Momen Berbagi

Azyumardi Azra  – Dewan Penasehat ICMI Pusat

Ibadah puasa boleh dibilang ibadah unik. Walau dalam Al Qur’an dikatakan sudah ada puasa sebelum kita (kaum muslimin), tapi puasa kita berbeda. Karena itu, menjadi saat menarik dilihat banyak orang dari berbagai segi. Dari sudut keagamaan jelas, puasa adalah salahsatu rukun Islam dan wajib berpuasa kecuali halangan tertentu. Mudah-mudahan kita mencapai derajat yang taqwa. Itu tujuannya. Walau kemudian terjadi perdebatan-perdebatan Fikih mengenai berbagai hal.

 Bukan Konsumerisme

Misal, menjelang Olimpiade London ada perdebatan di kalangan ulama Al Azhar, di Indonesia tidak ada, mengatakan tetap wajib berpuasa  karena wajib dan keikutsertaan bertanding di olimpiade bukan hal yang wajib dalam agama. Ada lagi ulama al Azhar yang berpendapat boleh tidak berpuasa karena dalam perjalanan. Dalam ketentuan Fikih tidak boleh menetap 5 hari di satu tempat. Jadi kalau di Inggris Raya, harus pindah dalam waktu 5 hari. Tidak bisa 5 hari di London, harus pindah ke New Castle atau Oxford, dll. Kalau tidak, maka batal, karena lebih dari 5 hari dianggap mukimin dan wajib berpuasa.

Tapi sekali lagi, banyak sekali dilihat dalam berbagai segi. Bisa dilihat juga dari sudut ekonomi. Sering Pemerintah mengatakan mungkin dengan sedikit mengeluh, karena memasuki  bulan puasa dan Udul Fitri, harga-harga naik, seolah tidak terkendali. Daging yang biasa Rp 70 ribu menjadi Rp 100 ribu. Bahkan seolah terjadi komodifikasi agama. Terjadi peningkatan konsumsi diidentikkan dengan meningkatnya konsumerisme. Saya sendiri menolak pandangan itu, bahwa puasa memunculkan sikap konsumerisme.

Di bulan Ramadan konsumsi meningkat  karena untuk berbagi. Kalau hari-hari biasa  istri atau keluarga di rumah hanya menyiapkan makanan secukupnya buat anggota keluarga. Kalau hari ini disediakan hidangan banyak sekali,  termasuk untuk kita berbuka di sini,  adalah konsumsi yang diberikan untuk orang yang berpuasa. Dan pahala orang  berpuasa dengan yang menyediakan makanan berbuka sama. Ini adalah bagian dari yang disebut dengan Pilantropi Islam; memberi dan berbagi.

Lagi-lagi saya ingin katakan rasa syukur kita sebagai muslim di Indonesia. Setelah lebaran tahun lalu saya diwawancarai CNN. Mereka heran, bicara soal generocity (kemurahan dan kedermawaan hati) keagamaan, ternyata Muslim Indonesia paling tinggi; 86%. Orang Indonesia yakin dan didorong semangat keagamaan untuk giving and sharing. Tahun lalu, menurut BI, jumlah uang kecil yang ditukarkan sebesar Rp 86 Trilyun. Itulah yang nanti dibagi dan dibawa mudik, mungkin untuk dibuatkan paket lebaran, dibagi ke tetangga, dsb. Jadi luar biasa dibanding skandal Century ‘cuma’ Rp 6,7 trilyun, meski ditaruh dalam tanda kutip. Arab Saudi cuma 68% tingkat generosity-nya dan Turki 42%.

Jadi semangat kita untuk berbagi ini sebetulnya tinggi sekali. Inilah yang menumbuhkan kohesi sosial/ integrasi sosial di antara sesama kita; berbagi makan sahur, mengirim iftar ke masjid, ke tetangga, nanti ada paket lebaran, dsb. Inilah yang membanggakan. Jadi muslim Indonesia jangan berpikir kalau mau bikin masjid misalnya, ingatnya Arab Saudi. Saya kira tidak bakal dapat. Kalau muslim sekarang mau rehab masjid datanglah ke Pak Hatta Rajasa. Beliau ada program rehab seribu masjid.

Karena memang sekali lagi  kita juga harus bersyukur, pertumbuhan ekonomi Indonesia luar biasa; 6,2%. Orang juga sering mengeritik Pemerintah belum berbuat maksimal.  Tapi ekonomi tumbuh didorong konsumsi yang meningkat di kalangan menengah, dan sebagian besar, lebih dari separuh, kelas menengah di Indonesia adalah muslim. Menurut BBC London, kelas menengah Indonesia 152 juta yang pendapatannya berkisar antara $ 5- 20  perhari.

Jadi meningkatnya konsumsi di kalangan masyarakat kita bukan berarti konsumerisme. Itu penting digarisbawahi, karena ada orang yang mengatakan Ramadan itu sudah makin sama dengan Natalan. Kalau Natal, konsumerismenya yang lebih menonjol. Tapi saya bantah pendapat itu. Tidak bisa menyamakan Natalan dengan Ramadan, karena dalam Ramadan memang konsumsi meningkat, tapi bukan untuk hura-hura, melainkan untuk menyantuni, memberi dan berbagi dalam bentuk zakat fitrah, mal, infaq sadaqah dll. Filantropi di Indonesia ini meningkat sampai sebegitu besar. Sehingga organisaai filantropi ada iklan-iklannya di TV, dan untuk iklan berdurasi 30-60 detik cukup mahal bayarnya.

Kelas Menengah Muslim

Inilah lagi-lagi patut kita syukuri. Bahwa kaum Muslimin di Indonesia makin sejahtera walau masih banyak yang miskin. Pendidikannya makin baik. Saya tidak setuju dengan Pak Hatta maupun Pak Nanat yang seolah krisis karena pendidikan kita. Memang pendidikan kita punya masalah tapi lebih banyak karena lingkungan sosial kita yang mengalami disorientasi politik, sosial, globalisasi, meningkatnya gaya hidup hedonistik, menempuh jalan pintas, dsb.

Inilah  agenda-agenda yang harus ICMI kerjakan ke depan supaya umat Islam Indonesia, yang merupakan umat muslim terbesar di muka bumi, memainkan peran yang lebih besar, tidak hanya di Indonesia juga di tempat lain. Termasuk  di Rohingya atau Gaza yang membuat rumah sakit. Itu luar biasa dan pembangunan rumah sakit  memecahkan rekor dalam penyediaan bahan bangunannya. Walau sebetulnya kalau lihat rumah di Indonesia masih ada bangunaan yang lebih jelek didiami dibanding di Palestina. Tapi manusia hidup tidak hanya dari sandang dan pangan, juga memerlukan politik, kebebasan, ruang untuk berekspresi, dst.

Lagi-lagi ini patut kita syukuri sebagai kaum muslim Indonesia. Kita harus bangga dengan itu tanpa  harus bersifat riya’. Saya seringkali di luar negeri bercerita tentang keistimewaan distingsi dari Islam Indonesia. Keunggulan lembaga-lembaganya, ketidaktergantungannya dengan Pemerintah. Ormas-ormas kita yang tidak mendapat subsidi dari Pemerintah tapi bisa membuat sekolah, madrasah, pesantren, rumah sakit dan klinik. Tidak ada ormas Islam yang sebesar NU dan Muhammadiyah di negeri manapun. Sistem pendidikan Islam yang sebanyak di Indonesia; STAIN, UIN, dsb Belum lagi perguruan-perguruan tinggi umum. Tidak ada yang sebesar dan sekompleks di Indoensia.

Kita harus berterimakasih kepada Pemerintah Orde Baru. Pak Harto yang meninggalkan  paling tidak dua hal, di mana kaum muslimin menjadi the largest beneficieries; penerima manfaat terbesar. Pertama, pendidikan. Inpres pada tingkat dasar dan menengah. Pendidikan tinggi di tahun 1970-an, universitas menyebar ke mana mana, dan itulah  yang menghasilkan kelas menengah sekarang ini. Kedua, mengangkat sekian puluh juta orang dari lembah kemiskinan dalam kehidupan yang lebih layak, dicatat pengamat Indonesia manapun luar negeri. Sehingga kita berada dalam posisi yang tidaklah terlalu jelek dalam segi kemiskinan. Meski masih ada sekitar 30-40 juta yang relatif miskin, $ 2-3 pendapatnnya perhari. Tapi itulah PR kita ke depan bersama Pemerintah, tentu ICMI ikut bertangungjawab dalam hal ini.

PR kita termasuk, selain kemiskinan, masih menyebarnya maksiat, masing banyak yang minum miras, mati sampai belasan orang, Bisa dipastikan sebagian besar yang minum miras oplosan adalah orang Islam. Begitu juga maksiat yang lain.  Tapi maksiat tidak bis kita ubah dengan kekerasan, harus dengan cara dakwah yang persuasif, yang diajarkan Islam, dengan memberikan hikmah. Berikan contoh teladan yang baik;  bil hikmah wal mau izhotil hasanah, dengan memberikan contoh teladan yang baik. Juga berdebat dengan cara yang baik. Untuk ini ICMI masih dalam posisi yang terdepan,

Saya dapat berita, sebanyak 100 orang mendaftar ke Sekretariat Pusat ICMI ingin menjamu iftar bagi pengurus dan anggota, tidak bisa dipenuhi. Begitulah, ini juga mencerminkan semangat giving and sharing di antara kita semua. Sehingga menumbuhkan kohesi sosial yang lebih erat di antara kita. Lagi-lagi inilah salahsatu keistimewaan Islam di Indoensia, senang bersilaturahim, tasyakuran dan tahlilan. Tidak hanya bermakna keagamaan, juga kesosialan. Itu juga  yang membuat Islam menjadi  embodied dalam budaya Islam Indonesia.

Saya diwawancarai sebuah media nasional, dia bilang kenapa sekarang ini sudah makin menggejala dan oluas yang namanya iftar, berbuka puasa bersama di mana-mana. Bukan hanya untuk iftar konvensional seperti kita tapi juga iftar memperkenalkan produk baru, misalnya mobil, asuransi, dsb. Apakah ini termasuk komodifikasi agama? Mungkn ada di situ, tapi ini juga mencerminkan suatu hal postif, bahwa keadaan ekonomi masyarakat Indoensia khususnya umat Islam makin membaik. Sehingga para produsen merasa pelu memanfaatkan kesempatan iftar untuk memperkenalkan produk-produk mereka.

Saya menangkapnya dari sudut antropologi sosiologi, Islam makin menyatu dalam budaya Indonesia yang tidak dimilki masyarakat Muslim di tempat lain. Kita boleh lihat di mana saja, Timur Tengah, dll. Tidak ada tradisi iftar yang rutin. Kalau kita mau ikuti jadwalnya, hampir tidak bisa iftar di rumah. Tapi kita harus pilih-pilih juga mana iftar yang harus kita datangi dan tetap di rumah bersama keluarga. Intinya saya ingin meenekankan banyak hal yang sudah postif dan prestasi yang dicapai umat Islam dalam 20 tahun terakhir ini melalui berbagai pemerintahan yang ada. Kita bersyukur itu tapi jangan berpuas diri karena masih banyak PR yang harus kita kerjakan di hari ini dan ke depan.

Tausiyah Ramadan di kediaman Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat, Dr H.c. Ir. M. Hatta Rajasa ( 31/7/12) 

One thought on “Momen Berbagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s