbolik sebetulnya. Seandainya ini bisa menjadi simbol untuk kita semua, bahwa kalau ingin selamat dari berbagai persoalan,  kita harus punya spiritual saving. Apa yang pernah kita lakukan tidak akan pernah disia-siakan Allah. Kita bisa  mengingat-ingat apa yg pernah kita lakukan. Minimal satu apa yang pernah kita lakukan untuk kita sendiri sesungguhnya. Kalau tidak ada saving spiritual kita yang bisa jadikan semacam ingatan pada saat kita ada masalah, bagaimana Allah akan menolong kita ?

 Asy Syukur dan Asy Syakur

Pada bulan suci ramadan ini saya percaya teman-teman ICMI sudah baik semua.  Alhamdulillah sudah orang pintar bersyukur, sabar dan mukhlis. Tapi saya ingin mengingatkan bahwa  ddisebutkan dalaml Qur’an, sykur punya beberapa tingkatan. Ada tingkatan pertama, mungkin kita sudah bersyukur. Ada tingkatan lagi: Syakur. Kalau Syukur adalah mensyukuri niklmat Allah Swt; dapat promosi jabatan, harta, rizki, dsb. kalau Syakur ialah menyukuri musibah dan kekecewaan yang Allah berikan kepada kita. Inilah yang  disebutkan Allah; …hanya sedikit hambaku yg bsia bersyakur. Jadi  Syakur adalah kita menyukuri musibah yang menimpa diri kita. Karena dengan musibah itu adalah semacam surat  cinta dari Allah kepada kita.

Sejak dulu Allah mengundang kita dengan kenikmatan. Tapi kita tidak mau dekat denganNYA. Ketika Allah  mengundang kita dengan musibah. Kalau kita kena musibah maka nama pertama yang muncul di benak kita adalah: Allah. Anak dan istri kita meninggal, tapi di balik kepergiannya ada sesuatu yang indah dalam diri kita karena kita akrab dengan Allah Swt. Kalau kita dekat dengan Tuhan, musibah akan terasa nikmat. Sebaliknya kalau kita berjauhan denganNYA, surga akan terasa neraka.

Al Shabirin dan  Al Mashabir

Kita juga insya Allah sudah termasuk orang-orang yang sabar. Asshabirin. Tapi dalam bulan Ramadan ini kita juga memohon kepada Allah agar kita meningkat lagi tidak hanya Asshabirin, juga perlu menjadi Al Mashabir. Ternyata juga ada tingkatannya. Asshabir ialah orang yang bersabar tapi masih memberikan keterbatasan terhadap kesabaran itu sendiri. Kadang kita mendengar; ‘saya sabar tapi ingat kesabaran ada batasnya’. ‘Saya sudah memaafkan tapi saya tidak bisa melupakan’. Kalau Al Mashabir, kesabaran sudah tidak ada batasannya lagi. Hapus seluruh memori masa lampaunya, yang ada pokonya kita mulai dari nol. Putih semua. Mudah-mudahan Ramadan ini meng-upgrade kita menjadi Al Mashabir.

Mukhlis dan Mukhlas

Ada lagi Mukhlis. Orang yg ikhlas. Tapi kalau orang yang proaktif untuk ikhlas adalah masih dirinya sendiri disebut dalam al Quran; Al Mukhlisin. Kalau Allah Swt yang proaktif mengikhlaskan seseorang. Maka bahasa Al Qur’annya adalah Al mukhlasun/ Al mukhlasin. Ketika iblis bersumpah ‘Saya akan hidup seusia manusia dan berjanji untuk menerakakan semua manusia kecuali hambaMU yang mukhlasin’. Bukan Mukhlisin. Jadi kalau ‘mukhlis’, kita yang masih prokaktif. Masih sadar kita melakukan kebajikan. Kalau ‘Mukhlas’, sudah tidak sadar apa yang kita lakukan adalah sebuah kebajikan. Jadi sudah menjadi habit-nya.

Habit kita selalu melakukan yang terbaik. Selama kita masih ingat kebaikan itu, suatu waktu kita muncul Riya’, maka inilah yang membahayakan amal kita nanti. Karena itu ada ungkapan Ibnu Atha ’illah; tanamalah kebajikannya di bumi ketidakterkenalan jika ingin panen di akhirat. Karena semua amal kebajikan yang ditanam di bumi keterkenalan hanya akan panen di dunia. Ketika kita minta di akhirat; Mana pahala saya yang banyak? | Kamu kan sudah iklankan. ketika Anda dipuji, lehernya naik. Ternyata ember bocor yang kita bawa ke Akhirat. memang perlunya keikhlasan ini. Kita kadang ikhlas tanpa nama kalau recehan. Kalau besar, kartu nama. Susah menjadi Mukhlasin. Jadi Al Mukhlisin  insya Allah gampang.

Bulan Kelembutan

Inilah, pada bulan suci Ramadan ini kita diminta bagaimana tidak hanya menjadi Asy Syakir tapi juga naik menjadi Asy Syakur. Bagaimana kita berubah dari sekadar Ashshabir menjadi Al Mushabir. Bagaimana tadinya atau selama ini kita hanya sampai pada tingkat Mukhlis menjadi Mukhlas.

Terakhir, Bapak – Ibu sekalian. Pada bulan suci Ramadan ini bagamana menjadikan idri kita lebih lembut. Berpuasa itu sesungguhnya mencontoh sifat Allah. Dalam Al Qur’an; Allah tidak makan tapi memberi makan. Sebelas bulan lamanya kita menjadi maskulin, maka di bulan ini kita diminta feminin dan feminity is superpower. Kelembutan sesungguhnya puncak dari superpower itu sendiri. Jadi kelembutan sangat penting karena kalau kita membangun bangsa ini over maskulin. Maka yang terjadi adalah penggusuran, kerusakan lingkungan, dsb. Di bulan suci Ramadan ini kita dilembutkan. Bagaimana pikiran kita menjadi lurus  yang tadinya bengkok, jiwa kita menjadi lembuat dari yang tadi keras membatu. Bagaiman hati kita tadinya hitam menjadi putih. Dengan demikian, langkah-langkah kita akan makin tegar dan harapan optimisme serta idealisme kita ke depan juga makin bagus.

Inilah tantangan kita untuk ICMI. Kita berharap karakter kepribadian yang telah disimbolkan oleh ICMI sudah mulai terlihat walau mungkin sangat abstrak, tapi saya pribadi merasakan karakter yang tumbuh di kalangan komunitas ICMI sudah mulai nampak punya warna lain. Beebas mazhab, lintas politik dan yang tidak kalah pentingnya, ada suasana khuznuzan dan saling memperhatikan satu sama lain. Ini sangat penting dan seperti inilah sesungguhnya yang dibutuhkan bangsa kita. Para Pemimpin ICMI jangan hanya muncul di lapis atas saja tapi sedapat mungkin di tingkat daerah.  Energi spiritual yang dipancarkan ICMI sangat dibutuhkan untuk mengIndonesiakan Indonesia. Untuk mencerdaskan dan memberikan pencerahan bangsa kita ke depan.

Tausiyah Ramadan di kediaman Ketua Dewan Kehormatan ICMI, Prof. Dr -Ing Bj Habibie dan Presidium ICMI Dr, -Ing Ilham Akbar Habibie, MBA (2/8/12) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s