CIRI PRIBADI MUKMIN

 

P1290576--edit

Ketika Allah sebut kita sebagai orang-orang yang beriman. Kita bangga dan senang. Dalam Al Baqarah ayat 183, Allah sampaikan;  “wahai orang-orang yang beriman, kamu wajib berpuasa.” Kita digelari sebagai orang yang beriman. Pertanyaan kemudian, seperti apa karakteristik pribadi orang-orang yang  beriman itu? Kitakah itu? Menurut Ustad Syamsul Yakin, jawabnya ada dalam surah Al Anfal ayat 2-3. Allah sampaikan, minimal ada 5 ciri khas atau karakteristik pribadi orang beriman itu.

Pelopor di Masyarakat

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.  (QS.Al Anfal 2-3)

“Pertama, ciri khas  pribadi yang beriman adalah pribadi yang bergetarlah hatinya ketika disebut nama Allah. Bergetar dalam ayat ini bisa bermakna takut, gentar, suka, cinta, juga bisa bermakna rindu kepada Allah Swt. Mari kita tanya pada diri kita. Apakah ketika nama Allah disebut atau mendengarnya, kita bergetar?” tanya Ustad Syamsul kepada hadirin tausiyah usai berbuka puasa di Kediaman Ketua Dewan Kehormatan ICMI, Bapak BJ Habibie, Jakarta (26/6/15)

Inilah, lanjut Syamsul, hulu ledak keimanan yang begitu hebat, yang tidak hanya bertransformasi dalam kehidupan pribadi, tapi diharapkan, getaran ini bisa bertransformasi bukan pada kehidupan spiritual individuali, tapi jug bisa berselancar dalam papan sosial untuk perbaikan Bangsa dan Negara.

P1290570--edit

Kedua, sebut Syamsul, ciri orang-orang yang beriman adalah apabila dibacakan ayat-ayat Allah, bertambah imannya. Bertambah iman seseorang dapat dilihat, salahsatunya dari kemampuan seseorang membawa perubahan hingga buah keimanannya dapat dinikmat masyarakat.

“Apakah ketika Al Qur’an kita baca atau dengar, menambah keyakinan kita kepada Allah Swt? Kita makin cinta kepada keluarga, masyarakat, kepada bangsa dan Negara. Pribadi yang beriman diharapkan yang mampu menjadi pionir di masyarakat. Orang yang melakukan perubahan-perubahan di masyarakat. Keimanannya bisa dinikmati bukan hanya oleh dirinya sendiri tapi lebih jauh oleh masyarakat,” imbuhnya.  ‘

Selanjutnya, ciri orang yang beriman adalah pribadi yang tawakal, hanya bersandar kepada Allah. Ia berusaha bahkan begitu keras berusaha, senantiasa bekerja meningkatkan kinerja dan performa. Namun hasilnya dia sandarkan kepada Allah Swt.

Dalam bahasa lain, tawakal adalah pribadi yang berhasil men-nol-kan dirinya. Serendahrendahnya di hadapan Allah Swt. Semua yang ada pada dirinya semata karena Allah berikan kepadanya

“Dia tidak memiliki kekuatan. Semua hanya kuasa Allah Swt. Kekuatan yang Allah berikan kepada dirinya adalah kekuatan Allah yang disalurkan kepadanya. Selama ini kita kenal 0 sebagai lambang ketakterhinggaan. Angka berapapun ketika nol di depannya maka ia melambangkan ketakterhingaan. Allah maha tak terhingga. Allah maha perencana,” jelasnya.

Shalat Berdimensi Sosial

Yang Keempat, ciri khas pribadi yang beriman adalah, yang senantiasa menjaga shalat. Shalat yang bukan sekadar pengertian gerak refklektis motoris. Tapi shalat yang berdimensi sosial, dimulai dengan menggerakkan hati. Shalat, puasa, haji, zakat, adalah  sebuah proses mengaktivasi mata hati. Kalau semua anak bangsa diaktivasi mata hatinya, ia bisa menyamakan frekuensi dengan Allah Swt. Wudhu merupakan salahsatu cara menyamakan frekuensi.

 

P1290581--edit

“Wudhu salahsatu cara untuk menyamakan frekuensi kita kepada Allah yang Maha Suci. Maka kita harus bersuci. Ketika sudah bersuci diharapkan kita punya frekuensi yang sinyal-sinyal spiritual Allah bisa kita raih. Makanya, dalam bab Fiqih, wudhu, thaharah diletakkan pada bab-bab pertama. Kemudian bicara tentang shalat, zakat, puasa,” ungkapnya. Dengan berupaya menyamakan ferkuensi Allah. shalat tidak hanya bermakna ritual individual formal, tapi ritual yang bisa bertransformasi dalam kehidupan sosial.

Yang terakhir, tutup Syamsul, ciri khas pribadi yang beriman adalah mereka yang suka memberi. “Kita bangsa kaya, hanya kita kurang suka memberi. Kita lebih suka diberi dan meminta. Maka di Ramadhan ini disebut bulan berbagi. Kita sedang mengamalkannya,” pungkasnya.

Dalam rangka mempererat silaturahim di bulan suci Ramadhan 1436 H, Majelis Pengurus Pusat ICMI mengadakan acara Berbuka Puasa Bersama di kediaman tokoh-tokoh ICMI dilanjutkan dengan Silaturrahim dan Tarawih Keliling (Sitarling). Acara tersebut merupakan tradisi yang dilakukan ICMI pada bulan Ramadhan dengan maksud untuk meningkatkan ukhuwah sesama pengurus, anggota dan masyarakat.

Hadir dalam Sitarling kali ini Anggota Dewan Kehormatan ICMI Pusat Bapak Muslimin Nasution dan Bapak Akbar Tanjung,  Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat Bapak M. Hatta Rajasa, Dewan Pakar ICMI Pusat. M. Syakir Sula  serta Ketua Presidium ICMI Bapak Sugiharto dan Presidium ICMI Ibu Marwah Daud Ibrahim

One thought on “CIRI PRIBADI MUKMIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s