Apa Tugas Kita di Dunia?

9396496491_a6cd9de28a_c KH. Basri Bermanda, MBA – (Ketua MUI Pusat)

Patut kita bersyukur kepada Allah SWT, kita masih diberikan nikmat yang tidak terhingga. Nikmat iman, islam dan sehat wal afiat sehingga kita masih dapat bersilaturahim dalam keadaan kita sedang melaksanakan perintah Allah; berpuasa  dalam bulan Ramadhan. Kita sampaikan salam kepada junjungan kita Nabi Besar  Muhammad. Dari ajaran yang beliau bawalah kita menjadi umat yang wahidah dan insya Allah scara istiqamah menjalankan semua yang diperintahkan beliau kepada kita.

Lima Sendi Islam

Kita tahu bahwa ibadah puasa ini ibadah yang sangat  khusus, bahkan Allah mengatakan; untuk ibadah puasa ini Allah sendiri yang memberikan balasan pahalanya. Ibadah ini dipanggil hanya untuk orang-orang yang beriman. kenapa tidak ya ayyuhannas, atau muslimun? Tidak. Tapi disebut; orang-orang yang beriman. Seperti kita ketahui  ’’Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ’alaikum al-shiyamu ka maa kutiba ’alalladzina min qoblikum la’allakum tattaqun’’ (Al-Baqarah 183)

Seperti yang kita ketahui, ada misi kita sebagai umat, sebagai manusia . Kalau kita diciptakan ada dua tugas; Tugas Kehambaan dan Tugas Kekhalifahan. Tugas Kehambaan, tentu kita diberikan amanah untuk menjalankan keyakinan kita kepada ajaran Islam. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW duduk dengan para sahabat di Masjid Nabawi. sertamerta datang seorang yang tidak jelas dari mana asalnya, berpakaian putih bersih dan tidak kelihatan dia datang dari tempat jauh. Dia duduk di samping Rasulullah dan menyandarkan kedua tumitnya kepada Rasulullah seraya bertanya:

 “Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam menjawab, “Kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.” Dia berkata, “Kamu benar,” Umar berkata, “Maka kami kaget terhadapnya, karena dia yang bertanya tapi dia juga yang membenarkannya.”

Dia bertanya lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman?” Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk,” dia berkata, “Kamu benar.”

Dia bertanya, “Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan?” Beliau menjawab, “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya maka yakinlah sesungguhnya Dia melihatmu.”

Dia bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku kapan hari (kiamat) itu?” Beliau menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya itu (saya) lebih mengetahui daripada orang yang bertanya (kamu).” Dia bertanya, “Kalau begitu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya?” Beliau menjawab, “Apabila seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.” Kemudian setelah itu dia beranjak pergi, dan aku tidak bertanya kepada Nabi tentang itu selama beberapa saat. Tidak berselang lama kemudian beliau bersabda, “Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Itu tadi adalah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.” — HR. Muslim no.8

Intinya, ada 5 sendi yang menjadikan kita Islam. Pertama, percaya bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasulullah. Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir. Jadi kalau ada yang mengaku nabi selain Muhammad, jelas dia bukan islam.  Kedua, shalat. Shalat yg diwajibkan kepada kita 5 waktu dan zakat dan puasa serta haji ke Baitullah.

9399264816_acb9999162_c

Tugas Kehambaan

Tugas kehambaan inilah yang perlu kita canangkan bahwa paling tidak 5 sendi  dalam Islam, sebagai hamba Allah, harus kita laksanakan. Hari ini kita berada dalam tahap kedua dalam Ramadhan. Tahap pertama  kita lalui 10 hari pertama. insya Allah hari itu penuh dengan rahmat Allah. Yang  sekarang penuh dengan maghfirah Allah. saya yakin kita semua, umat Islam, apapun posisi dan kedudukannya,  tokoh politik, pemerintah,  walau legislatif dll. Kalau kehambaannya ditanamkan dan diamalkan dengan baik, saya yakin, kita sadar kita hamba Allah di mana pun kapanpun kita berada, ada yang mengontrol kita secara terus menerus yaitu Allah.

Dikatakan dalam Al Qur’an; tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaku. Artinya, di mana pun, kemanapun  dan dalam situasi apapun, kita tahu kita dalam kontrol Allah. Sebab itu, kalau ini disadari tokoh-tokoh Islam  yang  mempunyai posisi di manapun, saya kira KPK tidak perlu karena ada yang mengawasinya. Nanti akan dipertanggungjawabkan semuanya di akhirat

Oleh sebab itu, kejujuran  menjadi misi dalam kehambaan kepada Allah,  perlu  kita implementasikan dalam kehidupan seharihari. Kapan itu bisa kita lakukan. Bagaimana ini menjadi suatu tarbiyah, pendidikan kejiwaan, kelimuan dll. Pada saat kita berpuasa, nilai-nilai kejujuran itu makin kita kuatkan. Puasa ini adalah   jembatan untuk memperkuat nilai-nilai kejujuran pada kita sendiri. Bayangkan siapa yang tahu, di sini apa yang tidak ada. Di kulkas penuh segala macam makanan. Ada rendang, sate, di depan kita, sudah enak, padahal kita sudah lapar dan haus. Kenapa kita tidak mau memakannya? Karena di sini kita berniat puasa betul-betul menjalankan perintah Allah SWT. Kita jalankan ini karena kita hendak menegakkan la allakum tattaqun.

Ini fungsi kehambaan yang harus kita perkuat nilainya. Ketika kita menjalankan puasa Ramadhan. saya katakan sekali lagi, banyak makanan dan minuman tapi kita tidak mau menjamahnya sebelum datang saat berbuka. Kemarin ada yang baru menikah. Istrinya cantik  Semua bagus. Halal bagi seorang yang menikahinya. Tapi untuk  bulan puasa ini Allah katakan; jangan. Halal kalau nanti malam tapi pada saat berpuasa kita hentikan itu. Bayangkan saja. Kalau nilai kepatuhan ini kita teruskan di 11 bulan ke depan. Barang yang halal saja  diharamkan Allah pada saat kita berpuasa dan kita mampu melaksanakannya. Bagaimana dengan barang yang jelas diharamkan. Tentu kita mampu melaksanakannya. Pertanyaan; adakah implikasi nilai-nilai puasa dapat kita bawa  dalam kehidupan kita sehari-hari? Inilah yang penting kita amalkan. Karena output dari puasa ini adalah la allakum tattaqun. Artinya, semua perintah Allah kita jalankan. Apapun larangannya harus kita hindarkan

Tugas Kekhalifahan

Bapak dan ibu sekalian. Itu tugas kehambaan. Bagaimana kita menjadi hamba Allah yang baik, disiplin melaksanakan segala perintahnya. Kemudian ada tugas kedua. Tugas kekhalifahan. Sebagai manusia insan, kita adalah khalifatullah fil ardhi. kita adalah wakil Allah; duta-duta Allah di muka bumi ini. Artinya, misi yang diniatkan Allah waktu penciptaan Adam dan Hawa yaitu menjadi berkembangnya manusia di permukaan bumi sekarang ini, hendaknya juga harus membuat misi untuk bagaimana nilai-nilai keesaan Allah. Ketauhidan itu dapat dilaksanakan. kemudian misi yang lain. Bahwa kita hidup dalam masyarakat yang luar biasa banyaknya. Sekarang umat Islam 1,3 milyar lebih, dari 6 milyar lebih penduduk dunia, dan untuk seluruhnya kita semua manusia. Apapun agamanya, pada hakikatnya dia adalah khalifatullah.

9396497279_57e5b97aa5_c

Sebab itu, Rasulullah memberikan contoh bagaimana membuat negara yang baik,  bangsa yang baik. Islam dapat memimpin dunia ini. Rasulullah memberikan contoh tentang kepemimpinan. Kita lihat kalau ahli manajemen bicara tentang power sharing dalam pemerintahan. Padahal Nabi Muhammad jauh 1400 tahun yang lalu sudah ada manajemen kepemimpinan. Beliau memberikan dan membagi kekuasaan; delegate of authority, power sharing, ketika Muadz ditugaskan pergi ke Yaman untuk memimpin negara Yaman, Nabi Muhammad bertanya; ya Muadz, dengan apa engkau berhukum? Aku akan berhukum dengan Al Qur’an yang aku pahami. Kalau itu  tidak kau temui, dengan apa? Saya akan melihat Hadis Nabi. Kalau dari itu pun tidak kau temui, apa lagi? Aku bersaksi kepada Allah dan Rasulnya aku ambil ijtihad untuk memutuskan sepanjang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis.

Demikian hebatnya bagaimana manajemen kepemimpinan sebuah negara Islam . di samping power sharing, diberikan infromation sharing. Betapa banyak dalam Al Qur’an informasi-informasi ini. tentang hukum, teknologi. contoh dalam Isra  Mi’raj;

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. al-Israa’ (17): 1]

Ayat tersebut penuh dengan nilai-nilai teknologi. Perjalanan masjidil haram dan Masjidil Aqsa yang jauh. Waktu itu kendaraan hanya onta dan kuda. Tapi dapat ditempuh oleh nabi dalam satu malam. Bahkan sampai ke sidratul muntaha . Saat itu logika tidak menerimanya. Tapi memang Allah bilang kalau ini diberikan Allah, satu ketika nanti manusia akan sampai ke sana. Sekarang kita saksikan, kita bisa pergi-pulang dari sini ke Mekkah kalau punya pesawat khusus. Apalagi kalau hanya dari masjidil haram ke masjidil Aqsa di Palestina. Artinya, ada muatan-muatan teknologi  dalam Al Qur’an yang harus kita pelajari dan dalami.

Hadirin sekalian. Inilah tugas kekhalifahan, menyatakan eksistensi ajaran Allah, memberikan kepada umat ini bahwa Islam berul-betul agama yang sangat ilmiah. Bisa dibuktikan secara ilmiah, juga rohaniyah.

Puasa adalah tempatn kita memperkuat nilai-nilai kehambaan dan kekhalifahan. Saya katakan tadi, kepemipinan Rasulullah sebagai khlalifah yang menyampaikn ajaran-ajaran Allah. Nabi memberikan contoh bagaimana berdakwah yang baik. tidak perlu menyakiti hati orang, tidak perlu melakukan gerakan-gerakan yang membuat orang jadi tidak nyaman dengan Islam. Karena Islam menyampaikan ini penuh dengan kearifan. Dakwah kita adalah dakwah yang menyejukkan, bukan merisaukan. Inilah yang diberikan Nabi  Muhammad SAW saat beliau memimpin umat ini dalam waktu yang sangat singkat. Umat yang jahiliyah bisa menjadi umat yang tauladan  memimpin dunia saat itu.

Hadirin sekalian yang berbahagia. Apabila nilai-nilai puasa ini dapat kita jalankan sungguh-sungguh, setelah kita melakukan dengan baik maka insya Allah kita menjadi hamba Allah yang beriman dan taqwa. Sehingga saya yakin Iindonesia yang dihuni  82% umat Islam, kalau menjalankan puasa dengan baik dan  nilai-nilai puasa ini diteruskan, Indonesia menjadi teladan bagi negara-negara Islam yang lainnya.

Sebab itu, dalam kesempatan yang baik ini,  saya mengajak khususnya kepada diri sendiri dan kita semua. Mungkin untuk orang yang masih muda,  baru beberapa kali. Tapi bagi saya yang 70 tahun sudah berkalikali puasanya. sudahkah kita dapat menerapkan nilai-nilai puasa itu dalam kehidupan kita?  Mudah-mudahan kalau selama ini belum, insya Allah tahun depan akan baik sekali. Kalau 82% umat islam melakukan ini dengan baik, saya tidak  kuatir. Kalau dikatakan tahun ini adalah tahun politik, maka politik kita akan menjadi politik yang menyejukkan, bukan politik yang memberikan ketidaknyamanan kepada kita semua. Mudah-mudahan bapak ibu sekalian, marilah sekali lagi kita renungkan bahwa dua fungsi yang diberikan Allah kepada kita dapat kita jalankan dengan  sebaik-baiknya.

Dari tausiyah Ramadan di kediaman  Ketua DPD RI/ Dewan Penasehat ICMI Pusat, Irman Gusman, SE (26/7/13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s