Adil, Ihsan, dan Itsar

KH Nur 9389009489_c49c2707f2_zAlam Bakhtir |

Tujuan puasa yang disyariatkan sejak Nabi Adam yakni la allakum tattaqun. Wujud dari ketaqwaan adalah amal saleh. Amal saleh memiliki dimensi vertical dan horizonal. Dalam surat An Nahl : 90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

 

Tiga Level Amal Saleh

Bahwa yang dinamakan amal saleh ada tiga level. Pertama, amal saleh yang tarafnya adil. Ini yang digembargemborkan karena batas adil adalah zalim. Level kedua adalah ihsan dan ketiga adalah itsar Dalam surat Al Hasyr ayat 9:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung

Mereka lebih mengutamakan orang lain sungguhpun dirinya butuh. Misal: puasa; kalau kita bepergian dan sakit, adil kalau kita tidak berpuasa dan diganti di hari lain. Orang yang tidak mampu berpuasa karena sakit yang kronis atau sudah tua, yang tidak mungkin berpuasa , fidyah memberikan satu orang miskin makan. Tapi kalau lebih memberikannya satu karung atau 100 orang miskin, itu namanya ihsan. Kalau ia tetap berpuasa walau perjalanan 10 jam di pesawat terbang itu namanya itsar. Kalau kita mengutangkan uang kepada seseorang, adil kalau kita tetap menagih. Tapi di kala paceklik kita tidak menagih, memberikan keluangan kepada orang yang bersangkutan, itu namanya ihsan. Ternyata setelah kita tagih orang itu tidak punya kelapangan rizkinya, selalu paceklik, kita hibahkan sebagian atau seluruhnya, itu namanya itsar.

9391780336_ae0cfc341e_z

Seorang istri bisa berbuat itsar dalam keluarga. Kalau ternyata ditemui suaminya diam-diam menikah lagi, ketahuan oleh istri yang tua. Istri menuntut minta cerai. Itu tidak berdosa; adil, karena punya hak untuk tidak mau dimadu. Tapi kalau istri sekiranya tidak minta cerai, itu namanya istri yang ihsan. Apalagi kalau ternyata suami istri tidak punya anak. Istri menawarkan kepada suaminya sebagimana Siti Sarah menawarkan kepada Nabi Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar. Itu namanya itsar. Tapi sebaliknya, kalau ada teman saya yang hadiri di sini ternyata punya kemampuan uang banyak, jabatan tinggi, tidak tergoda oleh wanita lain, istrinya tetap satu. Itu namanya suami telah berbuat itsar, lebih mengutamakan perasaan istri dan anak-anak ketimbang hawa nafsu dirinya. ini luar biasa.

Sebentar lagi Pemerintah akan berbuat ihsan terhadap rakyat. Kabarnya pada 2014 ada yang namanya Jaminan Kesehatan Nasional, di mana seluruh rakyat tanpa kecuali yang miskin maupaun kaya, punya hak untuk berobat secara gratis. Beritanya di kalangan dokter di RSPAD, di kala saya berbuka puasa. Jadi terlalu banyak kalau kita bisa berbuat ihsan. Makanya kalau melihat Islam harus universal. Di Islam ada qisas. Qisas adalah adil. Tapi kalau keluarga korban memaafkan, itu namanya ihsan. Apalagi kalau membebaskan dari diyat, itu namanya itsar. Sungguh luar biasa Islam itu

Saya dalam sebuah seminar dengan gereja-gereja. Kalau orang Islam masjidnya dibakar satu, maka punya hak untuk membakar satu gereja, bukan lima. Tapi kalau orang Islam memaafkan, tidak membakar gereja, itu namanya orang Islam yang ihsan. Apalagi kalau membantu membangun gereja, itu namanya itsar.

9391781796_b7a7998ac7_z

Ini perilaku Rasulullah dan para sahabat. Walau punya roti satu, di kala ada orang yang lebih membutuhkan, maka roti itu dikasih. Ia punya beberapa butir kurma, kalau toh ternyata ada orang yang lebih membutuhkan itu dikasih kepadanya, itu namanya itsar. Sangat luar biasa dan sesungguhnya inilah mudah-mudahan ke depan kita mempunyai presiden, menteri, gubernur, perangkat dan rakyatnya yang juga itsar. Kalau semua itsar, tidak akan ada demo karena semua mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri.

Dari Tausiyah Ramadan di kediaman Ketua DPR RI/ Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI, Dr. Marzuki Ali (25/7/ 13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s