Islam dan Harta Kekayaan

P1190925EDIT

Prof. Dr. KH. Miftah Faridl (Dewan Pakar ICMI Pusat)

Salahsatu masalah kehidupan yang mendapat perhatian panjang lebar dari Al Qur’an adalah menyangkut pengaturan harta kekayaan. Al Qur’an punya kebiasaan, kalau mengungkapkan sesuatu selalu dalam batas-batas global dan  umum. Misal soal ibadah shalat, hanya menyatakan lakukan shalat di ujung siang dan malam. Tapi teknis shalat dikemukakan sumber hukum kita yang kedua; Hadis, praktek shalat Rasul. Begitu juga tentang haji, hanya dikatakan haji wajib dengan ikhlas. Sedang detil cara teknis haji sepenuhnya dipraktekkan dalam amalan Rasulullah/ sunnah, yaitu: ‘Lakukan hajimu seperti haji aku’.

Ketika berbicara faktor musyawarah, detilnya tidak ada di Al Qur’an, tapi diwujudkan dalam bentuk ijtihad para ulama.  Soal kepemimpinan, umpamanya, Al Qur’an tidak menyebut bagaimana cara memilihnya, tapi para sahabat berlainan ketika pemilihan. Abu Bakar Shiddiq, Umar, Ustman juga Ali. Empat kali fase saja sudah 4 cara pemilihannya. Jadi kita diberi kebebasan.

Tapi ketika Al Qur’an berbicara tentang harta; hukum waris, hampir tuntas di dalamnya. Peran hadis dan ijtihad para ulama kecil sekali. Soal utang piutang dalam Al Baqarah 286 dibicarakan sampai detil. Bagaimana ditulis, lalu kalau tidak bisa harus ada saksi, dll. Apa sebabnya? Tentu hanya Allah yang Maha Tahu. Kita boleh mengadakan analisa apa sebabnya.

Secara garis besar Al Qur’an mengajarkan, harta yang ada pada manusia, pertama, merupakan anugerah dari Allah. Beberapa ayat memberikan ajaran tentang kekayaan, sudah Allah tentukan. Kalau kita baca hadis riwayat Muslim yang menyatakan dalam usia  3x 40 hari sudah ditetapkan kaya-miskin, mungkin orang bisa menjadi fatalistis. Sampai tidak perlu Menko Perekonomian. Tapi Al Qur’an menyatakan: Aku (Allah) Maha Kuasa untuk menetapkan nasib seseorang. Tapi Allah juga Maha Kuasa untuk merubah apa yg sudah ditetapkan Allah. Jadi hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui. Karena harta adalah anugerah Allah, maka harus disyukuri.

Kedua, harta itu dikatakan sebagai amanah, titipan dari Allah, sehingga harus dipertanggungjawabkan. Makin banyak kekayaan yang kita mendapatkan amanah, makin panjang proses hisab kita, dibanding saudara-saudara kita yang mendapat amanah sedikit tentang kekayaan itu. Al Qur’an juga menyebutkan harta kekayaan itu merupakan fitnah. Artinya ujian. Sehingga perlu disikapi sebagai ujian. Bisa seseorang menjadi baik, bisa juga menjadi tidak.

Ada seorang sahabat berkata;  Ya Rasulullah, saya kadang iri melihat sahabat-sahabat saya yang kaya itu. Kata Rasulullah; orang Islam tidak boleh iri. Bagaimana saya tidak iri, mereka bisa sedekah dan zakat. Saya tidak bisa apa-apa, karena tidak punya. Kata Nabi; orang kaya memang punya kesempatan yang luas untuk beramal. Tapi kamu harus tahu juga, orang kaya punya kesempatan yang lebih luas juga untuk berbuat dosa. Jadi seimbang. kemudian Al Qur’an menyebutkan lagi, harta kekayaan merupakan Zinatul Hayat; sebuah hiasan hidup yang ada kecenderungan manusia menjadi sombong karena kekayaannya.  Kelima, tentu saja harta merupakan bekal ibadah sehingga ada ibadah harta.

Tema Harta dalam Al Qur’an

Kembali kita mengkaji tentang Al Qur’an. Ada hal yang menarik sering dilupakan. Ternyata sentuhan pembicaraan tentang harta  sudah dibahas Al Qur’an sejak wahyu-wahyu di tahun-tahun pertama Kenabian. Umpamanya, sejak surat Al Lahab. Ketika Abu Lahab dengan sombong mencacimaki Nabi, Al Qur’an sudah mulai membicarakan. Bahwa Abu Lahab-lah yang celaka. Diceritakan; harta dia yang  banyak itu tidak bisa memberikan jaminan keselamatan dia,  waktu itu Abu Lahab yakin, karena  dia kaya bisa berbuat apa saja.

Kalau kita urutkan Al Qur’an dari juzamma terakhir, kita akan temukan ungkapan-ungkapan harta sudah disentuh sejak Nabi di Mekkah. Sebelum ada ketentuan mengenai wajib shalat dll. Tapi soal harta, selain akidah, tauhid tentu saja, umpama ketika Al Qur’an berbicara tentang ujian kepada kota Makkah, dan surat Quraish bahwa kota Makkah adalah kota ideal. Indikatornya, negeri yg ideal adalah bebas dari rasa takut dan lapar.

Kemudian kita baca lagi dalam surat Al Maun. Sejak awal, sebelum ada perintah lain, sudh dinyatakan bahwa perusak agama adalah yang membiarkan dan menelantarkan anak yatim dan fakir miskin. Disebut sebagai pendusta agama. Kemudian surat Al Humazah. Orang yang celaka adalah mereka yang sibuk menimbun harta dan menghitung-hitungnya. Mereka mengira hart itu yang membuat dia hidup selama-lamanya. Lebih tajam lagi di surat At Takatsur. Kesibukan kamu menimbun-nimbun kekayaan, baru sadar setelah masuk kubur. Itu isyarat-syarat tentang harta. Dalam surat Al Balad. Apa sebetulanya Al aqabah? Pendakian esensi perjuangan dalam Islam itu apa” Ialah membebaskan orang-orang lemah dan memeberi  makan kepada mereka  yang lapar.  Esensi perjuangan . Judulnya juga tentang negara. Dan banyak lagi dalam surat-surat Makkiyah.

P1190952EDIT

Empat Lalulintas Kekayaan

Mungkin saya salah, saya menyerahkan kepada mahasiswa saya di Bandung. tentang materi khutbah dan dakwah. Sekian puluh bahkan hampir seratus. Yang menarik, tentang harta jarang dibahas. Yang lainnya, soal zikir, shalat,dll. Bagaimana semangat kerja itu jihad atau kejujuran dalam pengaturan harta merupakan kunci keselamatan. Dan di antara rukun Islam, yang berkaitan  harta yang paling tertinggal. Tentang zakat, jangan-jangan paling banyak tidak dilakukan.  Lebih banyak yang berhaji dari yang berzakat. Ini barangkali  hal penting yang menjadi bagian dari renungan kita, Islam begitu besar memberikan perhatian tentang kekayaan.

ada 4 hal yg diatur dalam islam bagaimana perlalulintasan kekayaan. Pertama, melalui usaha/ kerja. Dikatakan, rizki yang paling berkah diperoleh dari hasil keringatmu sendiri. Ada satu contoh klasik ketika Abdurrahman bin Auf hijrah ke kota Madinah. Dia adalah konglomerat Makkah, tapi harus  jalan kaki juga 500 km pada Agustus yang panasnya bisa 52 derjat. Dia tinggalkan seluruh kekayaannya. Dia bertemu Saad, mitra bisnsinya di Madinah. Saad tahu; wah ini teman bisnis saya. Maka dia musyawarah dengan istri dan anak-anaknya. Ya, Abdurrahman, saya Saad. Saya di sini orang kaya. Saya kaya karena bermitra bisnis  dengan Anda.  saya sudah bagi dua kekayaan saya untuk Anda; rumah, kebun kurma. Ada tambahan kalau kata Ahmad Salabi,  istri saya ada dua… Itu tidak usah dibahas.

Yang menarik adalah, Abdurrahman bin Auf yang sedang sangat memerlukan ini, beliau menjawab dengan syair; Semoga Allah memberkahi harta Anda. Rujukannya kepada hadis. Harta makin disedekahkan makin berkah. Makin subur berkah itu unsurnya adalah nikmat, manfaat, maslahat, s hat, taat.  Kemudian; semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan Anda. karena menurut hadis tiap hari ada ratusan malaikat turun ke bumi pekerjaanya adalah mendoakan orang yang infak pada hari ini supaya diampuni dosa dan kesalahnnya. Kifarat penghapus dosa. Semoga Allah  merahmati keluarga Anda. Karena menurut hadis, tiap infak akan menjadikan rumah tangga kita sakinah mawadah warahmah, dll

Saya mohon maaf tidak siap menerima pemberian dari Anda, kata Abdurrahman. Masih banyak orang yang lebih memerlukan. Ada anak yatim, orang yang lebih tua, cacat, berikanlah ke sana  Tapi tolong tunjukkan kepada saya di mana tempat bisnis. Saya ingin membangun kembali bisnis yang saya tinggalkan di Mekkah. Yang menjadi pertanyaan; kenapa Abdurrahman tidak mau menerima  pemberian yang ikhlas tulus dari sahabat? Dia terikat pesan baginda Rasulullah yaitu; riski yang paling berkah adalah rizki yang kamu peroleh dari hasil kerjamu sendiri. Nabi  selalu menekanan tentang semangat kerja di satu sisi, di sisi lain semangat untuk memberi.

Jadi senang kerja dan memberi. Itulah karakter yang dibangun Rasulullah SAW. Beliau menyatakan; bagaimanapun yang memberi tetap lebih baik daripada yang menerimai. Sama-sama ahli tahajud. Yang memberi yang lebih baik. Karena itulah, sekian puluh hadis menyatakan kerjakeras itu adalah jihad, kifarat penghapus dosa, akan mengangkat derajat dan harkatmu di sisi Allah dan manusia.

Kedua, ada hukum waris. Kita dapat kekayaan karena orang tua meninggal. Ketiga, bentuk penemuan, disebut dalam fiqih ada luqqata, penemuan harta yang memang ada miliknya, mesti dikembalikan. Ada ritadz, yaitu penemuan harta karun yang ditentukan zakatnya; 20%. Inilah kemudian lahir semacam ijtihad kontemporer dari beberapa ulama. Bagi mereka yang mendapatkan penghasilan yang mudah dan besar kena 20%.

 

Keempat, ada ibadah amaliyah. Yang monumental disebut wakaf. Ada dua fatwa MUI. Pertama, ada wakaf dana abdi yang sebetulnya bukan hal baru. Di Mesir,dll sudah lama. Jadi wakaf boleh dengan  Rp 10 ribu. Tapi ditampung menjadi besar. Hasil mudarabahnya untuk umat. Kedua, wakaf pohon lindung. Difatwakan kalau kita menanam pohon lindung sama dengan menanam beton untuk masjid dan madrasah. Itu barangkali landasan teologis untuk melakukan dua gerakan tadi. Penghimpunan dana untuk umat dan penyelamatan lingkungan.

kemudian ada bentuk pemberian yang sifatnya konsumtif tapi memang untuk makan fakir mismin. fidyah dalam ramadhan. kifarat, denda-denda tertentu karena tidak bisa shauml, Kifarat ilah, sumpah salah, nazar yang tidak kesampaian dengan memberi makan 10 fakir miskin. Ibadah yang sifatnya harus dalam  bentuk daging. Ada al haju, haji tamatu atau qirad di sana harus potong satu kambing. ada udyah kurban pada tanggl 10, ada aqiqah ketika bayi di hari ketujuh. Ada yang sifatnya  konsumtif, produktif dan monumental. Itulah yang sekarang dikelola agak menurun yaitu ZIS. infaq dan sadaqah bisa sunah  atau wajib. Sedang zakat adalah wajib. Zakat waktunya ditentukan. Ada haul satu tahun satu kali. Ada yaumah hisadiq, hari panen untuk pertanian. Sedang sadaqah dan infaq bebas waktu. Kapan saja diperlukan dan kita ingin.

Prosentasenya zakat ditentukan. 2,5 –  20%. Sedang infaq tidak tapi boleh ditentukan oleh umara ulul amri. pimpinan organsiasi. Presidium ICMI boleh menetapkan. Seperti Pak Harto untuk yayasan amal bakti muslim pancasila, bisa  seribu masjid. Luar biasa kalau itu dijadikan sebuah gerakan infaq yang ditetapkan dan dilaksanakan bersama. Sasaraan infaq dan sadaqah  lebih luas dibanding zakat. Allah SWT berulangkali memberi jaminan tentang tidak akan ada orang menjadi miskin gara-gara infaq, sadaqah dan zakat. Bahkan dalam hadis qudsi dikatakan infaqkan hartamu Aku yang akan menggantinya. Barangsiapa yang memberilkan sadaqah kepada orang lain, seolah menghutangkan kepadaku. Aku yang akan akan membayarnya. Banyak sekali ayat yang memberikan jaminan.

Terakhir, yang penting juga untuk kita renungkan yaitu, ada pernyataan Rasulullah SAW; semua umat para nabi diuji oleh Allah dengan berbagai macam ujian, musibah , kelaparan, penyakit banjir besar, dll. Ujian terberat bagi umatku adalah harta kekayaan. Demi Allah, saya tidak pernah takut umatku hancur karena mereka miskin. Tapi saya takut umatku justru hancur-hancuran karena mereka kaya. Mudah-mudahan ini menjadi renungan kita. Harta bisa menjadi sumber pemberi tiket surga. Tapi harta bisa menjadi sumber bencana. Karena itu diingatkan dalam Al Qur’an;  Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, (6) karena dia melihat dirinya serba cukup. (7) – Al Alaq. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberi bimbingan kepada kita semua.

Dari tausiyah ramadan menjelang berbuka puasa di kediaman Bapak M. Hatta Rajasa (30/7/13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s