Pemilik Sari Pati

P1190446EDIT

Prof. Dr. Quraish Shihab (Dewan Kehormatan ICMI Pusat)

Tahun lalu, di tempat ini, saya memberi contoh gabungan dari materi akal dan rasa yang melahirkan getaran, yang disebut antara lain oleh Pak Habibie. Misal; gitar. Bahannya dari materi, tapi dengan akal seseorang membuat gitar itu. Kemudian dengan rasa dia menjadi komposer, mengarang lagu-lagu sehingga lahir nada yang menggetarkan jiwa. Mestinya cendekiawan muslim seperti itu. Tidak cuma fisik, akal, tapi juga kalbu. Mestinya  kita di samping berfikir juga harus merasa, mencintai dan bekerja. Tadi Pak Habibie cerita tentang awal sejarah lahirnya ICMI. Saya teringat, pernah kita diskusikan apa gambaran dari cendekiawan muslim itu menurut Al Qur’an. Pak Muslimin Nasution juga masih ingat diskusi-diskusi waktu itu.

Ulul Albab

Ada orang pintar, tapi bukan itu yang dinamakan cendekiawan muslim. Karena menurut Al Qur’an, ada orang yang dianugerahi ilmu tapi dengan ilmu itu dirinya mencampakkannya. Dia melepaskan diri dari ilmunya  dengan meninggalkan nilai-nilainya. Sehingga setan mengikuti dia. Jadi dia sudah lebih dari setan. Kalau orang yang setengah jahat itu baru mengikuti setan. Dia diibaratkan seperti anjing yang terus menerus menjulurkan lidahnya, baik dia kehausan maupun tidak. Punya Ilmu tapi meninggalkan nilai-nilainya.

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami [pengetahuan tentang isi Al Kitab], kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan [sampai dia tergoda], maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (175) Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan [derajat]nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya [juga]. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah [kepada mereka] kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (176) ( QS. Al A’raf)

P1190325EDIT

Saya teringat, waktu itu saya katakan, sebenarnya  cendekiawan muslim itu adalah Ulul Albab. Ulu itu bentuk jamak: pemilik. Bentuk tunggalnya; ala. Albab juga berbentuk jamak. Tunggalnya Lubb; sari pati. Tiap cendekiawan muslim harus memiliki minimal 3 saripati. Hal tersebut dilukiskan Al Qur’’an, antara lain;

“[yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi [seraya berkata]: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (191) Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (192) Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar [seruan] yang menyeru kepada iman [yaitu]: “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (193) Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (194) (QS. Al Imran)

Dia merenungkan Allah, dengan renungannya akan bergetar jiwanya.  Dia berfikir tentang alam raya dan hasil pemikirannya mengatakan; Tuhan, Engkau tidak menciptakan ini sia-sia. Ada tujuannnya. Karena itu, dia bekerja, bekerja dan bekerja. Harus ada saripatinya. Al Qur’an juga mengatakan, banyak orang yang hanya mengetahui fenomena, tapi tidak mengetahui substansinya. Ulul Albab mengetahui substansinya, dan tidak mungkin ia diketahui sebelum mengetahui fenomena. Substansi diibaratkan seperti biji dalam jeruk. Anda tidak mungkin menemukan biji itu sebelum mengupasnya. Setelah menguliti jeruk, Anda masih harus menemukan  daging, serat, air. 

P1190375EDIT

Kecerdasan Menyeluruh

Karena itu, dalam pandangan ilmuwan muslim, ada tiga hal minimal yang harus diupayakan oleh tiap cendekiawan, yaitu meraih kecerdasan fisik, intelektual dan emosional, juga spiritual. Jangan pernah menduga bahwa kecerdasan bertolak belakang dengan ketidaktahuan. Bisa jadi ada orang berkata saya tidak tahu, dia lebih cerdas daripada yang berkata tahu padahal dia bodoh. Ketika lampu ini padam lalu seorang berkata ‘mari kita perbaki’. Yang satu berkata ‘Oh saya  tidak tahu memperbaikinya’. Siapa yang lebih cerdas? Cendekiawan muslim tidak asal bunyi.

Kecedasan spiritual, sekarang di bulan puasa, kita berusaha meningkatannya.  Kita harus cerdas secara spiritual. Ada orang yang menabrak kucing, dia turun buka bajunya dan simpan baik kucing itu atau ditanam. Tapi ketika menabrak manusia, dia lari. ini tidak memiliki kecerdasan spiritual. Ada orang percaya angka 13, dia tidak memiliki kecerdasan spiritual. Bulan puasa itu sebenarnya upaya kita meningkatkan kecerdasan-kecerdaan tersebut.

Kecerdasan Emosi. Allah tidak pernah melarang kita marah. Boleh marah tapi dengan cerdas. Kalau marah tahan dulu, untuk berpikir apakah orang yang dihadapan saya ini yang harsu dimarahi atau orang lain. Jangan seperti seorang bapak yang di kantor dimarahi bos lalu pulang memarahi istrinya. Berfikirlah. Ini orangnya atau bukan. Kalau ini orangnya, tahan lagi kemarahan. Bagaimana menahannya sekarang? Pikirkanlah, apakah sudah di sini tempatnya atau nanti. Kalau sudah berkata di sini tempatnya, tahan lagi dulu. Sekarang pikirkanlah dengan cerdas, bagaimana bentuk kemarahan yang harus Anda keluarkan. Itu orang yang cerdas emosinya.

Orang yang cerdas secara spiritual menjadi sangat dekat  dengan Tuhan. Saya sangat tertarik dengan kalimat Pak Habibie: merasakan getaran. Sekian banyak ilmuwan yang memperoleh informasi dari Tuhan menyangkut hal-hal yang tidak diusahakannya. Bisa jadi melalui mimpi. Itu informasi dari Tuhan karena dia dekat kepadaNYA. Bisa jadi orang mengatakan kebetulan. Alangkah banyaknya hakikat-hakikat ilmu yang terjadi justru karena kebetulan. Itu karena getaran hatinya bertemu dengan Tuhan. Kita di ICMI atau cendekiawan muslim seharusnya demikian. Terakhir, harus cerdas  dalam bekerja. Jangan sampai yang terjadi adalah pemborosan, aktivitas tidak bermanfaat, kerja kita hanya terbatas manfaatnya. Keterbatasan untuk kelompok kita saja. Maka kerja kita harus menyeluruh manfaatnya untuk seluruh umat manusia.  

Dari Tausiyah Ramadan di kediaman Prof. Dr. –Ing. BJ Habibie & Dr. –Ing Ilham Akbar Habibie, MBA (22/7/123)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s