Tiga Tausiyah Jelang Buka Bersama Wapres RI, M. Jusuf Kalla

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

[ KH. Ma’ruf Amin, Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat ]

PERBAIKAN BERKELANJUTAN

Majelis Ulama Indonesia punya 3 program besar yang ingin dikembangkan. Pertama, menjaga, memelihara, dan melindungi umat dari akidah dan cara berpikir yang menyimpang, menuju ahlaq yang lebih baik, selain mengurusi kehalalan. Karena itu, banyak kegiatan yang mengarah kepada penjagaan.

Satu Dalam Strategi

Kedua, memperbaiki umat. Khususnya di bidang ekonomi, dengan pemberdayaan, perbaikan ke arah yang lebih baik. Kalau di NU ada istilah menjaga yang lama, yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik. Tapi jangan salahsangka, yang lama tetap dijaga, jangan diartikan lain. Yang baru yang bagus, kreatif, dan lebih dinamis.

Yang lebih baik itu tidak statis,  karena itu, perbaikan ke arah yang lebih baik itu harus berkelanjutan. Maka kaidahnya: perbaikan yang lebih baik secara berkelanjutan. Kalau bahasa intelektual itu: continous movement. Ini bukan bahasa kiyai tapi pinjam. Ketiga, menyatukan umat. Bagaimana kita dengan perbedaan? Perbedaan tetap dipelihara, dengan toleransi. Karena itu, tidak boleh ada sifat ego kelompok. Kalau berbeda agama saja kita lakum dinukum walyadin. Demikian juga berbeda mazhab, partai, ormas. Tapi kita harus bersatu dalam masalah yang strategis.

Maka kita perlu kumpul hari ini menyatukan pada hal-hal yang strategis. Dalam masalah-masalah strategis menyatukan pendapat, pernyataan, dan gerakan. Siapa imamnya? Ini yang menjadi masalah. Imam secara personal, ada imam Muhammadiyah, Imam NU, Imam al Wasliah,dsb. Jadi imamahnya tidak personal, tapi imamah institusionaliyah, imamahnya kelembagaan saja. Untuk menjadi imamah institusionaliyah maka MUI sudah siap sejak kemarin.

************************************

WhatsApp Image 2016-08-09 at 1.17.25 PM

Jimly Asshiddiqie, Ketua Umum ICMI

DARI FORMAL KE SUBSTANSIAL

Insya Allah kalau di masjid kita bersatu semua, dan tidak ada NU, Muhammadiyah al Irsyad, kalau di masjid kita jadi jamaah, imamnya siapa yang lebih dulu datang yang cara membacanya fasih, itu kita jadikan imam. Jadi kalau Dewan Masjid, Majelis ulama dan ICMI sudah kolaborasi, maka  jadilah.

Pemimpin Islam

Kita bersyukur Islam semarak, di bulan Ramadhan, di mana-mana masjid penuh semua. Ini perkembangan yang terus menerus. Tahun lalu juga demikian. Tapi di lain segi kita juga harus mencatat, soal toleransi, tidak ada bangsa yang lebih toleran dari pada kita. Bangsa Amerika untuk mengharapkan orang Katolik menjadi presiden butuh dua abad: JFK. Untuk menerima orang setengah hitam jadi presiden butuh duasetengah abad. Karena masyarakat Amerika sejak awal dikonstruksi sebagai masyarakat Protestan. Kalau di Inggris baru seorang walikota Muslim, itupun baru abad ke 21. Kita di Kalimantan Barat, 55-60% Muslim, tapi 10 tahun harus dipimpin orang Katolik jadi Gubernur dan Protestan jadi Wagub. Kalimantan Tengah sepuluh tahun juga.

Kita juga mesti siap-siap. Ini sah-sah saja, meluas ke tempat lain. Mungkin itu tidak menyenangkan. Tapi kita harus siap andai memang terjadi. Boleh jadi ada hikmah di balik itu. Nanti keislaman umat akan berubah dari yang bersifat formal menjadi lebih substansial. Di situlah kita bisa beranggap kaum muslimin kita di negeri ini menjadi penyumbang bagi perkembangan peradaban Islam di kemudian hari, di mana antara agama Islam dengan perilaku nyata masyarakatnya matched. Sekarang ini belum. Jika kita menilai ukuran-ukuran ahlaqul karimah, lebih banyak dipraktekkan di Eropa dan Amerika.

Karena itu, kita harus mengkaji bagaimana ini, karena sistem yang kita pakai sekarang adalah sistem yang memberi kebebasan semua orang, dan kita tidak bisa menyalahkan umat yang makin lama makin krtis. Jadi, mumpung masih cukup waktu, kita harus antisipasi kemungkinan-kemungkinan, seandainya betul terjadi, kita harus terima. Karena sistem politik yang kita sepakati adalah pemilihan umum bebas. Tapi, lebih jauh kita juga perlu memikirkan ulang mengenai  strategi dakwah kita ke depan. Bagaimana kita tidak pernah mendengar jamaah, jamaah selalu menndegarkan kita. Tidak pernah ada interupsi di khutbah Jum‘at. Mungkin strategi dakwah ke depan harus dipikirulang, bagaimana kita lebih banyak mendengarkan audiens dan umat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Melayu Pusat Peradaban

Kedua, betul, salahasatu kekurangan kita soal persatuan. Kita tidak bisa bersatu secara formal. Maka perbanyaklah silaturahim seperti ini, dan kita sering bertemu begini. Ketiga, tetang pentingnya kita membangun Indonesia sebagai pusat peradaban Islam. Kita pelajari sejarah, semua bangsa Muslim besar sudah menyumbang dalam sejarah  peradaban umat Islam. Bangsa Arab, Persia, Swahili Afrika.  Baru sesudah abad ke 15, Afrika dimasuki pengaruh kolonialisasi Eropa, bangsa Turki, India. Tinggal bangsa Muslim Melayu yang belum. Alhamdulillah, Muslim Melayu yang terbesar sekarang di Indonesia. Sudah saatnya kita membawa Indonesia menjadi pusat peradaban Islam tatkala pusat prkembangan ekonomi dunia sekarang bergeser dari Amerika ke Asia. Prediksi Abad 22, Asia terutama cekung Pasifik, perwakilam dunia Islam ialah bangsa Muslim Melayu.

Jadi dunia sekarang melihat Indonesia, walau setoleran apapun, adalah negeri Muslim terbesar. Saatnya kita bergerak menjadikan Indonesia betul-betul pusat peradaban Islam masa depan. Tentu jangan menunggu India. Dalam 30 tahun ke depan, India pun merangkak akan menjadi negeri dengan penduduk Muslim terbesar dunia mengalahkan Indonesia. Jadi menurut prediksi para ahli, 30 tahun dari sekarang, negeri Muslim terbesar bukan Indonesia tapi India. Karena pertumbuhan kelahira orang Islamnya banyak sekali. Orang Hindu agak sedikit anaknya. Maka sebelum itu, kita sudah mantapkan posisi menjadi pusat perkembangan  pendidikan, ekonomi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tergantung bersatunya para tokoh, pemimpin ormas-ormas, jangan mudah diadudomba. Di tengah persaingan bebas, kini semua neoliberal, pasar bebas, market-driven, ekonomi maupun politik. Kalau nilai tadi kembali mengontrol pasar,  tunggulah kehancuran. Maka sekarang kita harus bersatu dalam masjid.

 ******************************

Haedar Nashir, Ketua Umum Muhammadiyah

MEMBEBASKAN DAN MEMBERDAYAKAN

Muhammadiyah sedang gencar mempromosikan Islam yang berkemajuan. Diawali dengan mencerahkan. Gerakan pencerahan ada 3 inti: Pertama, membebaskan Bangsa Indonesia, mayoritas umat Islam, dari dua hal: kebodohan melalui pendidikan, dan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi. Dari situ Muhammadiyah konsen dalam bidang pendidikan. Sekarang sudah berjumlah lumayan banyak, kita ingin peningkatan kualitas. Sekolah-sekolah dasar Muhammadiyah sudah bisa bersaing dengan sekolah kristen. Kita jadikan sekolah kristen sebagai ukuran karena bagus. SD di  Jawa Timur bisa menyaingi mutu dan kualitas sekolah kristen. Tidak lagi diejek orang. Sekarang dedang konsen untuk SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.

Ada orang mengatakan, karena sekarang Muhammadiyah sudah punya banyak perguruan tinggi, punya obsesi bikin pesantern seperti NU. Sedangan NU ingin punya perguruan tinggi seperti Muhammadiyah. Tapi yang terjadi di lapangan, begitu NU mendirikan perguruan tinggi, ujung-ujungnya jadi pesantren juga. Sementara Muhammadiyah bikin pesantren, ujungnya bikin sekolah juga. Rupanya memang sudah ada pembagian tugas antara NU dan Muhammadiyah.

Kita lihat sekarang, bangsa Indonesia, sebagian besar umat Islam, yang berpendidikan SD 60%, sarjana baru sampai 10%. Itu sudah meningkat, lima tahun lalu masih 7%. Bandingkan dengan negara-negara tetangga. Memang walau dalam Konstitusi, mencerdaskan bangsa itu tugas negara, tapi kita membantu. Jadi kalau negara membantu ya sudah seharusnya karena membantu dirinya sendiri.

Di Melbourne, saya lihat, meski di sini tidak harus begitu, pemerintahnya membuat kriteria kalau swasta bikin sekolah silahkan, dengan luas tanah, gedung, harus sekian, semua lengkap, dirikan. Kalau sudah berdiri, biaya operasional ditanggung negara. Kalau kita di sini harus mengajukan proposal dulu. Tapi tidak apa, kita maklumi karena kita negara gotong royong.

Kedua, setelah membebaskan, kita memberdayakan, terutama ekonomi. Kalau dibuat daftar 100 orang miskin, itu mesti 80% muslim. Tapi kalau dibuat 100 orang kaya, paling muslim hanya 3. Ketimpangan ini berbahaya. Kita ingatkan  Pemerintah harus hati-hati persoalan gap. Kalau dibiarkan terus, bisa kerusuhan sosial. Melayu itu sabar, tapi kalau sudah ngamuk, habis semua. Memang harus ada pemberdayaan. Kita dorong juga kampus-kampus Muhammadiyah supaya SPP bisa diturunkan kalau kampus juga punya usaha-usaha yang menghasilkan. Univetsitas buat hotel, spbu, taman kota. Kalau kampus punya pemasukan, biaya separuhnya tidak tergantung pada SPP, sehingga kita bisa bantu mahasiswa belajar.

Ketiga, memajukan. Muhamamdiyah mempelajari dari jaman KH Ahmad Dahlan, karena memang itu kata penting: menggembirakan dan memajuka., Jadi beragama harus gembira, ramah, jangan tegang dan marah-marah. Makanya dalam Muktamar Muhammadiyah, yang paling banyak penggembira. Muktamar satu abad  Muhammadiyah di Yogyakarta, satu juta orang hadir, peserta cuma 6 ribu, sisanya peggembira, tugasnya foto-foto, jalan-jalan, makan-makan, dan beli suvernir. Sebagian dai dan mubaligh tegang dalam ceramah, padahal rakyat kita musti dibikn gembira. Rasulullah pun mengatakan demikian: “Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari..” [HR Bukhari dan Muslim]. Jangan juga hanya gembira tapi terbelakang, kita harus damai, toleran, dan maju.

Rangkaian Tausiyah Menjelang Berbuka Bersama Wapres RI, M. Jusuf Kalla, 28 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s