Faktor Kemartabatan Umat

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

| Masdar F Mas’udi | 

Dalam Al Quraisy disebutkan; Falya’buduu rabba haadzaa lbayt, Alladzii ath’amahum min juu’in waaamanahum min khawf.. (3) Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). (4) Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Ekonomi dan Keamanan

Ayat ini menarik untuk kita renungkan sejenak. Bagaimana Allah memberikan argumen tentang kelayakanNYA disembah. Pertama: Allah disembah karena  memberi makan. Pertama, alasan ekonomis. Dalam kehidupan nyata cukup terbukti siapun yang secara eonomi unggul, pada aspek kehidupan, insya Allah, yang lain akan unggul juga; politik budaya, dsb. Kedua, Allah disembah karena DIA yang memberikan jaminan rasa aman.

Ini yang perlu kita garisbawahi, terutama dalam merefleksikan kehidupan umat Islam sekarang. Dalam konteks pergaulan dunia, kehidupan umat Islam dengan umat lain, bahkan sesama umat sendiri. Kedua hal ini tidak kita miliki. Keunggulan ekonomi tidak, memberikan jaminan rasa aman juga tidak. Sebagian besar umat Islam ada di bawah garis kemiskinan. Hanya beberapa gelintir saja di atas garis kemakmuran.

Alih-alih memberi jaminan rasa aman, Malah sekarang menjadi sumber terorisme. Hanya beberapa negara, yang ketika ada orang Islam datang, pengungsi muslim, dicurigai kemudian diusir. Dua faktor kemartabatan ini tidak kita miliki. Keunggulan ekonomi tidak, keunggulan jaminan rasa aman juga tidak. Yang kita punya justru sebaliknya. Karena itu, kita harus bertanya dengan sangat keras kepada diri kita tentang mandat kita sebagai umat Islam, sebagai kuntum khairu ummah…  Maka seharusnya kalian menjadi umat yg terbaik. Namun kini dalam posisi yang sangat tepuruk. Mungkin sepanjang sejarah, di abad inilah yang paling meresahkan, dan kita merasa betul-betul tidak punya harga diri, ke mana-mana dicurigai. Kita tidak tahu sampai kapan posisi umat Islam seperti ini. Bagaimana kita “menagih” janji Al Qur’an bahwa kita adalah umat yang terbaik?

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ini sungguh merupakan pertanyaan yang sangat serius bagi kita semua. Kita tidak tahu dari mana kita mulai, dari bangsa mana kita mulai. Kita selalu memberikan posisi yang tinggi kepada umat Islam di Timur tengah karena lebih dekat dengan Ka’bah. Tapi kita semua tahu betapa porakporandanya di sana. dan kita hopeless terhadap mereka. Negara yang menjadi tuan rumah ka’bah pun menjadi kesulitan baik secara ekonomi atau keamanan.

Mandat untuk Umat

Tidak ada di antara 40-an negara Islam sekarang ini yang lebih banyak ditengok selain Indonesia, karena berbagai faktor. Pertama, negara Islam terbesar, tiga zona waktu, tidak ada yang lebih luas daripada Indonesia. Penduduknya terbesar di antara semua negara Islam. Insya Allah, kekayaan alamnya masih unggul dengan keanekaragaman sumberdaya ekonomi. Dan yang tidak kalah penting, Islam Indonesia menghayati kebinekaan sebagai suatu kodrat, sebagai sumber keindahan ciptaan Allah dan ini tidak ada tandingannya. Semua agama besar ada di Indonesia. Bahkan agama-agama lokal yang tidak ada di negara lain, di sini begitu berjibun, banyak sekali. Tapi kita menyaksikan mukjizat yang luar biasa, Negeri yang sedemikian luas, plural, baik secara sosial maupun geografis, kok bsia bertahan? Ini luar biasa. Ini mukjizat.

Ini merupakan satu mandat bagi kita, umat Islam, untuk makin bergairah membuktikan keunggulan Islam melalui Indonesia. Kita negara Islam terbesar, 80%, bahkan pernah 90% umat Islam. Tapi kita juga menghayati kebinekaan agama dijamin di sini. Kita tidak minder dengannya. Kehadiran agama-agama lain, baik yang langit maupun bumi. Inilah kodrat. Takdir Allah. Allah memang menciptakan kebinekaan ini. Ini dengan rencana Allah.

Insya   Allah, kekayaan alam, keindahan yang masih luar biasa dan bisa dkapitalisir untuk meningkatkan ekonomi kita masih tersedia. Kalau Indonesia tidak berhasil menampilkan diri sebagai pemimpin peradaban Islam, kita menyalahi janji Allah sendiri. Blok-blok peradaban di Dunia yang berusia panjang hanya yang berlandaskan keyakinan transenden. Kalau sekularistik ateistik bisa tampil tapi usianya pendek, seperti peradaban komunisme, tidak sampai satu abad. Peradaban-peradaban yang berbasis keyakinan transenden, berusia paling muda, Islam, hampir satu setengah milenium.

Di Barat, ada Judeo Christinaisme, di Cina, bagaimanapun juga, ada tuhan di  sana meski dalam konsep yang sudah kabur, melalui Konfusianisme, Budhisme. Begitu juga India, ada tuhan di sana, meski bisa berbeda konsep. Ada dunia Islam dengan tuhan yang secara konseptual lebih jelas. Blok-blok peradaban berbasis keyakinan transenden inilah yang masih bertahan lebih dari satu setengah milenium. Islam yang paling muda. Blok peradaban itu hanya bisa bermain kalau ada centeng, ada negara adidayanya. Kalau tidak, tidak ada imamnya, tidak bisa diperhitungkan. Barat ada Amerika, Budhisme ada Cina, Hindduisme ada India. Islam mana? Kalau tidak ada satu negara di antaraa negara-negara Islam yang tampil sebagai the Leader, yang memiliki keunggulan secara ekonomi, budaya, maupun geografis, demografis, Islam tidak akan pernah dihitung.

Jadi Islam bukan hanya untuk Indonesia. Islam Indonesia adalah untuk Dunia. Ini tanggungjawab kita semua. Tentu saja keunggulan-keunggulan itu harus dicapai melalui berbagai aspek. Saya setuju, yang sangat penting itu ekonomi, dan berbagai konsep sudah mulai muncul. Kita pun harus bisa segera menangkapnya dalam waktu singkat. Kalau tidak, Islam akan runtuh, dan peradaban Islam akan raib dari alam semesta, naudzbillah.

Dari tausiyah Bulan Ramadhan, Gedung Menara 165, Jakarta, 10 Juli 2016  

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s