Konsep Islam tentang Negara

P1250242EDIT

KH. Masdar F Mas’udi (Dewan Penasehat ICMI Pusat)

Kita semua mesti bersyukur, Indonesia sebuah negara Islam terbesar di dunia masih diberi keutuhan, dan insya Allah masih akan terus demikian. Rasa persaudaran sesama bangsa juga insya Allah masih cukup kuat. Kita harus bersyukur, ketika kita membandingkan dengan suasana dan kondisi di negara-negara Islam yang lain di seluruh dunia, mulai dari Afrika, bagian barat, Afrika Selatan, kemudian Negara-negara Timur Tengah, Asia Selatan Timur.

 

Ukhuwah Islamiyah

Indonesia merupakan negara Islam terbesar dengan kebhinekaan yang tak terhingga. Kalau negara-negara lain relatif homogen. agamanya mayoritas mutlak Islam. sukunya pun paling 1-2 bedanya,Arab dan Kurdi. Tapi di Indonesia ada ratusan suku dan terpisah dalam pulau yang juga banyak jumlahnya, ribuan. Belum lagi tradisi dan bahasanya.

Kita masih merasakan kuatnya persaudaraan jika dibanding  dengan yang terjadi di negara-negara Islam yang lain. Padahal Indonesia adalah Negara yang paling jauh dari pusat Islam di Arab Saudi sana. Tapi kerekatan Islam justru yang paling kuat di sini. Ini kenikmatan anugerah yang luar biasa.

Bapak dan Ibu sekalian, rahima kumullah, kita tidak tahu kerekataa ini karena apa. Tapi wasilah kesepakatan para pendiri bangsa yang waktu itu juga bhineka agama dan sukunya, tapi tetap memiliki satu cita-cita yang sama dan tunggal, yaitu Indonesia merdeka yang melindungi segenap tumpah darah, apapun agama dan sukunya.  Dan tentu saja yang paling luar biasa adalah kesediaan umat Islam untuk menyetujui prinsip itu. Padahal umat islam adalah mayoritas yang mutlak. Kalau dbanding dengan yang terjadi di negara lain, umat islam akan menuntut, dan itu mudah untuk secara formil negeri ini disebut sebagai negara Islam. Sekali lagi, ini anugerah dari Allah SWT.

Meski secara eksplisit tidak disebut sebagai negara Islam, dan ini pernah menjadi ganjalan yang cukup kuat, sensitif, dan panjang, tapi akhirnya tidak. Kalau kita buka dalam fiqih-fiqih siyasah,  fiqih tentang ketatanegaraan, kita memang memerlukan satu landasan yang cukup kokoh. Istilah negara Islam apakah dalam kata  ‘daulah islamiyah’, ‘darul islam’, ‘hukumah al islamiyah’, tidak ada satupun dalam teks Al Qur’an, juga teks hadis yang sahih.  Istilah itu baru muncul dalam teks-teks para ulama abad ke-4 hingga kini. ‘Darussalam’ memang ada, artinya; negeri damai . Dipakai Brunei  untuk itu cita-citanya negeri damai. ‘Darussalam’ dalam Al Qur’an ada tapi maknanya surga. Ya Allah masukkanlah kami semua ke surga negeri damai. Tapi tidak ada istilah darul Islam  by term, dalam teks primer maupun sekunder. Jadi bisa saja dikatakan, kalau pakai logika sederhana, cita-cita untuk mendirikan darul Islam itu bid’ah, karena tidak ada rujukannya, dan itu sesungguhnya bi’dah sayyiah.

P1250221EDIT

 

Pancasila

Jadi ini yang kita terima dari para pendiri bangsa untuk negeri ini. Maka lupakan soal label, karena memang tidak ada dasar teksnya. Sementara kita lihat pada substansi prinsip-prinsip dasar yang lima, dalam fiqih terkenal yang namanya ‘Al Mabadi Al Khamsah’; prinsip dasar yang lima. Kita sebagai bangsa juga  punya prinsip dasar yang lima. Pertama, Ketuhanan; kalau dibaca dalam teks aslinya,  pancasila itu indonesia, kemudian bisa disebut sekuler. Tapi Ketuhanan yang Maha Esa itu apa kalau bukan tauhid? Tidak ada makna lain. Tapi memang sila pertama tidak disebut tauhid. Padahal sama saja. Kalau umat Islam boleh menuntut untuk disebut tauhid, tapi itu berarti tidak bisa ngemong perasaan satu bangsa. Toh islam  tidak mempertaruhkan diri pada bahasa tapi kepada substansi.

Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Memang itu bahasa indonesia, meski sebenanrya ‘adil’ dan ‘adab’ juga dari bahasa Arab. Tapi prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab itu sungguh islami.  karena menjunjung tinggi kemartabatan manusia. Siapapun mereka, apapun agamanya, yang penting ada kemanusiaan di sana. Dalam Al Qur’an jelas; wa laqad karamna bani adam; ‘sungguh telah aku muliakan anak cucu adam’,  siapapun mereka suku, warna kulit, bahasa dan agama.

Ketiga, persatuan Indonesia.  Peratuan adalah ukhuwah. Para kiyai di pesantren menyebutnya ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebangsa.  Ukhuwah itu jelas adalah ajaran agama kita, bukan mufaraqah, kebencian. Bukan sekadar bertetangga, tapi persaudaraan. Jadi sangat Islami. Keempat, permusyawaratan, dsb.  Ini jelas sekali juga dalam Al Qur,an, ketika bicara pemerintahan, hidup bersama, prinsip yang disodorkan dalam Al Qur’an adalah wa amruhum shura baynahum; hendaklah urusan orang banyak diputuskan melalui musyawarah antar mereka. Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. wa idza hakamtum bainan naasi antahkumu bil ‘adl.  ‘Jika kamu memerintah antar manusia  maka memerintahlah dengan dan untuk keadilan’.

Ar Rahman dan Ar Rahim

Jadi seluruhnya ada dalam Al Qur’an. Tapi tidak dalam bahasa Arab. bahkan kalau kita lihat dalam fiqih siyasah,  teologi politik dalam Islam, sesungguhnya satu prinsip saja sudah cukup, yaitu keadilan. Juga dalam  kaidah fiqih siyasah, wajib hukumnya mendirikan pemerintahan negara yang berkeadilan. Jadi kalau  indonesia didirikan dengan satu prinsip keadilan saja, itu sudah cukup memadai, apalagi ditambah empat prinsip yang melandasinya. Hanya memang orang beragama selalu terpancang dan terjebak kepada bahasa, karena Tuhan turun melalui wahyu. Wahyu dalam bahasa. Bahasa pun disucikan sebagai sarana media agama, dan seolah bahasa wahyu itulah agama itu sendiri. Inilah keterjebakan yang disebut  dengan keterjebakan formalisme agama.

P1250232EDIT

Bapak ibu yang dirahmati Allah, kalau kita kembali ke sini, sebenarnya Indonesia  anugerah yang luar biasa. Kita dibimbing untuk mendirikan negeri yang luar biasa, kebhinekaan yang hampir tak terbatas, dengan mendapat hidayah untuk prinsip-prinsip hidup bernegara yang sangat Islami, meski sekaligus indonesiawi. Bandingkan dengan negara-negara Islam yang lain. Tidak ada yang hidup dalam kedamaian.

Jadi Indonesia ini mutiara bagi dunia Islam. Tapi kita tentu menggarisbawahi kekurangan yang tidak kalah substanstif. Secara formil, rumusan hitam di atas putih dan kesadaran kita untuk berbangsa Indonesia luar biasa. Tapi substansinya; untuk apa kita bernegara? Inilah yang masih harus kita perjuangkan dengan segala kesungguhan kita. Dalam Al Qur’an hanya ada satu tujuan bernegara yaitu keadilan.   wa idza hakamtum baina al-naas an tahkumuu bi al-‘adl. ‘Dan apabila kalian memerintah maka memerintahlah berdasarkan dan dengan keadilan….’ (an-Nisa: 59)

Problem kita sekarang memang problem substansi ajaran kita; keadilan, adalah prinsip yang tidak mengenal diskriminasi. Karena itu, dalam Islam sebenarnya penguasananya disebut khalifatullah dan negara adalah alat Tuhan. Maka negara alat tuhan sebagai yang mengasuh seluruh umat. Dalam asma ul husna dan  sangat populer kita mengenalnya, Allah sebagai ar rahman bukan ar rahim. Dua  sifat ini beda. Kalau  di pesantren  cukup jelas pembedaanya. Kalau kita memberi makna kepada ar rahman; tidak peduli apa agamanya Allah merahmati. Itu di dunia. baru Allah merahmati berdasarkan iman itu nanti di akhirat dengan rahim NYA.

Tapi kalau dengan rahmatnya Allah merahmati seluruh makhlu. Buktinya, Allah tidak melarang dunia diinjak oleh orang kafir. Orang tidak pernah menyuruh bumi untuk memberontak ketika diinjak orang beragama lain.  Allah juga membiarkan air direguk oleh orang beragama apapun. Padahal Allah berkuasa membuat air menolak masuk ke mulut.  Begitu juga udara, dibiarkan dihirup segenap makhluknya apapun keyakinannya.

Negara ini adalah khalifah Allah sebagai ar rahman. bukan sebagai ar rahim. Kalau ar rahim  kepada orang beriman. Ar rahim hanya berlaku nanti di akhirat. Maka negara adalah khalifatullah sebagai ar rahman.  Negara tidak boleh mengintervensi apalagi menghakimi keyakinan orang. Allah pun tidak menghakimi. kenapa kita ikut menghakimi seolah kita lebih  kuasa daripada Tuhan. Biarlah hukum berlaku tapi terhadap perilaku yang bersifat dhahiriyah. Siapapun dia, kalau salah dihukum. apapun agamanya, mski sangat Islam. Sebaliknya yang tidak beragama sama dengan kita,  kalau dia benar, kita harus memberi hukum benar. Inilah rahman Allah. Jangan sampai kita keliru bahwa sultan penguasa adalah khalifatullah. Lalu kita anggap  Allah akan menghakimi iman seseorang. Betul, tapi bukan di dunia, di akhirat dengan rahim NYA. Maka dalam Al Qur’an ada kalimat  wa kanallahu bil muminina rahima. Allah maha rahim kepada orang beriman.

Inilah sesungguhnya hidayah yang diberikan oleh para pendiri bangsa ini, prinsip dasar hidup bernegara untuk seluruh makhluk Allah di muka bumi Indonesia, apapun agamanya. Sekarang tinggal bagaimana kita berkompetisi dengan sehat. Kalau umat Islam ingin leading, dominan, ya harus dengan kualitas bukan provokasi. Secara fair saja. prinsip fastabikhul khairat. Sekali lagi, meski masih banyak kekurangan tapi kita merupakan satu  negara yang insya Allah  negara muslim terbesar kebhinekaan akan bisa bertahan. Kalau negeri ini bisa bangkit dengan kemuliaan, kemakmuran, keadilan, negara-negara Islam lain boleh ittiba kepada kita, dan akan mendapat keberkahan serta wibawa dari indoensia.  Ini anggungjaab kita bersama. Pemlihan presiden ini mudah-mudahan confirmed sejalan dengan cita-cita membangun Indonesia yang adil, makmur dan berwibawa, karena sekali lagi prinsip-prinsip kemanusiaan yang kita junjung tinggi.

Dari tausiyah Ramadhan di kediaman Ketua Presidium ICMI, Drs. Priyo Budi Santoso, Senin, 30 Juni 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s