Makna Cendekiawan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

[ Quraish Shihab, Dewan Kehormatan ICMi Pusat ]

Saya ingin menyampaikan beberapa hal berkisar tentang ICMI; ilmu dan teknologi, iman dan taqwa, serta cinta. Pertama, ketika ICMI baru terbentuk dari Malang, kita ke Jakarta berkumpul dengan teman-teman membicarakan ICMI. Salahsatu yang dibicarakan dan dipertanyakan adalah kalau kita merujuk ke Al Qur’an mana ayat yang menunjuk fungsi ICMI? Mana ayat yang berbicara tentang cendekiawan?

Saripati

Yang menunjuk cendekiawan muslim dalam Al Qur’an adalah kalimat ulul albab. Bukan alim, bukan orang yang memiliki pengetahuan. Bukan hakim; orang yang bijaksana. Bukan juga faqih; orang yang faham. Ulul Albab. Ulu itu bentuk jamak: pemilik. Bentuk tunggalnya; ala. Albab juga berbentuk jamak. Bentuk tunggal: Lubb; sari pati. Ada kulit, isi, dan biji. Kalau baru mengetahui kulit, belum tentu Anda ketahui isinya. Kalau sudah mengetahui isinya, masih kurang, Anda harus mengetahui bijinya. Cendekiawan ialah yang mengetahui inti permasalahan, bukan cuma kulit dan dagingnya.

Pernah suatu ketika datang serombongan sahabat Rasulullah bertanya kepada istri Beliau. Wahai Aisyah, sepanjang hidupmu dengan Rasulullah, apa yang palin mengesankan kamu? Aisyah menjawab, semua dari Rasulullah mengesankan. Tapi kalau saya harus menyebut satu, saya akan ceritakan kepadamu. Suatu ketika, pada malam giliranku, Rasul berkunjung ke kamarku, berbaring di sampingku, kulitnya menyentuh kulitku. Lalu Beliau bertanya, bahkan tidak bertanya, beliau sebenarnya meminta izin: “Aisyah, bolehkah aku menghadap dan beribadah kepada Allah dan meninggalkanmu sendirian di pembaringan?” Apa jawab Aisyah? Wahai Nabi sebenarnya aku rindu kepadamu. Aku senang engakau bersamaku. Tapi aku lebih senang, menyenangkanmu daripada menyenangkan diriku. Saya izinkan engkau.

Maka Aisyah berkata; saya lihat Beliau pergi mengambil wudhu sangat indah. Tidak lama kemudian Beliau menangis, membasahi jenggotnya, terus membasahi dadanya. Setelah selesai Beliau datang. Saya bertanya, apa yang terjadi wahai Nabi? Beliau menjawab tadi malam turun kepadaku: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS 3 : 190). itulah cendekiawan. Siapakah cendekiawan? “Rabbana ma khalaqta hadza bathila subhaanaka faqinaa ‘adzabannaar”: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka.. (QS 3 : 191)

Cendekiawan, menurut ayat ini, punya dua fungsi utama: zikir dan pikir. Itu yang dipopulerkan ICMI. Zikir kita lihat; Alladzina yadzkurunallaha qiyaman wa qu’udan wa ‘ala junubihim; “orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau berbaring”. Ketika ada kegiatan yang sengaja dilakukan, dia berzikir. Kalau ada kegiatan yang terjadi tanpa kontrolnya: bersin, ia berzikir. Kalau ada sesuatu di luar dirinya, yang terlihat atau terdengar guntur, ia berzikir. Zikir itu kerja kalbu. Zikir itu mengingat dan mengucapkan. Kalau anda mengingat sesuatu, anda terdorong untuk mengucapkannya. Kalau anda mengucapkan sesuatu itu mendorong orang lain untuk mengingatnya. Kalbu itu tempat iman. Kalbu itu yang merasa.

Kedua, pikir. Pikir dalam bahasa Al Qur’an bukan akal. Pikir itu asal kata berarti mengorek, mengupas, dan tertuju kepada alam materi.,alam raya. Jangan  berpikir tentang Allah, berpikir tentang nikmatNYA, ciptaanNYA. Kalau anda berpikir tentang Allah, anda tidak akan tahu. Itu sebabnya Allah dinamai Illah. Dari segi bahasa berarti sesuatu yang menakjubkan dan mmebingungkan. DIA menakjubkan, kalau anda lihat ciptaaNYA. DIA membingungkan kalau anda membahas zatNYA. Itu bukan kerja pikir. Itu kerja zikir, Dari sini ulama-ulama berkata, Islam datang menggabungkan antara zikir dan pikir, antara akal dan kalbu. Ada orang berkata, orang Barat lebih banyak mengandalkan pikir. Descartes berkata; saya berpikir sehingga aku ada.  Orang Timur banyak mengandalkan perasaan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Daya-daya Manusia

Ada yang berkata, Alexander the Great dari Timur ke Barat sebenarnya berusaha  menggabungkan antara rasa dan pikir. Tapi yang jelas, Islam  meminta kita memadukan antara zikir dan pikir,  kalbu dan akal, serta iman dan ilmu. Berbeda tapi keduanya dibutuhkan. Iptek menjadikan anda dapat cepat sampai ke tujuan. Tapi iman menentukan arah yang anda tuju. Iptek dan imtaq itu hiasan.  Iman hiasan kalbu dan Iptek hiasan pikir. Iptek dapat menyelamatkan anda dari petaka duniawi tapi iman menyelamatkan anda dari petaka ukhrawi.

Sangat mudah mengubah pandangan ilmiah anda, tapi sangat sulit mengubah keyakinan anda. Iman ibarat air bah dengan gemuruhnya tapi selalu menenangkan yang beriman. Ilmu seperti air telaga tapi seringkali mengeruhkan pikiran pemiliknya.  Cendekiawan menggabungkan keduanya. Saya telah melihat alam raya ini dan kerjanya. Saya mencapai kesimpulan, ini tidak diciptakan sia-sia. Pasti ada tujuannya. Baru dia berdoa untuk keselamatan: rabbana maa khalqta hadza bathilan subhanaka faqina adzabannar.

Akhirnya Allah menerima permohonan dan amalnya. Maka tidak cukup di hati dan akal. Gabungan keduanya harus ada amal: La uziu amala amil minkum min zakarin al unsa. “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh,  baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [QS 16: 97].

Amal itu ada empat; amal adalah penggunaan daya. Jika anda menggunakan daya, anda telah beramal. Tapi yang dituntut dari kita amal yang saleh. Yang mencuri beramal tapi bukan amal saleh. Saleh itu artinya yang bermanfaat dan sesuai. Boleh jadi ada yang bermanfaat sekarang, tapi belum sesuai pada waktu ini. Ada empat daya-daya manusia; daya pikir, gunakan daya pikir anda. Itulah yang menghasilkan iptek. Daya kalbu yang menghasilkan iman, dan rasa. Berulang-ulang al Qur’an menyebutkan; laa yasy’uruun: mereka tidak punya rasa/ mereka tidak ingat lagi.

Makin peka perasaan Anda makin berkualitas hidup Anda. Daya fisik. dengannya apabila kita latih dengan  baik akan mengagumkan sekali. Lihat pemain akrobat, golf, pemain bola. Semua dilatih daya fisiknya. Terakhir yang amat penting juga dalah daya hidup, menghasilkan kemampuan bersaing. Ada orang punya ilmu, iman, ketiga daya itu, tapi dia tidak berani bersaing. Daya hidup itu kemampuan untuk bersaing. Itu amal. Jadikan itu amal yang saleh. Itulah cendekiawan muslim.

Disampaikan setelah berbuka puasa dan menjelang shalat tarawih di kediaman Ketua Dewan Kehormatan ICMi Pusat, BJ Habibie [15/6/16]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s