Kehanifan Yang Terbuka

WhatsApp Image 2016-08-08 at 1.01.48 PM

[ Din Syamsuddin, Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI Pusat ]  

Menarik disebutkan pada 2050 angka umat Muslim sudah mendekati jumlah umat Kristiani. Kalau secara prosentasi mereka sekarang 33, akan turun menjadi 30. Islam yang sekarang sekitar 23% akan mendekati sekitar 30-31%. Walau ada yang menyebutkan Indonesia tidak lagi menjadi Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, terkalahkan India yang akan mencapai 300 juta, diikuti Pakistan. Indonesia di nomor 3 nanti. Apakah muslim India dan Pakistan membiasakan poligami? Sementara di Indonesia lebih banyak: fa-in khiftum allaa ta’diluu fawaahidatan… [4:3] yang di terjemahkan: “jika kamu penakut”, maka jadilah kita orang-orang yang takut; ada keinginan namun tidak ada keberanian. Di antara yang hadir ini senang membicarakan itu tapi tidak ada keberanian.

Saatnya Muslim Melayu

Peran dan kontribusi dunia Islam sangat minim dalam bidang ekonomi. Saat ini kurang dari 7% kontribusi dunia Islam terhadap ekonomi global, sementara angka demokratisasi 23%. Sumber daya alam dunia Islam sangat banyak, namun tidak dapat dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat, seperti diamanatkan Pasal 33 UUD 1945. Apalagi di bidang ilmu pengetahuan, jumlah ilmuwan Islam juga sangat terbatas. Dulu Iran, Pakistan, Mesir, Turki, memiliki banyak ilmuwan. Tapi sekarang terjadi brain drain; banyak berada di luar dan kurang memberikan pengaruh balik ke kampung halaman masing-masing, terutama untuk membangun dunia Islam.

Berkaitan dengan ini, dapat disimpulkan, kebangkitan dunia Islam akan sulit terjadi sebagaimana yang didengungkan di awal Abad 15 Hijriyah. Secara teoritis juga sukar kita simpulkan, dunia Islam akan menjadi kekuatan alternatif untuk memegang estafeta supremasi peradaban dunia dengan dekadensi yang dialami Barat dewasa ini. Namun, yang jelas sudah di depan mata, sebagai penerus dari pemegang supremasi peradaban dunia itu, justru berada di tangan Asia Timur. Ada gejala emerging of East Asia, terutama dengan the rise of China. Indonesia juga berada di kawasan itu. Mudah-mudahan nanti pada abad yang akan datang, dari utara akan turun ke selatan, itulah Indonesia.

Saya pernah berbicara dengan Pak Lah waktu beliau menjadi perdana menteri Malaysia. Menarik beliau sampaikan, inilah saatnya Muslim Melayu untuk bangkit karena Muslim Arab sudah menunaikan tugas kesejarahannya, Muslim Persia juga sudah menunaikan tugas peradabannya, pun Muslim Afrika Utara. Muslim India dengan dinasti Mughal dulu sudah. Tinggal yang belum adalah Muslim Asia Tenggara. Termasuk Fazlur Rahman sudah memproyeksi kebangkitan di Abad 21 ini dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia, terutama dari sudut ketersediaan infrastruktur peradaban; pendidikan dan intelektualisme yang memadai yang ada di Indonesia, juga Malaysia, Tapi ini proyeksi beberapa tahun lalu yang kini  kelihatan agak menjauh dari kenyataan.

WhatsApp Image 2016-08-08 at 1.01.45 PM

Konsumtifisme Ramadhan

Karena itu, paradoksal yang kita saksikan, baik pada skala nasional maupun global, termasuk dalam suasana Ramadhan ini, umpama saja yang di depan mata, luar biasa konsumtifisme Ramadhan. Saya membaca dan mengikuti, mungkin ada di sini dari BPS, bahwa konsumsi rakyat Indonesia selama Ramadhan meningkat hampir duakali lipat, di dalamnya mayoritas Muslim. Konsumsi makanan dan minuman termasuk pakaian, dsb. Kenapa paradoks? Konsumtif ini bertentangan dari pesan Ramadhan itu sendiri, yang secara esensial: imsyak, menahan diri, sebagai proses ujung adalah pola hidup sederhana. Pola hidup yang moderat, pola hidup tengahan, sebagaimana watak Islam sebagai agama tengahan.

Termasuk hari ini, makanan jauh lebih enak, mahal, daripada sehari-hari. Rupanya umat  Islam selama Ramadhan hanya mengganti jadwal makan dari tigakali menjadi duakali yang bobotnya bertambah duakali. Maka sebenarnya menjadi empatkali, terutama di waktu antara buka puasa dan sahur. Saya tidak  tahu secara jasmaniah kita makin ramping atau gemuk selama Ramadhan. Yang agak berhemat selama Ramadhan itu ahli hisap.

Paradoks yang kedua, ada watak Islam yang sering disebut dinul rahman wa salamah. Rahmatan lil ‘alamin. Nabi Muhammad menjelaskan, watak Islam yang disebutkan dalam hadis yang kurang banyak kita dengar, sebut, dan dikutip para mubaligh, berbunyi: inna ahabad din ilallah al hanifi yatus samha… sesungguhnya keberagamaan yang paling disukai Allah yaitu kehanifan yang terbuka. Yang berlapangdada, tenggangrasa. Kehanifan yang terbuka ini, kalau kita dalami Islam lebih lanjut, bersama agama-agama samawi lain: Yahudi dan Nasrani, berada dalam rumpun agama Ibrahimi, Abrahamic Religion, adalah watak dari agama Ibrahim. Kalau kita rujuk kepada Nabi Ibrahim as, di. di dunia ini hanya satu universitas tertua milik Kristen di Kyoto; Doshisha University, dengan Pusat Studi Agama Monotesime; Center for the Study of Monotheistic Religion. Saya beberapakali diundang ke sana dan pernah ada simposium tokoh-tokoh Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Kembali, watak Islam yang menekankan kehanifan, kalau kita telusuri dalam kamus, hanifiyah adalah kecenderungan kepada kebenaran. Commitment and enggagement to the truth. Maka itulah doa Nabi Ibrahim dalam Iftitah. Ibrahim sebagai sosok muslim hanif. Perhatikan, menarik ternyata di ujung shalat kita, ketika duduk tahiyat terakhir, Ibrahim kita munculkan lagi. Sepertinya shalat formal Muslim umat Islam itu diawali dengan komitmen kepada kehanifan Ibrahim AS dan diakhiri kehanifan Ibrahim pula. Maka, di antara itu adalah elaborasi penjabaran dari komitmen Ibrahim yang hanifan, al hanifiyah. Komitmen kepada kebaikan dan kebenaran. Pokoknya kalau sudah menyangkut kebenaran, jangan banyak tanya. Ini bisa diterjemahkan dalam banyak hal. Ibu-ibu, begitu kata al Qur’an sami’na wa atha’na, para politisi begitu kata al Qur‘an sami’na wa atha’na, jangan banyak diskusi, bukan pokok bahasan kalau menyangkut kebenaran agama.

Rasulullah Saw menyampaikan; “hakikat agama itu kehanifan yang terbuka”. Ini saya pahami secara internal, kita punya komitmen; dzalikal-Kitabu la raiba fih Hudal-lil muttaqin [QS 2:2]. tidak ada keraguan, kompromi, dan toleransi. Sekarang sedang beredar, trending topic tentang toleransi. Apa maksud toleransi itu? Ini bukan wilayah toleransi [kebenaran Islam-red]. Tapi ekpresi, aktualisasinya dalam konteks kehidupan majemuk, kehidupan bersama itulah yang assamha. Karena itu lakum dinukum walyadin tegas. Itu al hanifiyah, tapi harus membawa kita untuk hidup berdampingan secara damai,  ko-eksistensi, ko-habitasi. Itulah  kerukunan sejati.

Disampaikan dalam tausiyah menjelang berbuka puasa di kediaman Ketua Dewan Pakar ICMI, Zulkifli Hasan [17/6/16].

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s