Jangan Sekadar Ritualistik

 P1180726EDITKH Masdar F. Mas’udi (Dewan Penasehat ICMI Pusat)

Kita kembali menjalankan ibadah rutin; puasa. Ada persoalan yang tampaknya perlu dipikirkan bersama, terkait keberagamaan kita. Bahwa, umat Islam umumnya, dan di Indonesia khususnya, adalah umat yang paling banyak mendengarkan ceramah agama. Semua televisi yang  jumlahnya begitu banyak, belum televisi daerah, pada bulan puasa khususnya, paling tidak 2-3 kali satu hari. Bahkan, pada hari-hari biasa,  subuh dan maghrib, hampir dipastikan ada di tiap stasiun televisi. Pak JK menghitung ada  dua ribu sekian paket tiap bulan. Tapi realitas di lapangan jauh dari yang kita harapkan.

 Shalat 5 Waktu

Ada berbagai analisis. Salah satu di antaranya, bahwa keberagaman kita masih terlalu ritualistik. Muaranya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah syariat. Ini harus kita pikirkan ulang. Sesungguhnya, syariat tidak salah kalau kita usung. Tapi yang sangat digarisbawahi Al Qur’an sebenarnya bukan syariat melainkan ahlaq. Dalam Al Qur’an ada kata-kata syariat, itu dalam konteks agama lain juga. Tapi Al Qur’an tidak pernah memuji Rasulullah kecuali dalam konteks ahlaq. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al Qalam: 4). Beda sekali kalau syariat diperas menjadi  hukum dan selalu ditegakkan kepada orang lain. Tidak ada hakim yang menghakimi dirinya sendiri. Tapi kalau ahlaq, sasaran utamanya ke dalam.  ‘Ibda’ Binafsik . Itulah doktrin ahlaq yang paling sederhana tapi kita lupakan.

Rukun Islam: Syahadat adalah fondasinya. Yang keempat adalah tiang utamanya. Itu pun semua dipahami menjadi sangat formalistik ritualistik. Padahal sesungguhnya kalau kita renungkan, sederhana saja. Misal; Shalat. Saya kira kebanyakan orang tua kalau menasehati anaknya dalam perspektfi agama: jangan tinggalkan shalat. Itu sudah benar. Tapi nasehat yang lain itu jarang. Seperti; jangan berdusta, tolonglah sesama dan sukalah menghormati orang lain. Yang paling sering adalah nasehat-nasehat ritual. Padahal sesungguhnya, shalat ialah sesuatu ibadah yang begitu luar biasa penting, karena  5 waktu dalam sehari. Saya kira tidak ada agama yang begitu ritualistik seperti Islam. Kalau Kristen itu seminggu sekali ke gereja dan ibadahnya sederhana sekali. Islam itu 5 kali sehari. Kalau kita  pahami secara ritualistik saja jadi terjebak betul dalam ritualisme itu.

Sebenarnya, kalau dalam kisah Isra Mi’raj, dari yang sering kita dengar dari para mubaligh, perintah shalat pertama adalah 50 waktu dalam sehari. Turun sampai ke langit keenam, Nabi Musa menasehati Rasulullah; Tidak mampu umatmu, kembalilah kepada Allah minta dikurang. Bayangkan kalau 50 waktu dalam sehari. Jadi apa kita ini? Kembali ke Allah didiskon 5 waktu jadi hanya 45. Sampai ke Nabi Musa bilang; itu masih terlalu banyak, umatmu tidak mampu. Dan itu berulangkali sampai akhirnya tinggal 5 waktu seperti yang kita amalkan sekarang. Nabi Musa masih mengatakan umatmu tidak mampu, kembalilah. Tapi Nabi Muhammad bilang; aduh saya sudah malu, tidak punya muka kalau harus kembali lagi. Bayangkan kembali berkalikali dari 50 menjadi 5.

P1180703EDIT

Dari Personal Ke Sosial

Jadi, kalau kita lihat dari agama-agama lain, perbandingannya memang yang paling padat acara ritualnya adalah Islam. Sesungguhnya tidak otomatis dengan kegiatan ritual yang begitu intensif, begitu padat, lalu kemudian menjadi bermasalah. Tapi ada pemahaman yang menurut saya perlu direformasi. Semua ibadah yang empat; shalat , shaum, zakat, haji, semua dipahami sebagai ritus. Kalau ritus itu memang konsep tujuan bagi dirinya sendiri. Tidak menghitung dampak. Asal shalatnya sudaha bagus dianggap sudah selesai. Karena sekali lagi, ritual, upacara, itu kan memang strict. Tapi kalau kita renungkan, acara keagamaan kita yang empat itu ada persambungan yang luar baisa kuat dengan aspek sosialnya.

Shalat sangat pribadi. Ketika kita ada di dalam shalat, kita tidak boleh berkomunikasi dengan orang lain. Meski dengan orang yang bertahun-tahun ditunggu. Tiba-tiba ada di samping. Kita tidak boleh menyapa. Tidak boleh tergopoh-gopoh aduh sudah lama saya menunggu. Tapi seolah kita  tidak tahu dan tidak kenal karena kita hanya kepada SATU. Jadi ada de-linking, proses pemutusan hubungan yang total ketika orang menjalankan shalat. Seolah kita ini soliter. Sendiri di dunia ini. Tapi shalat itu tidak sah kalau tidak ditutup dengan salam. Dan salam dianjurkan melingkar dari titik ke titik. Disunahkan sampai pol leher bisa memutar. Salam itu harus kita ucapkan ada atau tidak ada orang. Jangan karena shalat sendiri, tidak ada orang, lalu tidak salam. Harus salam, karena salam itu adalah sebuah perjanjian damai dengan semesta. Bukan hanya dengan manusia. Bukan hanya dengan manusia yang seagama dan sepaham. Bahkan dengan makhluk seluruhnya. Jadi semesta harus mendapatkan percikan komitmen kedamaian dari tiap orang yang shalat.

Kalau tidak, justru sesudah salam lalu menyerbu. Ini masalah besar. Menyerbu orang yang tidak sepaham. Ini menjadi mode. Padahal itu perjanjian damai. Sekali llagi, salam tidak ditujukan kepada siapa tapi semesta. Begitu juga puasa. Sangat pribadi. Tidak ada oranang yang tahu saya berpuasa kecuali Allah dan saya sendiri. Meski tidak kelihatan makan di depan orang lain. Siapa tahu saya masuk ke mal tidak ada orang kenal dan saya makan. Atau masuk ke kamar kecil kemudian bawa minum dan tidak ada orang tahu. Puasa sangat pribadi.  “Ashaumu li wa ana ajzi bih” (puasa itu milik-Ku, dan Akulah yang memberikan balasannya) “. Kata Allah di dalam suatu Hadis Qudsi. Tapi puasa akan digantung, ditangguhkan, pahalanya kalau zakat belum kita bayarkan. Jadi, puasa yang sangat pribadi pun dipertautkan dengan komitmen sosialnya. Zakat pun jelas. Meski zakat lama-lama dipahami sebagai ritual saja. Salah satu kesadaran ritualistik ialah  bentuk menjadi pertaruhan. Itu satu ciri konsep ritual. Haji itu ritual kolosal. Itu pun harus ditutup dengan menyembelih kurban untuk diberikan kepada yang lain.

Jadi, seluruh konsep Islam, tiang Islam yang begitu penting, fundamental, berawal dari sesuatu yang sifatnya personal. Tapi harus bermuara kepada yang bersifat sosial. Ini yang menurut saya harus kita renungkan. Karena muara dalam kehidupan  bersama ini hilang. Karena kita memahami ajaran-ajaran tadi sangat ritualistik. Sangat pribadi. Padahal, sekali lagi, muaranya kepada konsep perjanjian bersama kepada orang lain bahkan semesta. Bukan hanya kepada diri sendiri atau kelompoknya.

Ini mungkin suatu penjelasan kenapa umat yang begitu intensif beribadahnya tapi secara sosial ada kebangkrutan. Egoisme menonjol bukan hanya kepada orang beda agama tapi kepada orang yang segama tapi beda paham. Itu pun egoismenya  menajdi pertaruhan juga. Sangat menonjol sekali. kalau itu terus dibiarkan, tidak ada masa depan bagi kita. Perlu inklusivisme, digarwibawahi dengan lebih kuat lagi. Saya kira kembali saja kepada konsep dasar Islam; salam, damai. Salam adalah sifat Allah yang paling banyak kita disuruh untuk mengucapkannya. “Ucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun kepada yang tidak engkau kenal [Wa man lam ta’rif]”. Yang kau kenal mungkin karena satu partai, ormas, agama, bahkan kepada yang tidak kita kenal. Juga kepada orang yang beda agama. Ada memang sebagian misal kita tidak boleh mengucapkan salam kepada orang yang beda agama. Kata siapa? Apakah kemudian Islam menjadi runtuh hanya karena  kita  berbuat baik kepada orang lain?

 P1180748EDIT

Pedang, Argumen, dan Hati

Saya kira hal-hal seperti itu pertanyaan sederhana tapi harus kita pertanyakan. Sebab kalau kita ingin menaklukkan orang, kata ajaran sufi, ada 3 level: Menaklukan  secara fisik, Argumen keilmuan dan Hati. Orang bisa memenangkan secara fisik karena badanya kekar dan pakai senjata. Tapi orang yang dikalahkan secara fisik itu tidak ada seorang pun yang ikhlas. Pasti akan membuat perhitungan.  Jika bisa membalas pasti akan dibalas lebih kejam. Kalau tidak akan dibawa sampai mati.  Itu orang yang dikalahkan secara fisik. Kemenangan kedua adalah kemenangan argumen. Kemenangan ini lebih tinggi nilainya dari sebelumnya.  Tapi orang yang kalah secara argumen dia pasti akan mengaji kepada orang lain. Bagaimana saya bisa menjawab tantangan dari lawan bicara saya. Dia akan baca buku, bertanya. Jadi dia tidak akan pernah menyerah.

Kemenangan yang sejati adalah kemenangan hati, bukan dengan fisik dan argumen. Tapi dengan kemuliaan budi.  Ada sebuah cerita di dalam Sejarah Nabi. Waktu masih di Mekah, beliau kelelahan tertidur di bawah pohon kurma. Datang seorang kafir Quraisy, pemuda yang sangat perkasa. Namanya Da’tsur. Begitu melihat  Rasulullah sedang tertidur lelap, apalagi melihat pedang di tangannya. Diambillah pedang Rasulullah. Lalu ditendangnya kaki Rasulullah “Hai Muhammad, bangun. Da’tsur memperlihatkan pedang; “Apa yang akan kau katakan sekarang? Siapa yang akan melindungi kamu dari pedang yang sudah ada di tangan saya ini? Nabi menajwab “Allah yang melindungi saya”

Mendengar ucapan Rasulullah, Da’tsur bergetar dan pedang terjatuh. Dia lemas. Nabi mengambil pedang. Da’tsur yang mengendap minta ampun. “Da’tsur sekarang pedang sudah di tangan saya. Siapa  yang akan melindungi kamu?” Dia ketakutan luar biasa. Melihat itu Rasulullah iba. Tidak usah takut. Kamu tidak akan apa-apa. Tapi jangan kau ulangi lagi perilakumu selama ini.” Da’tsur menyembah dan mencium kaki Rasululah habis-habisan lalu pulang ke kampungnya. Tiap kali bertemu dengan  orang-orang, dia mengtakan; “Saya tidak pernah bertemu dengan manusia semulia Muhammad”. Itu dikatakan kepada semua orang yang selama ini membenci Beliau. Itulah yang membuat sejumlah orang mulai menerima kehadiran Rasulullah. Da’tsur dikalahkan bukan oleh pedang dan argumen tapi oleh kemuliaan budi.

P1180700EDITSyariat Normatif, Implementatif dan Preventif

Saya kira, keteladan-keteladanan seperti ini yang hilang. Orang lebih menampakan ke-Islaman dengan kekerasan, kebengisan, dan kebencian. Tidak ada yang bisa diperoleh kecuali kebencian yang lebih besar kepada Islam dan kita sendiri. Sekali llagi, itu karena  kita salah menangkap pesan Islam. Itu bukan syariat. Syariat itu tahap awal untuk mencapai apa yang disebut dengan ahlaq. Apalagi kalau kita  telusuri. Syariat apa yang belum terwujud di negeri ini sehingga ada teman-teman yang saking semangat bee-Islam, negara ini harus dibongkar habis. Ada buku hijau yang dikarang seorang radikalis. Bahwa Negri ini adalah negeri taghut. Semua orang yang bersetuju dengan negeri ini, dengan UUD, UU dan seluruh peraturan Pemerintah dan ridha dengan itu, halal darahnya. Artinya boleh dibunuh. Gara-gara apa? Gara-gara katanya syariat belum ditegakkan, diberlakukan, di sini. Kalau ditelusuri, syariat apa yang belum ditegakkan di sini? Syariat itu pertama syariat normatif. Apa yang tidak boleh harus kita katakan tidak boleh. Haram. Apa yang halal kita katakan halal. Tidak ada saya kira, apa yang secara syariat dikatakan haram tapi di Republik ini dihalalkan.

Judi diharamkan. dilarang disebutnya. Minuman keras juga ada larangannya. Hanya dalam level syariat implementatif dan preventif-nya masih ada masalah. Tapi secara noematif tidak ada sesuatu yang secara qath’i diharamkan agama tapi oleh Negara dihalakan. Dan tidak ada sesuatu yang secara normatif dihalalkan tapi oleh Negara diharamkan. Pada level syariat, penindakannya, misal dalam fiqih atau hukum syariat, minum miras akan dicambuk, pezina dirajam. Sebenarnya ini bisa diluruskan secara sosiologis. Pada jaman Rasulullah, hukuman lebih banyak hukuman badan  yang langsung tunai karena hukuman penjara memang belum ada. Fasilitas penjara pada masyarakat nomad. Jadi lebih pada sanksi yang langsung tunai, denda atau potong tangan atau leher. Itu pertama.

P1180752EDIT

Hudud A’la dan Adna  

Kedua, sesungguhnya apa yang disebut dengan hudud. Dalam Al Qur’an dan itu sering sekali menjadi alasan keberatan. Hudud artinya batas. Batas apa? Ada batas minimum dan maksimum. Dalam syariat, kalau bicara batas menyangkut sanksi pasti yang dimaksud adalah batas maksimum. Potong tangan itu batas maksimum dari hukuman. Qisas adalah batas maksium dari  pembunuhan. Hudud bagi yang membunuh, dibunuh. Jadi kesetimpalan. Logis. Tapi apakah di bawah yang maksimum itu melanggar syariat? Tidak. Sama dengan undang-undang, semua UU bicara tentang pemidanaan. Itu pasti setinggi-tingginya. Kalau hakim tidak  memutuskan  hukuman setinggi-tingginya, apakah tidak menegakkan hukum? Karena ada faktor-faktor yang memang layak untuk menjadi faktor peringan. Ketika hakim tidak memutuskan yang maksimum bukan berarti tidak menegakkan hukum.

Ini terjadi saat Sayidina Umar sebagai khalifah. Ada seorang yang mencuri onta. Dua budak Saad bin Abibal Ta’ah mencuri onta tetangga. Kemudian dilaporkan kepada Khalifah. Umar  tidak langsung memutuskan, meski onta ini sudah  lebih 1 nisab, sudah bisa dipotong tangan. Itu yang diancamkan. Kita lihat dulu apa kasusnya. Selidik punya selidik ternyata si budak ini mencuri karena kelaparan dua hari tidak dikasih makan sama majikannya. Lalu apa yang diputuskan Umar sebagai khalifah? Bebaskan itu budak. Lalu majikan itulah yang didenda untukmenukar onta yang dicuri.  Umar tidak memotong tangan budak tadi padahal itu sudah lebih 1 nisab. Apakah dia tidak menegakkan syariat?

Qisas misalnya. Arti harfiah Qisas adalah hukum setimpal. Dan itu maksimum. Ayat yang slalu disebut oleh teman-teman pengusung syariat selalu ayat yang bicara menegakkan syariat: “faman lam yahkum bimaa anzalallah faulaaika humul kaafiruun”. Artinya: “…Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka adalah orang-orang kafir(44)….Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (45)” (Q.S. al Maidah).

Sebenarnya itu konteksnya adalah kepada masyarakat Yahudi yang waktu itu banyak yang memang kejam. Kaidah mereka dalam menghukum orang adalah pembalasan harus lebih kejam dari tindakan. Suatu saat ada satu kampung di mana seorang anak dibunuh oleh warga kampung lain. Beda suku, mungkin bukan Yahudi. Lalu orangtuanya marah besar dan tuntutannya, didukung orang sekampung, ada tiga untuk mengadili pembunuh itu. Pertama, anaknya harus dihidupkan kembali. Itu tidak mungkn. Lalu nego. Akhirnya, diturunkan, dia minta rumahnya  dipenuhi bintang gemintang yang ada di langit. Itu juga mustahil. Akhirnya nego lagi. Terakhir, kalau tidak bisa maka seluruh kampung pembunuh itu akan dihabisi. Ini kaidah pembalasan lebih kejam dari tindakan.

Maka turunlah ayat tentang Qisas. Qisas artinya hukuman setimpal. Dia membunuh ya dibunuh. Yang membunuh saja jangan yang lainnya. Kalau kita  lihat konteksnya, maka  faman lam yahkum bimaa anzalallah itu adalah orang yang menghukum orang secara berlebihan. Melebihi dari tindakannya, bukan yang kurang dari perbuatannya. Bahkan sampai diampuni pun bisa. Membunuh tapi diganti dengan membayar diyat. Itu tidak bunuh dibalas bunuh dan tidak melanggar syariat. Diganti onta sekian puluh. Sampai pada akhirnya dibebaskan, kalau akhirnya si keluarga mengikhlaskan. Itu pun syar’i. Jadi yang disebut dengan hukum syara’ itu tidak berarti seperti yang kita kenal dengan hudud. Hudud itu, sekali lagi, maknanya adalah batas. Batas apa? Hudud dalam hal hukuman artinya batas maksimum. Dan jarang sekali hukuman itu maksimum karena pasti ada faktor-faktor lain.

Tapi kalau batas yang berkaitan degan kebaikan, itu maknanya adalah batas minimum. Misal, shalat 5 waktu bukan berarti tidak boleh lebih dari 5 kali. Bisa ditambah. Itulah sunah. Sedekah wajib sekian persen, kita membayar lebih ya bagus. Jadi batas itu ada dua;  batas maksimum dan minimum. Hudud A’la dan Hudu Adna. Kalau itu hukuman maka maksimum, di bawah itu tidak melanggar. Hudud berkaitan kebaikan itu minimum. Di atas itu tidak melanggar. Itu pemahaman syariah yang sedehana.

Sekali lagi saya ingin garisbawahi, bahwa jargon memekikkan syariat-syariat itu harus dipikirkan lagi. Yang lebih tepat adalah ahlaq; kejujuran, berbuat baik kepada sesama bahkan kepada orang yang beda agama. Cara dakwah yang paling efektif adalah dengan kebaikan, bukan dengan memusuhi. Itulah inti dari Islam, dan dengan kita berpuasa mudah-mudahan dapat melakukan refleksi yang lebih mendalam untuk itu.

Dari Tausiyah Ramadhan di Kediaman Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI, Dr HC Zulkifli Hasan (12/7/13).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s