Prestasi Puasa

P1250705EDIT

Dr.Mohammad Nasih, M.Si ( Dewan Pakar ICMI Pusat)

 Tujuan puasa kita adalah untuk mencapai takwa. Namun ternyata banyak di antara kita yang keliru memahami puasa. Berdasarkan penelitian kecil-kecilan, bukan menjustifikasi, berdasarkan pesan singkat  yang masuk, biasanya yang saya terima adalah: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Al Baqarah: 183).

 

Proyek Nyaris Gagal

Padahal sesungguhnya puasa kita bukan yang dimaksud dalam ayat tersebut Itu adalah puasa awal para sahabat, yang bisa dsebut dalam istilah organisasi, ‘proyek yang nyaris gagal’, Banyak sahabat yang tidak kuat karena sehari semalam penuh. Sehingga ada beberapa sahabat yang tidak kuat. Dijelaskan ayat selanjutnya;

[yaitu] dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan [lalu ia berbuka], maka [wajiblah baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari- hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya [jika mereka tidak berpuasa] membayar fidyah, [yaitu]: memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan [2], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah: 184)

Jadi, saat itu puasanya bukan seperti sekarang yang wajib seratuspersen. Tapi wajib di sini pilihan; yang kuat puasa silakan, dan silakan juga tak berpuasa yang penting bayar fidyah.  Ternyata, tujuannya bertakwa, tapi puasanya pilihan. Ada mekanismenya, kalau sudah buka puasa habis  maghrib sampai isya. Kemudian tidur maka harus puasa lagi sampai besok. Puasa wisol.  Banyak sahabat yang gagal.

Misal, Kasusnya  Qais bin Shirmah, dia adalah petani dengan pekerjaan berat. Usai bekerja, dia pulang bertemu istri, bertanya kita punya untuk berbuka. Karena belum punya, istrinya keluar mencari makan. Ketika istirnya pulang, sang suami tertidur. Setelah bangun, ia tidak bisa berbuka karena harus puasa kembali hingga besok. Akhirnya Qais pingsan karena tidak kuat dan gagal berpuasa.

Ada lagi seeorang sahabat, usai berdiskusi dengan Rasulullah dan berbuka, ia pulang, mendapati istrinya sudah tidur. Padahal dia ingin berhubungan intim.  Setelah sang istri bangun, sahabat tersebut bilang kepada istrinya, karena mungkin birahinya sudah tinggi, benar kamu sudah tidur? Sepertinya belum. Berdebatlah keduanya. Akhirnya batallah puasanya. Maka hal tersebut dilaporkan ke Nabi, banyak sahabat yang gagal menghadapi puasa. kemudian turun Al Baqarah ayat 185. Bahwa puasa kita adalah puasa yang lebih ringan,  karena puasa sehari saja.

Sesungguhnya, ayat yang paling pas untuk puasa kita adalah:

[Beberapa hari yang ditentukan itu ialah] bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan [permulaan] Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara yang hak dan yang bathil]. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir [di negeri tempat tinggalnya] di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan [lalu ia berbuka], maka [wajiblah baginya berpuasa], sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari- hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al Baqarah: 185)

Melangkahi satu ayat, dijelaskan lebih lanjut:

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [datang] malam, [tetapi] janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf [1] dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (187)

P1250715EDIT

Beriman, Beramal Saleh, Menjauhi Larangan

Saya ingin menekankan kembali kepada tujuan berpuasa. Kalau awalnya puasa sehari semalam itu dirasakan berat. Maka ketika turun ayat 185 & 187,  puasa dikerjakan hanya sehari. Tujuannya ternyata sama yaitu menuntun kita kepada takwa.

Sekarang  kita definisikan  arti ‘takwa’. Orang yang diminta berpuasa agar bertakwa adalah mereka yang beriman.  Orang beriman belum tentu bertakwa. Orang yang beriman belum tentu beramal saleh. Letak perbedaan antara umat islam dengan kaum humanis Barat ada  di sini.   Bahwa islam sangat menekankan iman dan amal saleh. Iman tanpa amal saleh  samadengan tidak beriman sama sekali.  Amal saleh tanpa iman samadengan tidak beramal sama sekali.

Memang ayat yang menyebut hal ini tidak banyak. Kalau ayat mengenai ‘iman tanpa amal saleh’ banyak. Misal surah al Ashr, jelas dan sering dibaca. Masalahnya ada beberapa ayat yang jumlahnya tidak lebih dari belasan. “Celakanya” ayat  tersebut ada di halaman tengah Al Qur’an. Kita di awal puasa semangat mengaji, baru sampai juz 15 sudah malas. Padahal ayat yang menjelaskan tentang ‘amal tanpa iman sama dengan tidak beramal samasekali’ ada di juz 18. Akhirnya tidak pernah terbaca..  Kalau belajar tentang humanisme Barat, mereka baik jadi tidak beriman tidak mengapa. Namun konsep Al Quran tidak seperti itu. Beramal saleh tanpa beriman itu samadengan tidak beramal sama sekali,  Al Quran menjelaskan ini luar biasa indahnya:

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya [ketetapan] Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya [1]. (An Nur: 39)

Al Qur’an memang kitab suci yang sangat puitis.Dalam tanah datar,  orang sedang dahaga menduga ada air padahal tidak ada. Sehingga ketika orang kafir itu menduga dia telah beramal baik dan nanti bermanfaat bagi dirinya Tapi nanti di akhirat ternyata tidak ada apa-apa. Dia hanya menemukan Allah saja, yang saat itu akan menghisab perbuatan-perbuatan yang dilandasi bukan karena iman, justru dosanya jauh lebih besar. Maka tidak diperbolehkan, muslim yang melakukan perbuatan baik, tapi melakukan perbuatan baik bukan karena Allah, atau karena Allah tapi juga karena yang lain. Di siniah kemudian kita diperintahkan untuk beriman dan beramal saleh, diperintahkan puasa,  agar kita bertakwa.

Takwa sering diartikan sebagai menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Kesimpulannya, pertama, banyak orang beriman tapi tidak beramal saleh atau sebaliknya. Kedua, ada orang beriman dan beramal saleh, tapi melakukan perbuatan buruk juga. Karena yang diinginkan seperti di dalam Al Qur’an tidak sekadar itu. Jadi beriman dan beramal saleh adalah suatu prestasi. Dengan berpuasa kita dituntun lebih berprestasi lagi yairu beriman, beramal saleh, sekaligus menjauhi/ menghentikan perbuatan buruk.

Dari Tausiyah Buka Puasa Bersama di Kediaman Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI, Dr HC Zulkifli Hasan Kamis, 10 Juli 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s